Indonesia, negeri yang kerap disebut sebagai zamrud khatulistiwa, sesungguhnya sedang menghadapi paradoks air. Di satu sisi, banjir datang silih berganti akibat rusaknya daerah resapan dan tata kota yang abai. Di sisi lain, kekeringan melanda wilayah-wilayah yang sama ketika musim kemarau tiba. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan longsor telah menjadi bencana paling dominan di Indonesia. Air, yang semestinya menjadi sumber kehidupan, justru berubah menjadi sumber krisis akibat salah urus dan pendekatan pembangunan yang memutus hubungan manusia dengan alam.
Pada saat yang sama, kota-kota besar Indonesia berlomba mengadopsi jargon smart city dan green infrastructure. Bendungan raksasa, betonisasi sungai, dan proyek pengendalian air bernilai triliunan rupiah terus dibangun. Namun, pertanyaan mendasarnya sering luput diajukan: apakah kita sedang mengelola air, atau sekadar berusaha menaklukkannya? Di tengah kegelisahan ini, sejarah menawarkan cermin yang jarang kita tatap, tentang sebuah peradaban yang mampu hidup berdampingan dengan air, bahkan menjadikannya pusat kemajuan intelektual dan sosial.
Berabad-abad sebelum istilah green city dikenal, peradaban Islam telah membangun kota-kota yang sejuk dan berkelanjutan di wilayah yang secara geografis jauh lebih keras daripada Nusantara. Gurun, dataran kering, dan daerah minim hujan bukan penghalang bagi lahirnya pusat-pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kuncinya terletak pada satu hal: cara pandang terhadap air. Inilah yang disebut sebagai Tamadun sebagai sebuah konsep peradaban yang memadukan teknologi, etika, dan kesadaran spiritual.
Dalam Islam, air bukan sekadar kebutuhan biologis. Ia adalah syarat bersuci, medium ibadah, dan simbol kehidupan itu sendiri. Al-Qur’an berulang kali menyebut air sebagai asal mula segala yang hidup. Maka, peradaban Islam tumbuh sebagai apa yang oleh banyak sejarawan disebut peradaban air. Kota-kota dirancang mengikuti aliran sungai, kanal, dan mata air, bukan memutuskannya. Air menjadi pusat tata ruang, kesehatan publik, dan bahkan estetika.
Suar kemajuan Tamadun terlihat jelas pada bagaimana para insinyur dan ilmuwan Muslim abad ke-9 hingga ke-11 memandang teknologi sebagai bagian dari amanah. Mereka tidak sekadar membangun untuk efisiensi, tetapi untuk keberlanjutan jangka panjang. Wilayah-wilayah gersang diubah menjadi kebun, taman, dan permukiman produktif. Sebuah miniatur dunia yang digambarkan dalam teks-teks keagamaan sebagai tempat “mengalir sungai-sungai di bawahnya”.
Salah satu inovasi terpenting adalah sistem Qanat dan Foggara. Terowongan bawah tanah ini menyalurkan air dari pegunungan ke kota dan lahan pertanian dengan kemiringan yang sangat presisi. Karena berada di bawah tanah, air terlindung dari penguapan dan pencemaran. Sistem ini membentang ribuan kilometer dari Persia hingga Afrika Utara, dan sebagian masih berfungsi hingga hari ini, dan menjadikannya salah satu teknologi air paling berkelanjutan dalam sejarah manusia.
Inovasi lain yang tak kalah mengagumkan adalah Norias. Sebuah bangunan roda air raksasa yang masih dapat disaksikan di Hama, Suriah. Roda kayu setinggi hampir 20 meter ini berputar tanpa henti, digerakkan murni oleh arus sungai. Setiap putaran mengangkat air ke saluran yang lebih tinggi untuk kemudian dialirkan ke kebun, masjid, dan rumah-rumah warga. Tanpa bahan bakar, tanpa listrik, tanpa emisi. Hanya pemanfaatan cerdas terhadap energi alam.
Lebih dari sekadar teknologi, peradaban Islam juga menempatkan air sebagai hak sosial. Di Cordoba pada abad ke-10, air mengalir ke rumah-rumah penduduk, masjid, madrasah, dan sekitar 700 pemandian umum melalui pipa timbal dan keramik. Pada masa ketika sebagian besar kota Eropa masih bergulat dengan sanitasi dasar, kota-kota Islam telah memahami bahwa air bersih adalah fondasi kesehatan publik, martabat manusia, dan produktivitas intelektual.
Di balik semua pencapaian teknis itu, terdapat filosofi yang kuat. Dalam konsep Tamadun, pembangunan fisik tidak pernah dilepaskan dari pemuliaan manusia. Air yang bersih, mudah diakses, dan gratis bagi warga menjadi simbol kehadiran negara dan keadilan penguasa. Kekuasaan diukur bukan dari kemegahan istana, melainkan dari sejauh mana kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.
Karena itulah, air dalam peradaban Islam juga dirancang untuk menenangkan jiwa. Di istana Alhambra, Granada, gemericik air di kolam dan pancuran bukan sekadar ornamen estetika, melainkan bagian dari ruang kontemplasi. Keindahan air membantu menciptakan suasana berpikir, berdzikir, dan menjaga keseimbangan batin. Estetika dan etika berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.
Bagi Indonesia hari ini, pelajaran dari Tamadun terasa relevan dan mendesak. Negeri yang kaya air justru kerap gagal memuliakannya. Sungai dipersempit, mata air dikomersialisasi, dan air diperlakukan semata sebagai komoditas atau ancaman. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar lahir ketika manusia memilih untuk merawat, bukan menaklukkan, sumber kehidupannya.
Belajar dari Tamadun masa lalu bukan berarti menolak teknologi modern, melainkan menata ulang cara berpikir kita tentang kemajuan. Bahwa teknologi yang paling berkelanjutan adalah teknologi yang selaras dengan alam dan adil bagi manusia. Warisan arsitektur air peradaban Islam adalah arus sejarah yang mengingatkan kita: peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang memastikan air sebagai sumber kehidupan, yang mengalir adil, tenang, dan bermartabat bagi semua. (Sal)