Rp50 Miliar untuk Taman Budaya Batam, Investasi Seni dan Ikon Baru Pariwisata

Pemerintah Kota (Pemko) Batam mulai merealisasikan pembangunan Taman Budaya di kawasan Gedung...

Rp50 Miliar untuk Taman Budaya Batam, Investasi Seni dan Ikon Baru Pariwisata

Sosbud
17 Jul 2026
284 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Rp50 Miliar untuk Taman Budaya Batam, Investasi Seni dan Ikon Baru Pariwisata

Pemerintah Kota (Pemko) Batam mulai merealisasikan pembangunan Taman Budaya di kawasan Gedung Beringin, Sekupang. Proyek senilai sekitar Rp50 miliar dengan skema tahun jamak (multi-years) selama tiga tahun itu dijadwalkan mulai memasuki tahap pembangunan pada 2026, setelah proses perencanaan teknis dan penyusunan Detailed Engineering Design (DED) rampung. Pemerintah menargetkan kawasan tersebut menjadi pusat seni, budaya, ekonomi kreatif, sekaligus ikon wisata baru yang memperkaya wajah pariwisata Batam.

Di tengah pesatnya perkembangan Batam sebagai kota industri dan perdagangan, pembangunan Taman Budaya menjadi upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan ruang publik yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga pelestarian identitas budaya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan proyek tersebut merupakan salah satu program strategis pemerintah daerah yang telah memperoleh dukungan anggaran dari Pemko Batam bersama DPRD Kota Batam.

"Anggarannya sekitar Rp50 miliar dengan skema multi-years selama tiga tahun. Tahun ini dimulai dari proses perencanaan," kata Ardiwinata. Saat ini, proses lelang konsultan perencana telah selesai dan pemenangnya telah ditetapkan. Tahap berikutnya adalah penyusunan DED yang akan menjadi acuan pembangunan fisik oleh Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kota Batam. 

Ardiwinata menjelaskan, kawasan Gedung Beringin dipilih karena merupakan aset milik Pemerintah Kota Batam yang sejak awal diproyeksikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan. "Lahan yang sekarang terlihat rimbun itu memang sedang kami siapkan. Ke depan kawasan ini akan menjadi amenitas kebudayaan dan pariwisata. Nama resminya nanti akan diumumkan langsung oleh Wali Kota Batam," ujarnya. 

Keberadaan Taman Budaya diharapkan menjadi rumah bersama bagi komunitas seni, paguyuban, budayawan, hingga pelaku ekonomi kreatif dari 17 subsektor. Tidak hanya sebagai lokasi pertunjukan seni, kawasan tersebut juga dirancang terintegrasi dengan pengembangan Creative Hub, sehingga aktivitas berkesenian dapat berjalan beriringan dengan pengembangan industri kreatif. 

Harapannya, wisatawan yang datang ke Batam tidak lagi hanya menikmati wisata belanja, kuliner, dan bahari, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya melalui pertunjukan seni yang digelar secara rutin. "Di sana nantinya akan ada pertunjukan seni yang digelar secara rutin. Harapannya wisatawan tidak hanya datang untuk berbelanja atau kuliner, tetapi juga menikmati kekayaan seni dan budaya Batam," ujar Ardiwinata. 

Optimisme tersebut muncul seiring tren pertumbuhan sektor pariwisata Batam. Data Disbudpar menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025 jumlah kunjungan mencapai sekitar 1,61 juta wisatawan, sementara pemerintah menargetkan 1,75 juta kunjungan pada 2026. Hingga Februari 2026 saja, Batam telah menerima lebih dari 257 ribu wisatawan mancanegara. 

Pembangunan Taman Budaya mendapat dukungan karena dinilai mampu memperkuat identitas Batam yang selama ini lebih dikenal sebagai kota industri dan perdagangan. Namun sejumlah pengamat tata kota dan pemerhati kebijakan publik mengingatkan bahwa keberhasilan proyek semacam ini tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan. Banyak ruang budaya di berbagai daerah yang akhirnya sepi karena minim program, kurang melibatkan komunitas, serta belum memiliki model pengelolaan yang berkelanjutan.

Pandangan kritis tersebut menilai investasi puluhan miliar rupiah akan memberi manfaat apabila diikuti dengan agenda pertunjukan yang konsisten, kurasi kegiatan yang berkualitas, kemudahan akses bagi masyarakat, serta tata kelola yang profesional. Tanpa itu, taman budaya berpotensi hanya menjadi bangunan fisik yang belum mampu menggerakkan ekosistem seni dan ekonomi kreatif secara optimal.

Sebaliknya, pihak pemerintah meyakini proyek ini merupakan investasi jangka panjang bagi pengembangan budaya dan pariwisata Batam. Kehadiran ruang kreatif dinilai dapat memperkuat daya saing daerah sekaligus memberi ruang ekspresi bagi seniman lokal. 

Dengan demikian, pembangunan Taman Budaya sesungguhnya adalah membangun ekosistem. Sebuah kota tidak hanya dikenang karena gedung-gedung tinggi atau pusat perbelanjaannya, tetapi juga karena ruang yang mampu merawat ingatan kolektif, kreativitas, dan identitas masyarakatnya. Jika itu dikelola secara terbuka, melibatkan komunitas seni, serta menghadirkan program yang hidup sepanjang tahun, Taman Budaya Batam berpeluang menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata. Karena menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat jati diri kota di tengah derasnya arus modernisasi. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll