Ada kebiasaan kecil yang nyaris selalu muncul ketika manusia baru saja bersentuhan dengan celaka. Setelah tertabrak, tergelincir, atau jatuh dari kendaraan bermotor, kita kerap menghela napas lalu berkata, “Untung saja masih selamat.” Atau kalimat lain yang lebih ringan namun sarat makna: “Untung yang sakit cuma gigi, bukan hati.”
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana, bahkan klise, tetapi sesungguhnya menyimpan cara pandang yang khas: kemampuan manusia untuk bersyukur, untuk menemukan celah terang di tengah peristiwa yang nyaris gelap.
Di situ sebuah kebudayaan batin mengemuka, bahwa manusia tidak hanya hidup dari sebab-akibat yang kaku, melainkan juga dari makna. Ada kesadaran akan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih luas dari dirinya sendiri. Barangkali dengan semesta yang tampak acak, penuh kebetulan dan kekacauan (chaos), namun pada saat yang sama terasa memiliki keteraturan yang tersembunyi (cosmos).
Dalam bahasa yang lebih reflektif, manusia sedang berdamai dengan ketidakpastian, sambil tetap percaya bahwa hidup tidak sepenuhnya tanpa pola.
Sabrang Noe Letto pernah mengingatkan bahwa cara manusia memahami realitas sering kali bergantung pada sudut pandang yang ia pilih. Sebuah peristiwa bisa dibaca sebagai bencana, tetapi juga bisa dimaknai sebagai pengingat. Dalam ruang inilah agama, sains, dan pengalaman personal seharusnya saling menyapa, bukan saling meniadakan.
Namun, lanskap hari ini, terutama di media sosial, justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Linimasa dipenuhi dua arus besar yang saling berhadapan.
Di satu sisi, muncul apa yang kerap disebut sebagai “mualaf sains”: mereka yang dengan semangat berlebihan mempertanyakan validitas agama, bahkan tak jarang mereduksinya menjadi sekadar mitos atau produk masa lalu. Di sisi lain, hadir “mualaf agama” dalam arti konservatisme yang kaku: sikap keberagamaan yang defensif, reaktif, dan sering menutup diri dari dialog.
Kedua kubu ini, sadar atau tidak, sama-sama dimanjakan oleh algoritma. Media sosial bekerja dengan logika keterbelahan: semakin ekstrem pernyataan, semakin besar peluangnya untuk disebarkan. Akibatnya, diskusi yang seharusnya bernuansa metodologis dan etis berubah menjadi saling ejek dan saling klaim kebenaran. Agama dipukul rata sebagai anti-rasional, sementara sains dipuja tanpa refleksi kritis, seolah ia berdiri di ruang hampa nilai.
Padahal, baik agama maupun sains adalah institusi pengetahuan yang memiliki metodologi, sejarah, dan konteksnya masing-masing. Agama tidak lahir tanpa tradisi penafsiran, sebagaimana sains tidak berkembang tanpa kerangka etika dan asumsi filosofis.
Masalahnya, sering kali agama diperlakukan secara serampangan: dikritik tanpa memahami bangunan epistemologinya, atau sebaliknya, dibela secara serampangan oleh pemeluknya sendiri dengan tafsir yang “semau gue”.
Seorang pemikir, sejatinya, tidak lahir dari ruang kosong. Tesis-tesis baru, gagasan segar, bahkan sintesis yang tampak revolusioner, selalu merupakan hasil dari proses panjang: perjumpaan, perdebatan, dan keterhubungan dengan unsur-unsur lama. Kebaruan bukanlah pemutusan total dari masa lalu, melainkan kelanjutan yang diberi konteks baru. Dalam pengertian ini, memusuhi tradisi sama dangkalnya dengan membekukannya.
Di kalangan Muslim sendiri, dilema ini sering muncul dalam bentuk sikap apologetik. Misalnya dengan mengutip data Yuval Noah Harari tentang jumlah korban manusia sepanjang sejarah. Jika dihitung secara “fair”, kata Harari, korban akibat perang, baik yang disulut oleh agama-agama Ibrahim maupun oleh ideologi modern seperti kapitalisme, sosialisme, dan fasisme, ternyata tidak selalu menjadi penyumbang terbesar kematian manusia. Angka bunuh diri dan obesitas justru sering luput dari sorotan, padahal dampaknya jauh lebih masif dan senyap.
Data semacam ini kerap digunakan untuk membela agama dari tuduhan sebagai sumber kekerasan. Namun, pembelaan yang berhenti pada statistik sering kali justru kehilangan kedalaman refleksi. Ia tidak menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana agama dan sains bisa bersama-sama membaca penderitaan manusia kontemporer, bukan sekadar saling menyelamatkan citra.
Narasi yang berkembang hari ini seolah memaksa kita memilih: sains atau agama. Seakan-akan keduanya mustahil bertemu di satu titik. Ironisnya, manfaat sains dihirup dengan begitu lahap: teknologi, medis, komunikasi, tetapi metodologi sains masih dicurigai, bahkan dicap “kafir”, hanya karena sejarah penemu dan pengembangnya banyak lahir dari Barat. Barat yang memang memiliki pengalaman historis traumatis dalam relasinya dengan agama, dan memori kolektif itu tidak bisa begitu saja dihapus.
Namun dunia telah berubah. Timur dan Barat tidak lagi berdiri sebagai kutub yang sepenuhnya berseberangan. Globalisasi membuat batas-batas itu cair, bahkan kabur. Justru di tengah keterhubungan global inilah konservatisme kembali menguat. Barangkali karena ketika dunia terasa terlalu terbuka, terlalu cepat, dan terlalu kompleks, manusia mencari pegangan yang paling kokoh, meski kadang pegangan itu dipegang dengan cara yang kaku.
Pada titik inilah refleksi menjadi penting. Bukan untuk memenangkan satu kubu atas kubu lain, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia, sejak awal, selalu hidup di antara iman dan akal, keyakinan dan keraguan. Seperti saat kita berkata, “Untung saja masih selamat,” kita sedang mengakui keterbatasan diri, sekaligus merayakan makna. Dan mungkin, di situlah perjumpaan itu seharusnya dimulai. (Sal)