Ketegangan militer di jalur laut Bab Al-Mandab kembali menyita perhatian dunia. Selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden itu kini menjadi titik rawan konflik bersenjata, sabotase kapal dagang, hingga pengerahan armada laut negara-negara besar. Jalur ini bukan sekadar lintasan geografis, melainkan nadi perdagangan global: sekitar 10–12 persen perdagangan dunia dan hampir 30 persen pengiriman kontainer internasional melintas di kawasan ini setiap tahun. Ketika Bab Al-Mandab terganggu, harga energi, pangan, dan logistik global ikut bergejolak.
Situasi ini sejatinya bukan hal baru dalam sejarah. Berabad-abad lalu, kawasan yang sama pernah menjadi medan perebutan pengaruh antara kekuatan Islam dan Eropa. Pada awal abad ke-16, Kesultanan Mamluk di Mesir menghadapi ancaman besar dari ekspansi maritim Portugis yang berupaya mematahkan dominasi perdagangan Muslim di Samudera Hindia dan Laut Merah. Apa yang terjadi hari ini, dalam banyak hal, mengulang pola lama: siapa menguasai laut, ia menguasai arus kekayaan dan pengaruh dunia.
Masuknya Portugis ke Samudera Hindia setelah Vasco da Gama mencapai India pada 1498 mengubah peta kekuatan global. Dengan kapal-kapal bersenjata meriam berat, Portugis tidak sekadar berdagang, tetapi memaksakan monopoli. Mereka menyerang pelabuhan-pelabuhan strategis, menenggelamkan kapal dagang Muslim, dan membangun benteng di titik-titik kunci seperti Goa, Hormuz, dan Malaka. Tujuan utamanya jelas: memutus jalur rempah-rempah yang selama berabad-abad mengalir dari Asia Tenggara ke Timur Tengah dan Eropa melalui Laut Merah dan Mesir sebagai sumber utama kemakmuran Mamluk.
Menyadari ancaman tersebut, Kesultanan Mamluk merespons dengan strategi maritim yang terbilang progresif untuk zamannya. Meski berbasis kekuatan darat, Mamluk membangun armada laut di Laut Merah dengan dukungan teknis dan material dari dunia Islam yang lebih luas. Kayu, awak kapal, dan teknologi perkapalan didatangkan dari wilayah Samudera Hindia, termasuk dari Gujarat dan Nusantara. Sejumlah sumber sejarah mencatat keterlibatan pelaut dan ahli kapal dari kawasan Asia Tenggara, wilayah yang saat itu menjadi jantung produksi rempah dunia.
Puncak konfrontasi terjadi dalam pertempuran laut di sekitar Diu (1509) dan upaya Mamluk mengamankan Bab Al-Mandab sebagai “gerbang” Laut Merah. Bagi Mamluk, selat ini memiliki makna strategis ganda: melindungi jalur haji ke Mekkah dan Madinah, sekaligus menjaga arus perdagangan internasional yang menopang ekonomi Mesir. Meski pada akhirnya Mamluk kalah secara teknologi dan politik, terlebih setelah runtuhnya kesultanan itu oleh Ottoman pada 1517, perlawanan mereka menandai kesadaran awal bahwa dominasi laut adalah kunci tatanan dunia baru.
Jika ditarik ke konteks hari ini, Bab Al-Mandab kembali menunjukkan wataknya sebagai simpul kekuasaan global. Negara-negara besar mengerahkan kapal perang bukan semata demi keamanan pelayaran, tetapi untuk memastikan kepentingan ekonomi dan geopolitik mereka tetap terjaga. Jalur laut bukan ruang netral; ia selalu menjadi arena kontestasi. Dari Portugis abad ke-16 hingga armada modern abad ke-21, logika dasarnya tetap sama: siapa mengendalikan choke point maritim, ia memiliki daya tawar politik dan ekonomi yang besar.
Pelajaran penting dari sejarah Mamluk adalah bahwa laut tidak bisa dipandang hanya sebagai ruang lalu lintas, melainkan sebagai instrumen kekuasaan. Keterlibatan Nusantara dalam jaringan maritim Islam kala itu juga mengingatkan bahwa wilayah ini sejak lama bukan pinggiran, melainkan pusat dari ekonomi dunia. Rempah-rempah dari Maluku, kapal dari Jawa dan Sumatra, serta pelaut dari Asia Tenggara adalah bagian integral dari percaturan global jauh sebelum istilah “globalisasi” dikenal.
Ketegangan di Bab Al-Mandab hari ini, dengan segala kompleksitasnya, seolah mengafirmasi satu hal: pola sejarah berulang dengan aktor dan teknologi yang berbeda. Kontrol atas jalur laut tetap menjadi penentu keseimbangan dunia. Sejarah Mamluk dan Portugis mengajarkan bahwa kekuatan maritim bukan sekadar soal kapal dan senjata, tetapi tentang kemampuan membaca peta ekonomi global, membangun aliansi lintas kawasan, dan memahami bahwa laut adalah ruang politik yang hidup. Dalam dunia yang semakin terhubung, pelajaran lama itu justru terasa semakin relevan. (Sal)