Sejak awal peradaban, manusia selalu bertanya ke mana ia akan pergi setelah memahami dari mana ia berasal. Pertanyaan tentang asal-usul dijawab oleh mitos, agama, dan kemudian sains. Namun pertanyaan tentang tujuan hidup, untuk apa semua ini, tidak pernah benar-benar selesai dijelaskan.
Yuval Noah Harari melihat sains bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan sebuah metode. Ia tidak menjanjikan makna, tetapi menawarkan kejelasan. Dalam dunia yang penuh ilusi, kejelasan menjadi komoditas langka. Dan justru di situlah kekuatan sains bekerja: membongkar keyakinan palsu, termasuk keyakinan yang selama ini dianggap sakral.
Namun manusia tidak hidup dari kejelasan saja. Ia hidup dari harapan, rasa aman, dan makna. Agama hadir untuk menjawab kebutuhan ini. Ia membangun narasi besar tentang tujuan hidup, tentang benar dan salah, tentang yang transenden dan yang fana.
Masalah muncul ketika sains dan agama diposisikan sebagai musuh. Sejarah mencatat konflik panjang antara keduanya, seolah manusia harus memilih salah satu: percaya atau memahami. Padahal, Harari justru mengajak kita melihat bahwa konflik itu sering lahir dari salah paham.
Sains bekerja dengan pertanyaan “bagaimana”, sementara agama sering bergerak di wilayah “mengapa”. Ketika agama mulai mengklaim penjelasan teknis tentang alam semesta, ia melampaui wilayahnya sendiri. Sebaliknya, ketika sains dipaksa memberi makna moral dan spiritual, ia juga keluar dari mandatnya.
Harari mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukan pada sains atau agama, melainkan pada absolutisme. Ketika satu sistem keyakinan, apa pun bentuknya, jika mengklaim kebenaran tunggal dan menutup ruang kritik, di situlah kekerasan intelektual dimulai.
Dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari menyinggung kemungkinan sains menjadi “agama baru”. Bukan dalam arti ritual dan dogma, melainkan sebagai otoritas tertinggi penentu kebenaran. Data menggantikan wahyu, algoritma menggantikan intuisi.
Kita mulai bertanya pada mesin apa yang harus kita pilih, siapa yang layak dipercaya, bahkan siapa yang layak dicintai. Dalam situasi ini, sains kehilangan sifat kritisnya dan berubah menjadi sistem kepercayaan yang tidak lagi dipertanyakan.
Di titik inilah iman kembali relevan. Bukan iman sebagai kumpulan larangan dan simbol, tetapi iman sebagai kesadaran akan keterbatasan manusia. Kesadaran bahwa tidak semua hal dapat direduksi menjadi angka, grafik, dan model prediksi.
Dalam berbagai tradisi spiritual, transendensi bukan soal melarikan diri dari dunia, tetapi menyadari keberadaan diri secara utuh. Nabi, maharesi, avatar, dalam istilah berbeda, bukan orang paling cerdas, melainkan yang paling sadar.
Kesadaran ini berbeda dari kecerdasan. Kecerdasan dapat ditiru mesin. Sedangkan kesadaran, setidaknya hingga kini, masih menjadi wilayah manusia. Harari justru mengingatkan bahwa jika manusia hanya mengembangkan kecerdasan tanpa kesadaran, ia sedang menggali kuburnya sendiri.
Dunia modern menunjukkan gejala itu. Kita mampu memetakan genom, tetapi gagal memetakan empati. Kita dapat menghubungkan miliaran orang, tetapi kesepian justru meningkat. Teknologi mempercepat hidup, namun memperlambat perenungan.
Dalam konteks inilah transendensi tidak harus berarti religiusitas formal. Ia bisa hadir sebagai keheningan, sebagai refleksi, sebagai keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah arah yang kita tuju benar-benar kita pilih?
Harari tidak menawarkan jalan spiritual tertentu. Ia justru mengajak manusia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Tidak berlindung di balik Tuhan, negara, atau algoritma. Kebebasan, dalam pandangannya, selalu datang bersama beban tanggung jawab.
Pembahasan ini harus menjadi pengingat penting. Beginilah kerja jurnalistik yang tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga ruang publik tetap waras. Di tengah banjir data dan klaim kebenaran, jurnalisme menjadi latihan kolektif untuk berpikir jernih.
Iman tanpa kritik mudah berubah menjadi fanatisme. Sains tanpa etika mudah berubah menjadi alat dominasi. Transendensi, barangkali, terletak pada kemampuan menyeimbangkan keduanya, menggunakan akal tanpa kehilangan nurani.
Pertanyaan terbesar abad ke-21 bukanlah apakah Tuhan masih relevan, atau apakah sains akan menang. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan lebih sulit: apakah manusia masih mampu mengenali dirinya sendiri?
Jika jawabannya tidak, maka kecanggihan apa pun hanya akan mempercepat kehilangan arah. Namun jika manusia mampu menjaga kesadaran, sains dan iman bisa menjadi dua sayap yang membawanya melampaui ketakutan.
Dan mungkin, disanalah pelajaran paling sunyi dari Harari: bahwa masa depan tidak ditentukan oleh apa yang kita ciptakan, melainkan oleh bagaimana kita memahami diri sendiri saat menciptakannya. (Sal)