Perdebatan mengenai tokoh Abdullah bin Saba kembali mencuat dalam sejumlah ceramah keagamaan dan diskusi publik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Nama ini sering disebut sebagai sosok yang diduga berada di balik perpecahan awal umat Islam dan kemunculan kelompok Syi’ah pada abad ke-7. Di balik riuh rendah tudingan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang memerlukan ketajaman analisis sejarah: siapa sebenarnya Abdullah bin Saba, kapan ia hidup, bagaimana pengaruhnya yang sesungguhnya dalam bentang sejarah Islam, dan mengapa narasinya masih terus diperdebatkan dengan intensitas tinggi hingga hari ini?
Dalam sejumlah ceramah populer, tokoh ini digambarkan dengan profil yang sangat spesifik: seorang Yahudi dari Sana’a, Yaman, yang berpura-pura memeluk Islam (munafik) demi merusak agama dari dalam. Ia dikisahkan menyebarkan provokasi politik yang sistematis dari satu kota ke kota lain, hingga memicu pemberontakan besar terhadap Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, yang berujung pada syahidnya sang Khalifah pada tahun 656 M. Narasi tersebut kemudian sering dijadikan "kambing hitam" atau penjelasan sederhana tentang munculnya badai konflik politik di kalangan generasi awal umat Islam, sebagai periode yang dikenal Fitnatul Kubra.
Namun, potret hitam-putih ini tidak sepenuhnya diterima tanpa celah. Sejumlah sejarawan dan peneliti hadis mulai mempertanyakan validitas serta anatomi kisah tersebut. Mereka menilai bahwa konstruksi cerita tentang Abdullah bin Saba sangat bergantung pada sumber-sumber sejarah tertentu yang kredibilitas transmisinya sendiri diperdebatkan di meja uji ilmiah.
Jika kita membuka kembali lembaran kitab sejarah klasik, seperti mahakarya sejarawan besar abad ke-10, Muhammad ibn Jarir al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, Abdullah bin Saba disebut sebagai "Ibnu ash-Sawda". Ia digambarkan sebagai agitator ulung yang berkeliling ke pusat-pusat peradaban Islam saat itu, seperti Kufah, Basrah, hingga Mesir.
Misinya hanya satu untuk menyebarkan gagasan radikal bahwa kepemimpinan Islam (imamah) seharusnya berada di tangan Ali ibn Abi Thalib melalui konsep wasi (penerima wasiat). Narasi ini juga secara langsung mengaitkan tokoh tersebut dengan kelompok pemberontak Saba'iyyah yang mengepung rumah Utsman ibn Affan. Menurut pandangan ini bahwa kematian Utsman bukanlah ledakan ketidakpuasan sosial, melainkan keberhasilan orkestrasi konspirasi yang dirancang oleh bin Saba.
Di Indonesia, resonansi kisah ini masih kuat. Sebagian penceramah menggunakan kisah ini untuk menjelaskan asal-usul konflik internal umat Islam agar mudah dicerna jamaah. Salah satunya adalah penceramah Indonesia, Khalid Basalamah, yang dalam beberapa kajiannya menyebut Abdullah bin Saba sebagai salah satu tokoh sentral yang memicu fitnah besar pada masa sahabat. Bagi kalangan yang menerima narasi ini, keberadaan Abdullah bin Saba dianggap sebagai "faktor eksternal" atau virus asing yang memperkeruh situasi politik di tengah umat Islam yang saat itu sedang berkembang pesat dan stabil.
Di menara gading akademis, tidak semua sejarawan sepakat dengan interpretasi tunggal tersebut. Banyak peneliti sejarah Islam modern menilai kisah Abdullah bin Saba terlalu disederhanakan dan tidak didukung oleh sumber yang kokoh secara metodologis. Titik lemah utama terletak pada rantai periwayatan.
Sebagian besar kisah tentang tokoh ini, terutama yang dikutip oleh Al-Thabari, berasal dari satu sumber utama, dari seorang perawi bernama Sayf ibn Umar al-Usayydi. Dalam tradisi kritik hadis (Ilmu Rijal), sosok Sayf justru menjadi titik lemah. Ahli hadis kaliber dunia seperti Yahya ibn Ma'in menyebut Sayf sebagai perawi yang lemah (dhaif). Sementara ulama hadis terkemuka lainnya, Ahmad al-Nasa'i, bahkan menjatuhkan vonis lebih keras dengan menyatakan bahwa riwayat Sayf "matruk" (ditinggalkan) dan tidak dapat dijadikan sandaran dalam menetapkan hukum maupun fakta sejarah yang krusial.
Peneliti sejarah Islam kontemporer mengemukakan hal serupa dengan kacamata sosiologis. Sejarawan Inggris, Bernard Lewis, dalam analisisnya menulis bahwa kisah Abdullah bin Saba kemungkinan merupakan upaya sebagian penulis sejarah di masa kemudian untuk menjelaskan "trauma" konflik politik internal umat Islam dengan menyalahkan faktor eksternal. Dengan menciptakan sosok antagonis tunggal, agar kerumitan konflik antar-sahabat menjadi lebih mudah diterima oleh perasaan keagamaan masyarakat awam.
Pandangan senada disampaikan oleh sejarawan Irak, Ali al-Wardi. Dalam bukunya Wu’az al-Salatin, ia menyebut bahwa konflik awal Islam lebih berkaitan dengan dinamika sosial, kesenjangan ekonomi, dan pergeseran struktur kekuasaan dari sistem kesukuan menuju kekaisaran, ketimbang sekadar konspirasi gelap satu individu.
Untuk melihat persoalan ini secara lebih luas, banyak sejarawan menilai konflik yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW lebih tepat dipahami sebagai proses dialektika politik yang sangat kompleks. Kita tidak boleh lupa bahwa pada saat itu, kekuasaan Islam berkembang dengan kecepatan yang mencengangkan. Dalam beberapa dekade saja, wilayahnya meluas hingga meruntuhkan dua superpower dunia: Kekaisaran Bizantium di barat dan Kekaisaran Sassanid di timur.
Pertumbuhan wilayah yang eksponensial ini membawa konsekuensi logistik, politik, dan ekonomi yang luar biasa besar. Masalah mulai muncul dari pengelolaan tanah taklukan, distribusi harta rampasan perang (ghanimah), hingga perebutan pengaruh antara elite Quraisy dengan suku-suku Arab di daerah pinggiran yang merasa terpinggirkan secara ekonomi.
Tragedi seperti Perang Jamal dan Perang Siffin menunjukkan bahwa pertentangan di antara para elite politik Muslim saat itu melibatkan ijtihad politik yang berbenturan. Sebagian sejarawan menilai konflik tersebut lebih berkaitan dengan persoalan legitimasi kekuasaan, keadilan distributif, dan kepentingan faksi-faksi politik, bukan semata-mata akibat provokasi satu orang asing yang tiba-tiba muncul di panggung sejarah.
Menariknya, jika kita menengok ke dalam literatur internal Syi’ah sendiri, Abdullah bin Saba tidak dianggap sebagai arsitek atau tokoh penting dalam pembentukan mazhab tersebut. Justru, mayoritas ulama Syi’ah klasik hingga modern menolak keberadaan maupun ajaran yang dikaitkan dengan tokoh ini.
Dalam berbagai literatur mereka, seperti Rijal al-Kashshi, disebutkan bahwa jika pun sosok ini benar-benar ada, ia adalah seorang ekstrimis (ghulat) yang dikutuk oleh Ali ibn Abi Talib sendiri. Dalam tradisi sejarah Islam, terdapat catatan bahwa Ali bahkan menghukum kelompok ekstrim yang mencoba mengkultuskan dirinya secara berlebihan melampaui batas-batas syariat.
Karena itu, bagi banyak sarjana, mengaitkan kelahiran mazhab Syi’ah yang memiliki akar teologis dan sejarah panjang masih sepenuhnya kepada sosok misterius seperti Abdullah bin Saba merupakan penyederhanaan yang ahistoris dan tidak mencerminkan kompleksitas perkembangan pemikiran Islam.
Perdebatan mengenai tokoh Abdullah bin Saba mengajarkan kita bahwa sejarah sering kali ditulis dan diingat dalam konteks politik serta kebutuhan zaman penulisnya. Dalam banyak kasus, narasi sejarah dapat bermuka dua, antara menjadi alat legitimasi kekuasaan atau menjadi sarana pelarian untuk penyederhanaan dalammenjelaskan konflik menyakitkan yang sulit diterima secara emosional oleh masyarakat.
Para sejarawan modern mengingatkan kita akan pentingnya membaca sejarah secara kritis (history with a grain of salt), dengan mempertimbangkan berbagai sumber, perspektif, dan konteks sosial-ekonomi yang melingkupinya. Konflik yang terjadi pada generasi awal Islam bukanlah sekadar dongeng hitam-putih tentang "pahlawan" dan "penjahat" (antagonis). Ia adalah bagian dari dinamika manusiawi yang wajar, tentang pergulatan antara idealisme agama dengan realitas politik dan kekuasaan yang selalu hadir dalam setiap perjalanan peradaban besar.
Memahami sejarah secara jernih bukanlah upaya untuk mencari siapa yang paling bersalah di masa lalu. Sebaliknya kita dapat belajar bahwa bahkan pada masyarakat terbaik sekalipun, yakni generasi awal yang mulia tetap harus berhadapan dengan tantangan sosiopolitik, perbedaan ijtihad, dan gesekan kepentingan yang nyata.
Kesadaran ini justru dapat membantu umat hari ini untuk melihat masa lalu secara lebih dewasa. Sejarah tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar mitos heroik yang tak boleh dipertanyakan, atau narasi konspiratif yang memicu kebencian antar-kelompok. Sejarah adalah laboratorium kemanusiaan, di mana kita belajar bagaimana nilai-nilai luhur diuji oleh waktu, kekuasaan, dan ego manusia. Dengan cara pandang yang luas dan dalam inilah, kita bisa memetik pelajaran untuk masa depan yang lebih bijaksana. (Red)