Jauh sebelum wacana Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi oleh PBB, dunia pernah menyaksikan sebuah eksperimen urban raksasa di tepian Sungai Tigris. Antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, Baghdad bukan sekadar pusat kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Tapi ia adalah manifestasi fisik dari filosofi Islam tentang keseimbangan alam (mizan). Di saat kota-kota besar dunia saat itu tumbuh secara sporadis dan kumuh, Baghdad lahir dari cetak biru yang presisi, menggabungkan sains, estetika, dan regulasi lingkungan yang ketat.
I. Madinat al-Salam: Geometri Suci dan Zonasi Ekologis
Pada tahun 762 M, Khalifah Abu Ja’far al-Mansur tidak memilih lokasi secara acak. Ia melibatkan para astronom dan ahli geografi untuk mencari titik dengan sirkulasi udara terbaik dan akses air yang melimpah. Hasilnya adalah Madinat al-Salam (Kota Perdamaian), sebuah kota berbentuk lingkaran sempurna dengan diameter sekitar 2,7 kilometer, sebagai desain konsentris sekaligus filter polusi.
Berbeda dengan kota linier yang mudah terperangkap polusi, bentuk lingkaran Baghdad dirancang untuk mengoptimalkan aliran angin dari padang pasir dan sungai. Kategori wilayahnya terbagi tiga, yaitu zona Inti, zona penyangga, dan zona industri.
II. Teokrasi Air: Arsitektur Hidrolik dan Sanitasi Publik
Dalam pandangan hidup masyarakat Baghdad, kebersihan (thaharah) adalah prasyarat ibadah. Prinsip ini melahirkan sistem sanitasi yang melampaui zamannya dengan tersedianya jaringan Kanal dan Hammam
Sungai Tigris dialirkan melalui jaringan kanal yang rumit, seperti Kanal Isa dan Kanal Sarsar, yang tidak hanya mengairi lahan pertanian tetapi juga menyuplai air bersih ke dalam kota. Diperhatikan khusus infrastruktur pemandian dan teknologi Qanaat.
Infrastruktur Mandi: pada puncak kejayaannya, Baghdad tercatat memiliki sekitar 60.000 pemandian umum (Hammam). Setiap hammam dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah yang terpisah dari sumber air minum.
Dengan teknologi Qanat, yang diaptasi dari teknologi Persia, memungkinkan air mengalir di bawah tanah, mencegah penguapan berlebih dan menjaga air tetap steril dari debu permukaan.
III. Institusi Hisbah: Polisi Lingkungan dan Etika Pasar
Baghdad memperkenalkan lembaga Hisbah, yang dipimpin oleh seorang Muhtasib. Ini adalah otoritas yang memiliki kekuatan hukum untuk menindak pelanggar lingkungan melalui regulasi bau dan asap yang harus dipatuhi.
Regulasi bau dan asap dilakukan secara berkala melalui audit kualitas udara dan manajemen limbah.
Audit Kualitas Udara: Muhtasib berhak menutup usaha yang mengeluarkan asap berlebih atau bau busuk yang mengganggu kenyamanan publik (public nuisance). Toko roti dan industri pembakaran diletakkan di posisi yang searah dengan tiupan angin keluar kota.
Manajemen Limbah: Pedagang diwajibkan membersihkan area depan toko mereka setiap hari. Pembuangan sampah ke sungai dikenai sanksi berat, karena air dianggap sebagai aset publik (milkiyyah 'ammah) yang tidak boleh dicederai.
IV. Kedokteran Lingkungan: Eksperimen Ar-Razi
Kesadaran lingkungan di Baghdad didorong oleh kemajuan ilmu medis di Baitul Hikmah. Tokoh legendaris Ar-Razi (Rhazes) melakukan salah satu eksperimen kualitas udara paling awal di dunia.
Ketika diminta menentukan lokasi rumah sakit (Bimaristan) yang baru, Ar-Razi menggantungkan potongan daging segar di berbagai sudut kota. Lokasi di mana daging paling lambat membusuk dipilih sebagai situs pembangunan.
Ia membuktikan secara empiris bahwa tingkat pembusukan organik (mikroba) berkorelasi langsung dengan kualitas udara dan kelembapan.
Rumah sakit di Baghdad kemudian dibangun dengan prinsip ventilasi silang, memastikan udara segar selalu mengalir untuk mempercepat penyembuhan pasien. Ini sebuah konsep yang baru diadopsi Eropa pada abad ke-19 setelah era Florence Nightingale.
V. Arsitektur Pasif dan Mitigasi Iklim
Bangunan di Baghdad dirancang untuk meminimalkan jejak karbon melalui teknik arsitektur pasif:
Refleksi bagi Pemangku Kebijakan Modern
Kisah Baghdad adalah pengingat bahwa krisis lingkungan sering kali berakar pada krisis nilai. Berikut adalah pelajaran strategis yang bisa diambil:
Baghdad klasik membuktikan bahwa sebuah metropolis dengan jutaan penduduk bisa hidup selaras dengan alam jika "napas" kota, yakni udara dan air dijaga sebagai amanah suci.
Menghidupkan kembali semangat Baghdad bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan mengambil inspirasi untuk membangun masa depan di mana kemajuan tidak lagi dibayar dengan kepulan asap dan air yang tercemar. (Red)