Dulu, semasa kuliah, saya pernah menulis dalam sebuah catatan berjudul "Islamku, Kampusku, dan Jombloku." Di sana, dengan keyakinan yang masih mentah namun jujur, saya menuliskan satu hal sederhana bahwa saya ingin berjalan dengan cara saya sendiri yang mengusung dan memperjuangkan kebenaran yang saya yakini. Catatan itu mungkin terdengar naif bagi telinga yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, namun ia adalah artefak dari sebuah fase di mana idealisme masih menjadi satu-satunya kompas yang saya miliki.
Keyakinan itu belum usai, pun belum matang. Namun, di sanalah letak denyut kehidupannya. Ia tidak menempuh jalur linier yang statis seperti pajangan museum, melainkan sebuah proses yang terus bergerak dan menggugat dirinya sendiri guna melintasi riuhnya diskusi kantin hingga sunyinya sudut perpustakaan.
Sering saya ditanya dengan nada setengah bercanda setengah menguji, “Sebenarnya ente dari pihak mana sih?” Pertanyaan ini seolah-olah mengharuskan setiap individu memiliki label, warna, atau jaket organisasi tertentu agar keberadaannya diakui dalam konstelasi gerakan mahasiswa yang dinamis.
Dan seperti refleks yang telah lama saya pupuk untuk menjawabnya, “Aku bukan bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), bukan pula Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan juga bukan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aku memilih berdiri di luar garis demarkasi yang sering kali memisahkan kawan dan lawan berdasarkan afiliasi organisasi semata.”
Dalam cara yang mungkin sulit dipahami, saya merasa menjadi bagian dari semuanya, selama mereka masih mengusung nilai-nilai idealisme yang pernah digagas para pendirinya. Saya melihat jejak Lafran Pane pada keberanian bersikap, jejak Mahbub Djunaidi pada keluwesan berpikir, dan jejak gerakan reformasi pada militansi aksi. Saya adalah pencuri saripati dari setiap oase pemikiran yang mereka tawarkan.
Sebab, setelah sekian lama organisasi-organisasi itu berkelindan dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, sering kali yang tersisa bukan lagi semangat awalnya, melainkan bentuk-bentuk baru yang lebih kompleks, sering tak lebih kompromi politik, pragmatisme organisasi, bahkan konflik internal yang menjauh dari garis dasar perjuangan. Dalam banyak studi tentang gerakan mahasiswa Indonesia, seperti yang dicatat oleh Edward Aspinall atau Max Lane, fenomena ini bukan hal baru pada transformasi dari idealisme ke institusionalisme sering tak terhindarkan ketika sebuah gerakan mulai bersinggungan dengan kekuasaan praktis.
Maka saya pun bertanya dalam diam apakah aku harus menjadi pejuang yang sendirian? Apakah kebenaran hanya bisa ditemukan dalam isolasi, jauh dari kerumunan yang telah terkooptasi oleh kepentingan? Namun pertanyaan itu bukanlah bentuk keputusasaan. Ia bukan skeptisisme yang beku. Barangkali itu kegelisahan yang hidup, yang justru menandai bahwa kesadaran belum mati. Kegelisahan ini adalah sebuah prolog, sebuah pembuka tabir menuju pencarian yang lebih esensial.
Di titik ini, saya teringat pada Abu Hamid al-Ghazali, seorang pemikir besar dalam tradisi Islam yang menuliskan krisis intelektualnya secara terbuka dalam karya Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan). Dalam karya itu, Al-Ghazali mengisahkan bagaimana ia meragukan hampir seluruh fondasi pengetahuan yang ia miliki, termasuk indera dan akal sebelum akhirnya menemukan ketenangan dalam pengalaman spiritual. Al-Ghazali, yang saat itu berada di puncak karier akademisnya di Madrasah Nizhamiyah, justru memilih meninggalkan kemapanan demi sebuah jawaban atas keraguan yang menghujam jantungnya.
Menariknya, pendekatan ini memiliki gema yang serupa dengan metode keraguan radikal (dubito) yang dikembangkan oleh Rene Descartes berabad-abad kemudian di Barat. Bagi Descartes, meragukan adalah cara untuk menemukan kepastian yang tak tergoyahkan (cogito ergo sum). Bagi Al-Ghazali, meragukan adalah jalan menuju iman yang lebih dalam. Sebuah keyakinan yang tidak lagi didasarkan pada taklid (ikut-ikutan), melainkan pada dzauq atau rasa yang autentik.
Dari sini, tampak jelas bahwa keraguan bukanlah lawan dari keyakinan, melainkan pintu masuknya. Ia adalah saringan yang memisahkan antara emas murni kebenaran dengan debu prasangka. Selama saya masih hidup, saya sadar bahwa saya belum sampai pada garis akhir pencarian.
Al-Ghazali sendiri pernah menulis dengan sangat jujur tentang perjalanan intelektualnya bahwa sejak usia muda tidak pernah berhenti menelusuri berbagai aliran pemikiran. Mulai dari kelompok Batiniyah yang esoterik, pendekatan Zahiriyah yang literal, filsafat Yunani yang banyak dipengaruhi Neo-Platonisme, hingga ilmu kalam dan tasawuf. Ia bahkan mempelajari pandangan kaum ateis, bukan untuk membenarkan, tetapi untuk memahami dari mana keberanian itu lahir? Apa dasar penolakan mereka terhadap Tuhan? Baginya, memahami lawan bicara adalah syarat mutlak untuk menemukan kebenaran yang utuh.
Semua itu, katanya, adalah gambaran dari dahaga jiwa yang tak bisa ditolak. Sebuah insting pencarian kebenaran (gharizah al-ba'th 'an al-haq) yang telah ditanamkan dalam dirinya. Al-Ghazali tidak takut tersesat dalam rimba pemikiran, karena ia percaya bahwa cahaya Tuhan akan membimbing jiwa yang tulus mencari.
Apa yang dilakukan Al-Ghazali berabad-abad lalu, terasa begitu dekat dengan kegelisahan saya sebagai mahasiswa kala itu. Keinginan untuk memahami, bukan sekadar menerima. Dalam dunia kampus yang penuh dengan wacana, ideologi, dan pertarungan gagasan, mahasiswa sering kali berada di persimpangan antara ikut arus atau mencari jalannya sendiri. Tekanan untuk seragam sering lebih kuat daripada dorongan untuk menjadi unik.
Di titik lain, saya menemukan resonansi yang berbeda dalam catatan Ahmad Wahib, seorang pemikir muda Indonesia yang gagasannya banyak dihimpun dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam. Wahib adalah potret mahasiswa yang tersiksa oleh sekat-sekat eksklusivisme. Dalam catatan hariannya, Wahib menolak dikurung oleh label ideologis yang sempit.
Ia menulis dengan keberanian yang jarang bahwa ia bukan nasionalis, bukan sosialis, bukan pula representasi dari kategori-kategori yang kaku. Ia adalah semuanya, dan dalam keutuhan itu, ia berharap disebut sebagai seorang muslim. Baginya, Islam adalah sebuah nilai universal yang tidak boleh dipenjara oleh kepentingan partai atau golongan tertentu.
Ia ingin dinilai sebagai manusia utuh, yang bukan sebagai representasi kelompok. Ia menolak penyederhanaan yang mereduksi kompleksitas manusia menjadi sekadar angka dalam statistik organisasi.
“Aku bukan aku,” tulisnya, “aku adalah proses menjadi aku.” Kalimat itu terasa seperti cermin yang memantulkan kegelisahan saya sendiri. Sebuah pengakuan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang sudah jadi (being), melainkan sesuatu yang terus diupayakan (becoming). Kita adalah musafir di jalan pikiran kita sendiri.
Dan mungkin, di situlah saya menemukan diri saya sendiri: di antara Al-Ghazali yang meragukan untuk menemukan keyakinan, di antara Soe Hok Gie yang berteriak melawan kemunafikan zaman dengan kejujuran yang pedih, dan di antara Wahib yang gelisah dalam diam namun tajam dalam tulisan.
Saya berdiri, belum final, belum selesai. Masih mencari, masih meragukan, masih menyusun ulang keyakinan yang sebagian saya pinjam dari masa lalu melalui kitab-kitab klasik dan wejangan guru, sebagian lagi saya pungut dari perjalanan yang belum utuh di jalanan, di diskusi-diskusi kecil, dan di dalam kegagalan-kegagalan pribadi.
Sebab barangkali menjadi manusia memang bukan tentang menemukan jawaban terakhir. Dalam banyak tradisi filsafat, baik Barat maupun Islam, manusia justru dipahami sebagai makhluk yang terus menjadi, bukan yang telah selesai. Heidegger menyebutnya sebagai Dasein yang selalu terlempar dalam kemungkinan-kemungkinan. Proses ini menuntut keberanian: keberanian untuk bertanya, untuk meragukan, sekaligus untuk tetap percaya bahwa pencarian itu tidak sia-sia. Manusia pada jalannya adalah proses tentang keberanian untuk terus bertanya tanpa kehilangan arah, tanpa kehilangan nurani. Sebab, pertanyaan yang jujur sering kali lebih dekat dengan Tuhan daripada jawaban yang dipaksakan.
Dan jika suatu hari saya benar-benar sampai pada keyakinan, saya berharap itu bukan karena saya lelah dan memutuskan untuk berhenti mencari, melainkan karena telah cukup jauh berjalan hingga mampu melihat cahaya di ujung lorong keraguan. Sebab mungkin, keyakinan yang sejati bukanlah jawaban yang datang dengan cepat seperti petir di siang bolong, melainkan yang tumbuh perlahan seperti pohon besar, yang akarnya menghujam dalam melalui tanah yang keras, yang batangnya kuat karena pernah dihantam badai, dan yang daunnya rimbun karena dipupuk dari luka, dari tanya, serta dari perjalanan panjang yang tak selalu terang.
Di sanalah, di titik pertemuan antara akal yang bertanya dan hati yang berserah, barulah kita benar-benar mengerti apa artinya menjadi beriman. (Sal)