Ada banyak deretan para perempuan inspiratif sejak Sabang sampai Merauke, dan boleh saja para sejarawan mendebatkan bahwa R.A. Kartini bukanlah pionir tunggal dalam sejarah emansipasi perempuan di Indonesia. Tetapi sejarah kerap bukan hanya soal siapa yang pertama, melainkan siapa yang paling terdengar. Kartini, dengan segala keterbatasan ruang hidupnya, telanjur menjadi simbol yang paling kuat. Namanya harum, berulang disebut, dan diwariskan lintas generasi. Lalu, di hadapan fakta itu, kita mungkin bisa bertanya: apakah yang sebenarnya membuatnya demikian bertahan?
Terlanjur sudah ia dikenal sebagai perempuan terdepan melalui buah pikirannya yang terhimpun dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai buku yang disunting oleh Armijn Pane dari kumpulan surat-suratnya. Dibanding perempuan sebaya di masanya, atau bahkan sebagian dari kita hari ini, keunggulan Kartini bukan semata pada status sosialnya sebagai bangsawan Jawa, melainkan pada keberaniannya untuk menulis.
Dalam banyak kajian sejarah modern, termasuk yang dirujuk oleh lembaga seperti UNESCO melalui program Memory of the World, tulisan-tulisan personal seperti surat Kartini diakui sebagai sumber penting yang merekam kesadaran sosial dan intelektual perempuan di masa kolonial. Dokumen-dokumen ini bukan sekadar korespondensi pribadi, melainkan saksi bisu transisi pemikiran sebuah bangsa yang mulai menggeliat mencari jati diri.
Makanya, Tan Malaka, tokoh revolusioner yang tak menikah hingga akhir hayatnya konon pernah membayangkan sosok perempuan setangguh Kartini sebagai pasangan hidupnya. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu, ada sesuatu yang simbolik bahwa Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga dalam imajinasi para pemikir besar. Tan Malaka sendiri pernah berkata bahwa gagasan akan hidup lebih lama dari jasad, sejalan dengan keyakinannya bahwa “suaraku akan terdengar lebih nyaring dari dalam kubur.” Hubungan batin antara kedua pemikir ini memperlihatkan bahwa perjuangan intelektual memiliki frekuensi yang sama, yakni kegelisahan atas ketidakadilan.
Demikianlah Kartini, sebagai fakta sekaligus legenda yang kita warisi. Surat-suratnya kepada J.H. Abendanon dan Stella Zeehandelaar menjadikannya dikenal luas bukan karena gelarnya sebagai Raden Ajeng, tetapi karena pikirannya yang melampaui zamannya. Dalam perspektif sejarah intelektual, ini penting bahwa identitas sosial bisa membuka pintu, tetapi hanya gagasan yang membuat seseorang bertahan di dalamnya. Keberadaan surat-surat tersebut membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis membelenggu nalar jika seseorang memiliki medium untuk menyalurkannya.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah.” Kalimat Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer terasa seperti gema dari kegelisahan Kartini. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Data dari berbagai riset literasi global, termasuk laporan World Bank dan UNESCO, menunjukkan bahwa budaya menulis dan membaca memiliki korelasi kuat dengan kemajuan sosial, baik dalam kesetaraan gender, pendidikan, maupun partisipasi publik. Di negara-negara dengan indeks literasi yang tinggi, kesadaran akan hak-hak sipil cenderung lebih mapan, sebuah visi yang telah diantisipasi Kartini lebih dari seabad yang lalu melalui korespondensinya mengenai pendidikan bagi kaum perempuan.
Demikianlah saya, Anda, dan siapa pun yang menulis dapat menjadi jalan yang mungkin sederhana, tetapi dalam. Daripada terjebak dalam “pingitan” modern yang kini mungkin berupa keterasingan digital, tekanan sosial, atau keterbatasan ekonomi, menulis bisa menjadi bentuk perlawanan paling elegan. Kita diingatkan pada sosok seperti Anne Frank yang menulis di loteng persembunyiannya dari kejaran Nazi Jerman, tanpa pernah membayangkan bahwa catatannya akan dibaca dunia. Tulisan-tulisan itu kemudian menjadi dokumen kemanusiaan yang mengguncang kesadaran global tentang tragedi Holocaust. Baik Kartini maupun Anne Frank menggunakan pena untuk menciptakan jendela di tengah dinding yang mengurung mereka.
Kartini telah berhasil mencatatkan kegelisahannya, yang dalam bahasa hari ini mungkin kita sebut “galau”—seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang juga menulis untuk memahatkan keabadian dalam catatan harian mereka. Dalam kajian sosiologi pengetahuan, tulisan-tulisan pribadi seperti ini sering menjadi sumber penting untuk memahami perubahan sosial dari dalam (inner history), bukan sekadar dari peristiwa besar yang tampak di permukaan. Melalui tulisan, emosi yang bersifat sangat personal bertransformasi menjadi kesadaran kolektif yang universal.
Karena itu, kata adalah senjata. Ia bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi amunisi bagi mereka yang lemah namun belum menyerah. Bahkan Napoleon Bonaparte pernah mengakui ketakutannya terhadap kekuatan tulisan dibandingkan tajamnya bayonet. Di Indonesia, tokoh Islam seperti Isa Anshary menegaskan bahwa revolusi besar selalu didahului oleh jejak pena para pemikirnya. Sejarah modern pun menguatkan hal ini, dari gerakan kemerdekaan hingga reformasi sosial di berbagai belahan dunia, tulisan selalu hadir sebagai pemantik utama kesadaran rakyat untuk bergerak melawan kemapanan yang timpang.
Tentu saja, narasi ini harus diletakkan dalam konteks sejarah yang lebih luas agar tetap objektif. Dalam mendirikan sekolah keputrian, boleh jadi Rohana Kudus di Sumatera Barat memang telah lebih dahulu bergerak dengan keberaniannya menerbitkan surat kabar Sunting Melayu, atau perempuan-perempuan di Tomohon, Sulawesi Utara, yang telah lebih awal merintis pendidikan formal bagi kaumnya. Dewi Sartika secara konkret mendirikan Sekolah Isteri di Bandung pada 1904, sementara Rahmah El-Yunusiyah di Minangkabau mengembangkan pendidikan perempuan yang sistematis hingga menginspirasi Universitas Al-Azhar di Kairo. Bahkan dalam lembar sejarah perlawanan fisik, kita mengenal sosok-sosok perkasa seperti Malahayati, Cut Nyak Dien, hingga Ratu Kalinyamat dari Jepara.
Di bidang pendidikan dan literasi, R.A. Lasminingrat dari Garut telah lebih dahulu menerjemahkan karya sastra Barat ke dalam bahasa daerah dan menyusun buku pelajaran sejak abad ke-19. Dewi Sartika juga menulis buku Keoetamaan Istri pada 1911 sebagai panduan moral dan keterampilan. Namun, sejatinya Kartini memiliki sesuatu yang berbeda. Sebab ia menulis bukan hanya untuk mendidik secara teknis, tetapi untuk menggugat kesadaran filosofis sebagai bentuk refleksi yang melampaui ruang geografis dan waktu. Kekuatan naratif dalam surat-suratnya menciptakan kedekatan emosional yang melintasi batas-batas budaya.
Memang, ada polemik yang menyebutkan bahwa kebesaran Kartini tidak lepas dari konteks Politik Etis pemerintah kolonial Belanda yang membutuhkan "ikon" pribumi maju untuk melegitimasi kebijakan mereka. Kritik ini penting agar kita tidak terjebak pada pengultusan satu tokoh tunggal dan melupakan perjuangan kolektif perempuan lainnya. Namun demikian, pena tetap memiliki kekuatan yang tak terbantahkan. Ia bisa melintasi batas geografis, kelas sosial, bahkan zaman. Kontroversi mengenai posisi Kartini justru membuktikan bahwa gagasannya tetap relevan untuk diperbincangkan hingga hari ini.
Menulis adalah memahatkan keabadian. Dalam era digital hari ini, tulisan bahkan memiliki jangkauan yang jauh lebih luas namun sekaligus lebih rentan. Data dari berbagai platform digital menunjukkan bahwa satu tulisan dapat diakses oleh jutaan orang dalam hitungan detik. Namun, di situlah tantangannya yang bukan hanya sekadar menulis untuk viral, tetapi menulis yang bermakna. Buatlah tulisan yang mampu bertahan dari arus informasi yang sangat cepat (fast information). Seperti Kartini tidak menulis untuk mengejar popularitas instan, melainkan menulis untuk menyuarakan kebenaran batinnya.
Selagi publik dapat mengaksesnya, tulisan akan terus dibaca, dibicarakan, bahkan diperdebatkan. Di sanalah ia hidup. Di sanalah ia bekerja sebagai agen perubahan. Dan dari sana pula, nama seseorang bisa melampaui zamannya yang bukan karena gelar bangsawan, kekayaan, atau kedudukan, tetapi karena warisan gagasan yang ditinggalkannya bagi peradaban.
Di ujungnya, Kartini mengajarkan satu hal yang sederhana namun radikal bahwa keterbatasan tidak selalu berarti kebisuan. Dalam ruang sempit pingitan, ia menemukan keluasan semesta melalui kata-kata. Saat ini, ketika kita memiliki kemerdekaan untuk bersuara di ruang publik yang nyaris tanpa batas, pertanyaannya bukan lagi siapa "Kartini berikutnya". Pertanyaan yang lebih reflektif apakah kita cukup berani menggunakan kata sebagai senjata, bukan untuk menghancurkan atau melukai, melainkan untuk menerangi sudut-sudut gelap ketidakadilan dan membangun kemanusiaan yang lebih bermartabat?
Jika Kartini mampu mengubah dunia dari sebuah kamar kecil di Jepara, maka sejatinya tidak ada alasan bagi kita untuk tetap diam di tengah riuhnya dunia. (Sal)