Pramoedya Ananta Toer, melalui tokoh Minke dalam Bumi Manusia, pernah menelanjangi satu penyakit lama yang mengendap dalam tubuh kebudayaan Jawa: feodalisme. Bagi Pram, feodalisme bukan sekadar tata krama atau hierarki sosial yang diwariskan turun-temurun, melainkan cara berpikir yang menumpulkan keberanian, melemahkan daya kritis, dan membiasakan kepatuhan tanpa pertanyaan. Ia menjadi “darah” yang mengalir diam-diam diterima sebagai kodrat, padahal justru menggerogoti daya hidup bangsa.
Minke dihadirkan bukan sekadar sebagai tokoh fiksi, melainkan sebagai figur yang sedang belajar memverifikasi dunia. Ia memeriksa ulang apa yang diwarisi, dipelajari, dan dialami. Dalam dirinya bersemayam semangat Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula pers Indonesia, yang menolak tunduk pada kebenaran yang hanya disahkan oleh kuasa, gelar, atau tradisi. Verifikasi, bagi Minke, adalah keberanian untuk bertanya: benarkah ini adil, benarkah ini manusiawi, dan benarkah ini perlu dilestarikan?
Semangat itulah yang juga ditekankan WS Rendra dalam wawancaranya dengan Peter F. Gontha. Rendra menegaskan bahwa belajar sejati adalah proses verifikasi. Kritik, dalam pengertian ini, bukanlah tindakan menjatuhkan atau merusak, melainkan upaya memeriksa agar kita tidak menelan mentah-mentah apa pun yang datang dari siapa saja: orang tua, guru, leluhur, bahkan dari bangsa dan kebudayaan lain. Segala sesuatu patut ditanya kembali dan dipikirkan ulang. Tanpa itu, manusia hanya menjadi pewaris, bukan pencipta.
Menariknya, semangat verifikasi ini sejatinya sejalan dengan pesan Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Berpikir, bertanya, dan menggunakan akal adalah bagian dari ibadah. Keimanan tidak dibangun di atas kepatuhan buta, melainkan pada kesadaran yang lahir dari pencarian dan pengujian. Maka perbedaan pendapat bukanlah ancaman, melainkan keniscayaan dalam perjalanan manusia memahami kebenaran.
Karena itu, wajar bila pikiran, suara, dan sikap kita berbeda. Kita bukan bebek yang hanya mengikuti arus. Kita bukan generasi bebek, apalagi bangsa bebek. Kritik semestinya tidak ditakuti, melainkan ditunggu. Ia adalah tanda bahwa pikiran masih hidup. Meski kerap terasa berat dan menyakitkan, kritik sering kali datang bukan dari kebencian atau iri dengki, melainkan dari kepedulian agar kita tidak terperosok pada kesalahan yang sama.
Keberanian untuk berbeda bahkan perlu dipupuk sejak dini, termasuk berani berbeda dengan guru, selama perbedaan itu lahir dari keyakinan yang dipikirkan secara sungguh-sungguh. Dalam konteks inilah, banyak tata krama feodal layak dipertanyakan ulang. Tatakrama yang menempatkan manusia tidak setara, yang menuntut tunduk tanpa dialog, sering kali lebih mencerminkan ketakutan daripada penghormatan. Padahal dalam pandangan kemanusiaan, dan juga keagamaan, manusia setara satu sama lain. Perbedaan hanya bermakna di hadapan Tuhan, yang diukur oleh ketakwaan, bukan oleh pangkat, darah, atau asal-usul.
Kesetaraan itu seharusnya terwujud dalam laku sehari-hari: tidak gila hormat bagi yang memiliki kelebihan, dan tidak minder berlebihan bagi yang merasa kekurangan. Mereka yang unggul tak perlu menuntut pemujaan, sementara yang lemah tak perlu kehilangan harga diri. Sebab segala keunggulan, pada hakikatnya, adalah titipan. Ia berasal dari Tuhan dan karenanya harus dikembalikan dalam bentuk tanggung jawab, bukan kesombongan.
Di titik inilah feodalisme menemukan lawannya: kesadaran kritis. Selama darah feodalisme masih mengalir tanpa diperiksa, selama kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran berpikir, bangsa ini akan terus pincang. Tetapi ketika verifikasi menjadi kebiasaan, kritik menjadi budaya, dan kesetaraan menjadi etika hidup, maka kita sedang membersihkan darah lama itu, perlahan, tapi pasti adalah demi kemanusiaan yang lebih adil dan bermartabat sebagai bangsa.(Sal)