Wamen Giring Dukung Museum dan Tugu Bahasa, Penyengat Bersiap Menjadi Pusat Memori Bangsa

Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha Djumaryo, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana...

Wamen Giring Dukung Museum dan Tugu Bahasa, Penyengat Bersiap Menjadi Pusat Memori Bangsa

Sosbud
12 Jun 2026
205 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Wamen Giring Dukung Museum dan Tugu Bahasa, Penyengat Bersiap Menjadi Pusat Memori Bangsa

Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha Djumaryo, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Dukungan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pertemuan itu membahas langkah-langkah strategis penataan, pelestarian, dan pengembangan kawasan bersejarah yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu dan tempat lahirnya tonggak penting perkembangan bahasa Indonesia.

Di tengah derasnya pembangunan fisik di berbagai daerah, pertemuan tersebut menghadirkan pertanyaan dalam pembahasan bagaimana bangsa ini merawat ingatan kolektifnya. Bagi Kepulauan Riau, jawabannya sebagian tersimpan di Pulau Penyengat, sebuah pulau kecil yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus tempat berkarya Raja Ali Haji, tokoh yang melalui Gurindam Dua Belas dan karya-karya kebahasaannya meletakkan fondasi penting bagi perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia modern.

"Kementerian Kebudayaan siap mendukung penuh. Penataan ini bukan hanya soal estetika, tetapi bagaimana masyarakat bisa belajar dan merasakan langsung konteks sejarah maritim Melayu," ujar Giring dalam pertemuan tersebut.

Pernyataan itu disambut optimistis oleh Gubernur Ansar Ahmad. Menurutnya, pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa kini telah memasuki tahap siap konstruksi. Desain telah diselesaikan dan dukungan anggaran juga telah tersedia.

Data yang tercantum dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) menunjukkan proyek pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional Pulau Penyengat memiliki nilai anggaran sekitar Rp101 miliar yang dialokasikan secara bertahap melalui APBD Kepulauan Riau tahun 2026 dan 2027. Proses pemilihan penyedia pekerjaan juga telah dijadwalkan berlangsung pada tahun ini.

Ansar mengatakan, keberadaan museum dan monumen tersebut bukan hanya untuk mempercantik kawasan wisata sejarah, melainkan menjadi sarana edukasi yang menghubungkan generasi muda dengan akar kebudayaannya. "Pulau Penyengat sudah menjadi kebanggaan kita semua. Sudah banyak wisatawan mancanegara yang datang," kata Ansar. Ia menyebut pengunjung tidak hanya berasal dari Malaysia dan Singapura, tetapi juga dari sejumlah negara Eropa yang tertarik mempelajari sejarah Melayu dan Kesultanan Riau-Lingga.

Namun demikian, pembangunan monumen dan museum bukan tanpa tantangan. Sejumlah pengamat kebudayaan selama ini mengingatkan bahwa pelestarian warisan sejarah tidak cukup hanya diwujudkan melalui bangunan fisik. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada pengelolaan, perawatan, kurasi koleksi, serta kemampuan menghadirkan pengalaman edukatif yang relevan bagi generasi muda.

Di berbagai negara, banyak situs budaya kehilangan daya tarik karena pembangunan fisiknya tidak diikuti dengan penguatan narasi sejarah, riset akademik, dan keterlibatan masyarakat lokal. Kritik serupa juga sering muncul dalam diskusi publik mengenai pelestarian warisan budaya di kawasan Melayu, yang menilai keberhasilan sebuah situs sejarah lebih ditentukan oleh kualitas pengelolaan jangka panjang daripada kemegahan bangunannya semata.

Di sisi lain, para pendukung proyek ini menilai pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa merupakan momentum penting untuk memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah bahasa nasional. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir pengakuan terhadap bahasa Indonesia di tingkat internasional terus menguat, termasuk ketika bahasa Indonesia digunakan secara resmi dalam forum UNESCO.

Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, proyek ini juga merupakan kelanjutan dari berbagai program revitalisasi kawasan Pulau Penyengat yang sebelumnya mencakup pembangunan infrastruktur jalan, ruang publik, dan fasilitas pendukung pariwisata budaya.

Di penghujung pertemuan, Ansar mengundang langsung Giring untuk datang melihat kondisi Pulau Penyengat secara langsung. Undangan itu bukan sekadar agenda kunjungan kerja. Ia menjadi simbol harapan agar perhatian pemerintah pusat terhadap kawasan bersejarah tersebut tidak berhenti pada dukungan administratif, tetapi berlanjut menjadi komitmen nyata dalam menjaga salah satu simpul penting sejarah bangsa.

Pembangunan museum dan monumen ini yang sedang dipertaruhkan adalah kemampuan bangsa Indonesia merawat ingatan tentang asal-usulnya. Sebab sebuah bahasa tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari peradaban, dari manuskrip yang ditulis dengan tangan, dari pemikiran para cendekiawan, dan dari masyarakat yang mewariskan kata-kata kepada generasi berikutnya.

Pulau Penyengat telah memberikan salah satu warisan terbesar bagi Indonesia, yaitu bahasa yang menyatukan lebih dari 280 juta penduduk dari ribuan pulau dan ratusan suku. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah museum dan tugu itu perlu dibangun, melainkan apakah kita mampu menjadikannya ruang hidup yang terus menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Karena sejarah yang hanya dipajang akan menjadi benda mati, tetapi sejarah yang dipahami akan menjadi penuntun arah bagi sebuah bangsa. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll