Tahun 2025 kembali menegaskan bahwa gandum bukan sekadar komoditas pangan, melainkan instrumen geopolitik. Konflik berkepanjangan di Eropa Timur yang menjadi salah satu kawasan penyangga produksi gandum dunia mengakibatkan gangguan mata rantai pasok global. Jalur ekspor tersendat, biaya logistik melonjak, dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim memperburuk hasil panen di banyak negara produsen.
Kombinasi faktor perang dan krisis iklim ini mendorong harga gandum naik tajam di pasar internasional, menekan negara-negara pengimpor yang bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok warganya. Dampak paling terasa muncul di negara-negara Muslim Afrika Utara dan Asia Barat. Mesir, Tunisia, Yordania, hingga Lebanon menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga gandum yang langsung berimbas pada harga roti sebagai makanan pokok mayoritas rakyat.
Negara dipaksa menambah subsidi di tengah keterbatasan anggaran, sementara masyarakat berpenghasilan rendah semakin rentan. Sejarah politik kawasan ini berulang kali membuktikan satu hal sederhana namun krusial: perut yang lapar adalah sumbu ketidakstabilan politik. Sebab akses terhadap pangan terganggu, keresahan sosial pun mudah berubah menjadi krisis legitimasi negara.
Krisis semacam ini sejatinya bukan fenomena baru dalam sejarah dunia Islam. Pada abad ke-12, ketika Saladin, nama populer di Barat untuk Shalahuddin Al-Ayyubi yang memimpin perlawanan dalam Perang Salib, menghadapi ancaman terbesarnya, sebenarnya bukan pasukan musuh di medan tempur, melainkan potensi kelaparan di wilayah kekuasaannya.
Shalahuddin memahami bahwa perang yang panjang akan menguras sumber daya, dan tanpa jaminan pangan, rakyat bisa runtuh bahkan sebelum musuh dikalahkan. Dengan itu ketahanan pangan, bagi Shalahuddin adalah fondasi kemenangan politik dan militer.
Di Mesir, Shalahuddin memulai strategi tersebut dengan memperkuat basis pertanian melalui revitalisasi Sungai Nil. Sistem irigasi diperbaiki dan diperluas agar lahan-lahan pertanian tetap produktif meski negara berada dalam situasi perang. Air Nil tidak hanya dipandang sebagai sumber kehidupan, tetapi sebagai aset strategis negara. Dengan memastikan panen gandum tetap stabil, Shalahuddin menjaga denyut ekonomi rakyat dan mencegah krisis pangan yang bisa melemahkan kekuasaan dari dalam.
Selain produksi, Shalahuddin menaruh perhatian besar pada manajemen logistik. Ia membangun dan mengelola lumbung-lumbung gandum sebagai cadangan strategis negara. Membangun gudang-gudang yang ditempatkan di benteng-benteng penting, dari Kairo hingga Damaskus, untuk menjamin distribusi pangan tetap berjalan ketika jalur perdagangan terganggu atau panen gagal. Lumbung pangan berfungsi sebagai penyangga krisis, alat stabilisasi harga, sekaligus simbol kehadiran negara dalam melindungi kebutuhan dasar rakyatnya.
Menariknya, kebijakan pangan Shalahuddin tidak berhenti pada urusan domestik. Ia juga menjalankan diplomasi yang pragmatis dengan membuka jalur perdagangan terbatas bersama pedagang Venesia. Meski berada di tengah konflik peradaban, Shalahuddin menyadari bahwa menutup total jalur perdagangan hanya akan merugikan rakyatnya sendiri. Pangan dan logistik sipil ditempatkan di atas ego politik. Dalam hal ini, diplomasi pangan menjadi instrumen kelangsungan hidup negara, bukan tanda kelemahan.
Jika dibandingkan dengan situasi hari ini, perbedaan pendekatan menjadi sangat kontras. Pada masa lalu, kedaulatan pangan dibangun melalui penguatan lahan lokal, irigasi, dan cadangan strategis. Sementara kini, banyak negara justru menggantungkan kebutuhan pangannya pada satu atau dua jalur pasokan global. Ketergantungan ini menjadikan sistem pangan yang sangat rapuh, mudah terguncang oleh perang, sanksi ekonomi, atau krisis iklim yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Pelajaran dari sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi semakin relevan di tengah krisis pangan global saat ini. Negara-negara Muslim perlu kembali menimbang konsep kemandirian lahan dan ketahanan pangan jangka panjang. Investasi pada pertanian lokal, diversifikasi sumber pangan, serta penguatan cadangan nasional bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan strategi politik untuk menjaga stabilitas dan martabat bangsa.
Sejarah telah menunjukkan bahwa kekuatan militer dan kejayaan politik tidak akan bertahan lama jika fondasi pangannya rapuh. Gandum dan roti sering kali lebih menentukan arah sejarah dibanding pedang dan benteng. Shalahuddin Al-Ayyubi memenangkan hati rakyat bukan hanya karena ia membebaskan Yerusalem, tetapi karena ia memastikan rakyatnya tetap hidup dan bermartabat di tengah kecamuk perang—tanpa harus tidur dalam keadaan lapar. (Sal)