Jauh sebelum istilah kota berkelanjutan menjadi jargon global, Baghdad telah lebih dulu mempraktikkan gagasan itu. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai cara hidup.
Pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, ketika dunia Barat masih berkutat dengan kota-kota gelap, padat, dan penuh limbah terbuka, Baghdad justru tumbuh sebagai kota yang dirancang dengan kesadaran ekologis, sanitasi publik, dan tata udara yang relatif bersih untuk ukuran zamannya.
Baghdad bukan sekadar ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah; ia adalah eksperimen peradaban, tempat ilmu pengetahuan, agama, arsitektur, dan etika hidup bertemu dalam satu rancangan kota.
Ketika Khalifah Abu Ja’far al-Mansur mendirikan Baghdad pada tahun 762 M, kota ini tidak lahir secara organik seperti banyak kota lain. Nama resminya bahkan bukan Baghdad, melainkan Madinat al-Salam, Kota Perdamaian. Bentuknya melingkar, sebuah simbol kosmologis sekaligus strategi urban. Di pusat kota berdiri istana khalifah dan masjid agung, dikelilingi oleh kawasan administrasi, pasar, dan permukiman.
Desain ini bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga alat pengendali lingkungan: sirkulasi udara lebih terjaga karena ruang terbuka di pusat kota, jarak antara kawasan hunian dan aktivitas ekonomi diatur, serta aktivitas yang berpotensi mencemari ditempatkan di zona tertentu, jauh dari pusat permukiman. Dalam bahasa modern, Baghdad sudah mengenal zonasi kota.
Sungai Tigris bukan hanya jalur perdagangan, tetapi urat nadi sanitasi kota. Baghdad membangun sistem kanal dan saluran air yang terhubung langsung ke sungai, memungkinkan distribusi air bersih ke rumah, masjid, dan pemandian umum (hammam), sekaligus pembuangan limbah cair secara terkontrol. Sistem ini mencegah genangan dan wabah penyakit yang kerap mengancam kota-kota lain di dunia pada masa itu.
Catatan para musafir dan sejarawan menyebutkan bahwa Baghdad memiliki jaringan pemandian umum yang luas, sebagai sesuatu yang bahkan belum umum di Eropa hingga berabad-abad kemudian. Kebersihan tubuh dipandang sebagai bagian dari iman, dan iman diterjemahkan ke dalam infrastruktur kota.
Salah satu aspek paling menarik dari Baghdad klasik adalah pengaturan pasar. Aktivitas ekonomi yang menghasilkan bau menyengat atau asap, seperti pemotongan hewan, pembakaran arang, dan pengolahan logam, tidak boleh bercampur dengan pasar makanan atau kawasan hunian. Negara hadir melalui lembaga hisbah, dengan seorang muhtasib yang bertugas mengawasi kebersihan jalan dan pasar, pembuangan limbah pedagang, dan kualitas udara publik.
Jika hari ini kita menyebutnya environmental regulation, maka Baghdad telah mempraktikkannya seribu tahun lalu, dengan dasar etika keadilan sosial dan kesehatan masyarakat.
Rumah-rumah di Baghdad dirancang untuk menyesuaikan iklim, bukan melawannya. Dinding tebal dari bata tanah liat, halaman dalam (courtyard), dan ventilasi alami memungkinkan udara panas keluar dan udara sejuk bertahan. Pepohonan ditanam bukan sekadar estetika, tetapi sebagai peneduh dan penyaring debu. Jalan-jalan yang tidak terlalu lebar pun membantu menurunkan suhu permukaan.
Arsitektur ini bisa disebut sebagai arsitektur rendah emisi sebelum istilah itu ada, karena secara alami menjaga kualitas udara dan kenyamanan penghuninya.
Ilmu pengetahuan di era Baitul Hikmah mendukung kesadaran lingkungan Baghdad. Para ilmuwan tidak hanya menerjemahkan filsafat Yunani, tetapi juga mengembangkan ilmu kedokteran, kimia, dan geografi yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Dokter seperti ar-Razi dan Ibnu Sina memahami hubungan antara udara dan penyakit, air kotor dan wabah, serta lingkungan dan kesehatan mental. Bahkan, penentuan lokasi rumah sakit mempertimbangkan kualitas udara: ar-Razi dikabarkan menggantung potongan daging di beberapa lokasi kota dan memilih tempat yang paling lambat membusuk sebagai indikator kualitas udara terbaik.
Baghdad di era keemasan Islam tidak sepenuhnya bebas polusi
Karena memang tidak ada kota besar yang benar-benar steril. Namun yang membedakan Baghdad adalah niat peradabannya: menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan aktivitas ekonomi. Asap bukan sekadar gangguan visual, tetapi tanda ketidakadilan. Bau busuk bukan sekadar masalah teknis, tetapi kegagalan moral. Karena berawal dari kredo bahwa kota yang sehat dipahami sebagai prasyarat masyarakat yang beradab.
Pelajaran Baghdad klasik relevan bagi kota modern yang tengah bergulat dengan polusi udara dan sanitasi. Tata kota harus berangkat dari etika kehidupan, bukan sekadar efisiensi ekonomi. Sanitasi dan udara bersih adalah hak publik, bukan kemewahan. Regulasi lingkungan efektif jika didukung kesadaran sosial dan moral.
Ilmu pengetahuan harus berpihak pada kesehatan manusia dan alam. Setiap tindakan kecil warga dalam memilih transportasi umum, mengurangi pembakaran sampah, menanam pohon di lingkungan sekitar adalah bagian integral dari narasi “kota tanpa asap”.
Baghdad hari ini mungkin masih menghadapi polusi, debu, dan krisis lingkungan. Namun sejarahnya menyimpan ingatan penting: bahwa kota ini pernah menjadi teladan bagaimana peradaban memperlakukan udara dan air sebagai amanah dari Tuhan dalam keberlanjutan alam sebagai manifestasi kekuasaan-Nya yang semestinya menggugah kesadaran akan kehadiran-Nya. (Red)