Zaman ini bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Sains melaju dengan rumus-rumus dan pembuktian, agama berjalan dengan doa-doa dan akan narasi Tuhan. Keduanya bertemu di antara kadang saling menyapa, kadang saling mencurigai. Di titik pertemuan itulah umat Islam berdiri, tidak sebagai satu barisan, melainkan sebagai wajah-wajah yang beragam.
Perbedaannya bukan sekadar mazhab atau jalan pemikiran dan latar belakang, bukan pula perbedaan tafsir fiqih yang sudah lama kita kenal. Ia lebih sunyi, lebih mendasar: cara memandang sains dari pelbagai sudut pandang. Apakah ia sahabat iman, cermin kebesaran Tuhan, atau justru ancaman yang mesti dijaga jaraknya?
Dalam keragaman sikap itu, perlahan tampak empat wajah yang paling sering muncul ke permukaan. Empat wajah yang membawa cara pandangnya sendiri, kerap saling berpapasan, atau kerap merasa paling terang. Sebuah percakapan yang tidak tunggal, tapi jelas memantulkan sebuah keragaman di tubuh umat Islam.
Pertama, mereka yang menolak.
Bagi kelompok ini, kebenaran telah selesai diturunkan. Teks menjadi benteng, sekaligus penjara. Apa pun yang datang dari luar, termasuk temuan sains, harus tunduk pada pembacaan harfiah kitab suci.
Bumi harus tetap datar jika ayat dibaca demikian. Matahari wajib mengelilingi bumi, sebab tafsir telah menguncinya. Teleskop boleh menatap galaksi, tetapi keyakinan tidak boleh bergerak.
Yang menarik bukan semata keyakinan itu, melainkan ketenangan yang lahir dari kepastiannya itu. Di dunia yang semakin rumit, dogma menawarkan kesederhanaan. Alam semesta yang luas disusutkan agar muat di kepala.
Di sana sains ditolak, bukan sebab kebohongannya, melainkan karena ia mengusik kenyamanan iman yang tak ingin diuji. Sains dianggap gangguan danmengusik ketenangan iman yang beku.
Kedua, mereka yang tergesa-gesa mencocokkan.
“Semua sudah ada dalam Alquran,” kata mereka. Setiap penemuan ilmiah segera dicari padanannya dalam ayat. Dentuman kosmik Big Bang, lapisan embrio, bahkan teknologi modern, diburu jejaknya dalam teks suci.
Niatnya mulia: membela agama dari tuduhan usang. Namun, kegigihan ini sering berbalik arah. Ayat-ayat kehilangan keluasan maknanya, direduksi menjadi ilustrasi ilmiah. Alquran diperlakukan seolah buku teka-teki kosmik yang menunggu jawaban abad ke-21.
Dalam pelbagai pandangan ahli tafsir, wahyu tidak pernah dimaksudkan untuk menyaingi jurnal ilmiah. Ia berbicara tentang makna hidup, tentang arah, tentang bagaimana manusia berdiri di hadapan misteri. Ketika sains berubah, tafsir yang terlalu literal ikut rapuh. Dan iman yang disandarkan padanya pun ikut goyah.
Ketiga, mereka yang merindukan kesakralan.
Kelompok ini gelisah melihat sains yang dingin, mekanistik, dan kerap lupa bertanya untuk apa pengetahuan itu digunakan. Alam, bagi mereka, bukan sekadar objek, melainkan ayat.
Namun, pencarian makna ini menyimpan dilema. Ketika spiritualitas hendak disuntikkan ke dalam sains, batas antara makna dan metode menjadi kabur. Sains bekerja dengan jarak dan keraguan, sementara iman hidup dari kedekatan dan keyakinan.
Menyatukan keduanya bukan perkara mudah. Menolak sains karena lahir dari tradisi sekuler justru mengurung diri. Memberinya makna spiritual tanpa merusak objektivitas mungkin dianggap jalan yang lebih jujur, meski menuntut kesabaran dan kerendahan hati.
Keempat, mereka yang menerima sains apa adanya.
Bagi kelompok ini, hukum alam tidak beragama. Gravitasi berlaku bagi yang berdoa dan yang meragukan. Pengetahuan adalah milik bersama, dan iman tidak kehilangan apa pun dengan mengakuinya.
Mereka tidak mencari Tuhan di balik setiap rumus, tetapi juga tidak merasa Tuhan absen dari keteraturan semesta. Sains dipahami sebagai pembacaan atas sunnatullah, bukan ancaman, bukan pula wahyu kedua.
Di sini, iman tidak dianggap sebagai gertak dan teriakan. Ia cukup hadir sebagai kesadaran batin: bahwa semakin dalam manusia memahami alam, semakin luas ruang untuk takzim dan takjub.
Empat wajah ini sejatinya lahir dari kegelisahan yang sama: ketakutan kehilangan pegangan. Ada yang mengeras pada teks, ada yang mencocokkan dengan tergesa, ada yang merindukan makna, ada pula yang memilih berjalan tenang bersama sains.
Mungkin persoalannya bukan memilih salah satu, melainkan belajar bersikap rendah hati. Mengakui bahwa sains bukan musuh iman, dan iman bukan penghalang akal. Keduanya memiliki wilayah, bahasa, dan ritmenya sendiri.
Tanpa sains, agama mudah terperangkap mitos. Tanpa agama, sains mudah kehilangan arah. Dan di antara keduanya, manusia berdiri: mencari, meraba, dan bertanya.
Sebab barangkali, iman yang dewasa bukanlah iman yang merasa paling benar, melainkan iman yang berani hidup bersama pertanyaan. (Sal)