Padi, Pohon, dan Pohon Keluarga merupakan tiga pilar utama yang saya sebut sebagai 3P, sebagai ikhtiar untuk menanam masa depan di tengah dunia yang kian dinamis. Ia adalah perlambang filosofis tentang kedaulatan pangan, keteguhan akar pengetahuan, hingga keabadian sebuah peradaban. Melalui 3P, kita diajak untuk menemukan kembali makna terdalam dari apa yang kita tanam, demi menjaga keberlangsungan hidup, dan memberi warisan bagi generasi mendatang. Gagasan ini sesungguhnya berakar jauh pada kebijaksanaan masa lalu yang kini kembali menemukan urgensinya.
Dalam bentang sejarah manusia, terdapat sebuah diktum kuno yang telah lama menjadi kompas bagi keberlangsungan peradaban. Diktum itu merangkum tiga hal fundamental: menanam gandum untuk kebutuhan jangka pendek, menanam pohon untuk masa depan yang lebih jauh, dan mengembangkan manusia demi keabadian. Namun, di hadapan realitas hari ini, muncul sebuah tanya yang menggugat di sanubari kita: bagaimana konteks nilai-nilai tersebut di zaman kini yang serba cepat, penuh ketidakpastian, dan sering kali menggoda kita untuk melupakan hal-hal yang paling mendasar?
Sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa untuk mempersiapkan hidup setahun, tanamlah gandum; untuk mempersiapkan hidup sepuluh tahun, tanamlah pohon; dan untuk mempersiapkan hidup selamanya, kembangkanlah manusia. Pepatah ini sederhana, namun menyimpan kedalaman yang kerap luput kita renungkan di tengah hiruk-pikuk modernitas yang memuja kecepatan di atas ketahanan. Di Indonesia, gandum bukanlah sekadar komoditas, melainkan simbol. Namun, secara ekologis dan kultural, kita tidak hidup dari gandum, kita hidup dari nasi. Maka, dalam konteks kita, nasihat itu mengalami lokalisasi maknawi menjadi: tanamlah padi.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang sering terdengar dan terkadang menjebak logika publik, “Bukankah negara seperti Singapura tidak menanam padi, tetapi tetap tidak kelaparan?” Pertanyaan ini tampak logis, tetapi sesungguhnya menyederhanakan realitas geopolitik dan geografis yang jauh lebih kompleks.
Singapura adalah negara kota (city-state) dengan luas wilayah terbatas, tetapi memiliki kekuatan ekonomi, logistik, dan perdagangan global yang sangat kuat. Data dari Singapore Food Agency (SFA) menunjukkan bahwa lebih dari 90% kebutuhan pangan Singapura dipenuhi melalui impor dari lebih dari 170 negara. Mereka bertahan bukan karena tidak membutuhkan produksi pangan, melainkan karena memiliki kapasitas finansial, jaringan distribusi, dan stabilitas sistem yang memungkinkan mereka membeli dari seluruh penjuru dunia. Strategi mereka adalah diversifikasi sumber impor untuk memitigasi risiko.
Namun ini Indonesia, Bung—bukan Singapura. Indonesia adalah negara kepulauan yang luas dengan bentang alam yang seharusnya menjadi lumbung. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana agrikultur, melainkan isu strategis nasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi beras nasional masih sangat tinggi, dengan rata-rata konsumsi mencapai sekitar 90–100 kg per kapita per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, ketergantungan pada beras bukan sekadar budaya meja makan, tetapi realitas struktural yang menentukan stabilitas sosial.
Bahkan, laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO) dalam The State of Food Security and Nutrition in the World menegaskan bahwa ketahanan pangan global semakin rentan akibat perubahan iklim yang ekstrem, konflik geopolitik yang memutus rantai pasok, dan inflasi pangan. Maka kemampuan memproduksi pangan sendiri menjadi bukan hanya pilihan ekonomis, tetapi kebutuhan strategis demi kedaulatan bangsa. Tanpa kedaulatan, sebuah bangsa hanya akan menjadi penumpang yang cemas di tengah badai krisis global.
Karena itulah pepatah lama tadi menemukan relevansinya. Secara personal, untuk memperoleh makan sehari-hari, saya harus membeli sebungkus nasi. Karenanya saya membutuhkan uang, dan selalu ada kegelisahan yang menyelinap bagaimana jika suatu hari uang itu tidak lagi tersedia? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika uang itu ada, tetapi barangnya menghilang dari pasar? Kegelisahan ini bukan sekadar pengalaman pribadi, tetapi cerminan dari sistem ekonomi modern yang menggantungkan hampir seluruh kebutuhan hidup pada daya beli yang fluktuatif.
Kita berkata dengan cukup realistis bahwa kita perlu uang untuk simpanan setahun, dua tahun, bahkan seumur hidup. Namun, mari kita bayangkan sebuah paradoks ketika semua orang memiliki uang, tetapi tidak ada lagi tangan yang bersedia menanam padi. Maka uang menjadi tidak bermakna ketika tidak ada produksi nyata yang bisa dibeli. Di sinilah kita memahami bahwa ekonomi tidak berdiri sendiri di atas angka-angka digital, tetapi bergantung pada produksi nyata, pada tanah yang subur, pada air yang bersih, dan pada tangan-tangan yang dengan setia menanam serta merawat.
Dengan demikian, karena kebutuhan inti manusia adalah pangan, maka menanam padi, sayur-sayuran, dan memelihara ternak bukan sekadar aktivitas ekonomi marginal. Ini adalah tindakan eksistensial untuk menjaga keberlangsungan hidup itu sendiri. Ini adalah fondasi yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh sistem algoritma atau teknologi paling canggih sekalipun, sebab rasa lapar tidak bisa dikenyangkan oleh data.
Kedua, kita beranjak pada dimensi waktu yang lebih luas tentang menanam pohon, dan bagaimana kita memaknainya hari ini sebagai jaminan masa depan?
Secara literal, pohon adalah paru-paru bumi. Ia memberi kita oksigen, peneduh, menjaga cadangan air tanah, dan menjamin keseimbangan ekosistem. Dalam jangka panjang, pohon adalah investasi kehidupan yang bunganya kita hirup setiap detik. Laporan dari World Bank menyebutkan bahwa deforestasi dan degradasi lingkungan berkontribusi besar terhadap krisis iklim yang berdampak langsung pada kegagalan panen di sektor pertanian. Menanam pohon secara fisik adalah upaya kita mencegah bumi menjadi tempat yang tak lagi ramah bagi anak cucu.
Namun, di luar makna literalnya, pohon juga harus dibaca sebagai metafora intelektual. Di zaman kini, menanam pohon berarti menanam pendidikan dan keterampilan hidup (life skill). Keduanya memiliki kemiripan sifat bahwa ia tidak tumbuh seketika atau hasilnya langsung bisa kita nikmati. Tetapi ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan perawatan yang konsisten di tengah gempuran tren yang serba instan. Pendidikan bukan hasil cetakan mesin, tetapi proses biologis dan sosiologis yang panjang yang baru terasa manfaatnya setelah bertahun-tahun.
Dalam dunia yang berubah cepat di mana kecerdasan buatan mulai menggantikan peran manusia, pekerjaan lama hilang, dan pekerjaan baru muncul dengan kriteria yang asing, maka perlu keterampilan menjadi “pohon” yang dapat memberi perlindungan secara jangka panjang. Pengetahuan adalah akar, dan adaptabilitas adalah dahan yang lentur. Mereka yang memiliki kedalaman pengetahuan dan kemampuan adaptif akan lebih mampu bertahan, bahkan berkembang di tengah badai disrupsi. Menanam pohon hari ini adalah kesediaan untuk belajar, berlatih, dan membangun kapasitas diri, meski buahnya belum bisa dipetik sekarang.
Ketiga, untuk mempersiapkan hidup selamanya, maka kembangkanlah manusia melalui "pohon keluarga" dalam arti yang seluas-luasnya. Namun sering nasihat ini disederhanakan menjadi sekadar menikah dan memiliki keturunan. Padahal maknanya jauh lebih dalam dari sekadar menanam benih reproduksi biologis.
Mengembangkan manusia berarti mentransfer nilai (values), kebajikan, dan kesadaran kolektif. Anak-anak dan generasi muda bukan sekadar penerus garis keturunan atau angka dalam statistik kependudukan, tetapi mereka adalah pembawa obor masa depan. Mereka perlu dibekali bukan hanya dengan ijazah formal, tetapi dengan keteguhan karakter, empati sosial, dan kecakapan hidup.
Dalam konteks yang lebih luas, mengembangkan manusia juga berarti membangun fondasi peradaban sebagai investasi pada "perangkat lunak" kemanusiaan. Ia bisa hadir dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, buku yang menjadi jendela dunia, lagu yang menggerakkan jiwa, karya seni yang abadi, atau lembaga pendidikan yang inklusif.
UNESCO berkali-kali menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Tanpa pembangunan manusia yang berkualitas, kemajuan fisik suatu bangsa hanya akan menjadi ilusi yang rapuh dan mudah runtuh oleh konflik atau degradasi moral.
Demikian menulis, mengajar, mencipta, dan mendidik, semuanya adalah cara kita memperpanjang umur gagasan. Inilah bentuk keabadian yang sesungguhnya di mana pemikiran kita tetap hidup dan bermanfaat bagi orang lain bahkan setelah raga kita kembali ke tanah.
Dengan demikian, pepatah lama itu tidak pernah benar-benar usang oleh debu zaman. Ia hanya menunggu untuk ditafsirkan kembali sesuai tantangan era kita, bahwa untuk mempersiapkan hidup setahun, tanamlah padi dan sayur-sayuran, serta peliharalah ternak demi kedaulatan fisik. Lalu untuk mempersiapkan hidup sepuluh tahun, tanamlah ilmu dan keterampilan demi ketahanan mental. Lalu untuk mempersiapkan hidup selamanya, maka menikahlah dan kembangkanlah manusia melalui keluarga yang hangat, karya yang bermanfaat, dan peradaban yang bermartabat.
Namun tersisa satu pertanyaan yang patut kita bawa pulang ke dalam hening masing-masing bahwa di zaman ketika segalanya bisa dibeli dengan satu ketukan di layar gawai, apa yang masih layak untuk kita tanam dengan tangan sendiri?
Barangkali jawabannya sederhana, tetapi memang tidak mudah dijalani bahwa kita perlu kembali menanam hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh transaksi uang dan kecepatan teknologi. Kita perlu kembali pada tanah yang memberi makan, pada pengetahuan yang memberi arah, dan pada manusia yang memberi makna pada hidup yang singkat ini. Karena pada akhirnya, kita bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita tanam. (Sal)