Saat Aplikasi Kencan Membuat Jenuh, Kencan Buta Menawarkan Harapan Baru?

Sejumlah lajang di kota-kota besar mulai menjadikan kencan buta terkurasi sebagai alternatif untuk...

Saat Aplikasi Kencan Membuat Jenuh, Kencan Buta Menawarkan Harapan Baru?

Sosbud
22 Agu 2026
303 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Saat Aplikasi Kencan Membuat Jenuh, Kencan Buta Menawarkan Harapan Baru?

Sejumlah lajang di kota-kota besar mulai menjadikan kencan buta terkurasi sebagai alternatif untuk mencari pasangan pada 2026. Pilihan ini muncul, antara lain, setelah sebagian dari mereka mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat menggunakan aplikasi kencan. Mereka berharap proses perkenalan dapat berlangsung lebih terarah, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Fenomena tersebut menunjukkan perubahan cara sebagian orang memandang hubungan: bukan lagi sekadar menemukan seseorang yang menarik, tetapi juga memastikan sejak awal bahwa calon pasangan memiliki karakter, kesiapan, serta cara memperlakukan orang lain yang dianggap layak.

Perubahan itu menarik karena teknologi yang semula menjanjikan kemudahan justru menghadirkan persoalan baru. Di aplikasi kencan, seseorang dapat bertemu puluhan bahkan ratusan orang hanya dengan menggeser layar. Tetapi kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan rasa aman dan kepercayaan. Identitas dapat dipalsukan, foto dapat dimanipulasi, status perkawinan tidak selalu mudah diverifikasi, dan kedekatan emosional dapat dibangun dengan sangat cepat.

Risiko tersebut bukan sekadar kekhawatiran abstrak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal 2026 menyebut love scam atau penipuan berkedok hubungan asmara sebagai salah satu tren kejahatan finansial digital yang meningkat secara global. Di Indonesia, OJK menyoroti terbongkarnya sindikat yang beroperasi secara internasional di Yogyakarta.

Pusiknas Bareskrim Polri juga mencatat hingga September 2025 terdapat 2.267 aduan love scam yang diterima OJK. Modusnya umumnya dimulai dari perkenalan melalui media sosial atau aplikasi kencan, kemudian pelaku membangun kepercayaan sebelum meminta uang, data pribadi, atau akses finansial. Karena itu, bagi sebagian orang persoalannya bukan lagi bagaimana menemukan sebanyak mungkin calon pasangan, melainkan bagaimana mempersempit pilihan kepada orang yang relatif lebih dapat dipercaya.

Di titik inilah jasa mak comblang dan kencan buta memperoleh ruang baru. Pada akhir Mei, Nina, bukan nama sebenarnya, datang dari Malang ke Surabaya untuk mengikuti sebuah acara kencan buta. Perempuan 30 tahun yang bekerja di sektor kreatif itu telah dua tahun melajang. Ia sebelumnya pernah menggunakan aplikasi kencan, tetapi pengalaman tersebut membuatnya lebih berhati-hati. "Saya tidak terlalu percaya dengan dating app karena beberapa kali hampir kena tipu, ada yang love bombing, ada pula yang meminta identitas diri (KTP)," kata Nina.

Kekhawatiran semacam itu memiliki konteks yang lebih luas. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebelumnya mengingatkan bahwa perempuan menjadi kelompok yang rentan dalam kasus love scam. Modus yang patut dicurigai antara lain identitas palsu, rayuan yang terlalu cepat, penolakan melakukan video call atau bertemu langsung, hingga permintaan uang.

Namun di acara baru yang diikuti Nina, yang penyelenggaranya adalah Blinddate Indonesia, menurut pengakuan Nina, situasinya berbeda. Peserta tidak langsung memilih pasangan berdasarkan foto profil. Mereka bertemu secara langsung dan diberi waktu berbicara secara bergantian. 

Pendiri Blinddate Indonesia, Mahathir Al Afgahani Zein, mengatakan kurasi bukan sekadar menentukan siapa yang dianggap menarik. "Kesetaraan itu penting untuk kelangsungan hubungan. Pernikahan, misalnya, merupakan ibadah terlama dalam keyakinan saya, yakni Islam. Jadi, kesetaraan dalam finansial, kestabilan ekonomi, mental hingga hobi merupakan faktor-faktor yang memengaruhi kurasi itu," kata Al.

Bahkan disebutkan pada sesi ke-22, ada sekitar 1.300 orang telah mendaftarkam diri, tetapi hanya 12 orang, yaitu enam perempuan dan enam laki-laki yang lolos seleksi. Proses kurasi berlangsung sekitar 14 hari dengan melibatkan tim yang menilai sejumlah aspek calon peserta.

Konsep tersebut mengubah posisi mak comblang. Jika dahulu mak comblang lebih dekat dengan peran seseorang yang mengenalkan dua orang berdasarkan pengetahuan personal, jasa modern mencoba memasukkan unsur seleksi, penyaringan, bahkan pencocokan karakter dan ekspektasi. Meski di situ tetap muncul pertanyaan seberapa jauh seseorang dapat dikurasi hanya berdasarkan formulir, wawancara, dan informasi yang diberikan sebelum pertemuan?

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Desintha Asriani, melihat munculnya layanan mak comblang sebagai bagian dari perubahan pola interaksi sosial. Menurutnya, masyarakat yang sebelumnya berkenalan melalui ruang daring mulai mencari kembali interaksi langsung. "Permintaan itu terbentuk dari perubahan sosial online ke offline, secara sosiologis ini juga menggambarkan fenomena kelas sosial, karena yang bisa mengakses itu pasti orang-orang yang punya kemampuan untuk membayar jasa mak comblang," ujar Desintha.

Pernyataan tersebut memberi sisi lain pada fenomena kencan buta. Di satu sisi, layanan berbayar dapat memberikan kurasi dan rasa nyaman. Di sisi lain, akses tersebut tidak otomatis terbuka bagi semua orang. Ketika pencarian pasangan mulai menggunakan jasa profesional, cinta pun sedikit banyak masuk ke dalam mekanisme pasar: ada biaya, seleksi, kriteria, dan layanan yang dijanjikan.

Lebih penting dan perlu diperhatikan lagi, kurasi tetap memiliki keterbatasan. Seseorang mungkin terlihat cocok dari sisi pekerjaan, pendidikan, pendapatan, hobi, bahkan visi hidup. Tetapi karakter seseorang dalam hubungan tidak selalu dapat dibaca melalui formulir pendaftaran. Misalnya dalam menimbang sikap menghargai pasangan, kemampuan mengelola konflik, kecenderungan mengontrol, kejujuran, maupun potensi perilaku manipulatif itu membutuhkan proses dan waktu untuk terlihat keakuratannya.

Karena itu, kurasi sebaiknya dipahami sebagai lapisan penyaring awal, bukan jaminan bahwa seseorang pasti menjadi pasangan yang aman. Peneliti agama, budaya, dan kesehatan mental Universitas Gadjah Mada, Ladrina Bagan, bahkan melihat perubahan yang lebih mendasar dalam fenomena tersebut. Menurutnya, sebagian orang saat ini tidak lagi menjadikan status menikah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Mereka yang memiliki pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jejaring sosial, serta kemampuan untuk hidup mandiri sering dikatakan telah berhasil dalam hidupnya.

Karena itu, tuntutan terhadap pasangan pun berubah. "Perempuan sekarang sudah mulai sadar, yang dituntut hanyalah decent human being, orang yang tahu cara memperlakukan orang lain dengan benar," kata Ladrina. Standar itu mungkin terdengar sederhana. Namun, secara sosial, ia cukup penting. Sebab, bagi perempuan misalnya yang dicari bukan semata-mata laki-laki dengan penghasilan tinggi, pendidikan tertentu, atau penampilan menarik. Yang semakin diperhatikan adalah apakah hubungan tersebut memungkinkan kedua orang tetap menjadi dirinya sendiri.

Desintha menyebut perubahan tersebut berkaitan dengan meningkatnya pendidikan, karier, dan independensi ekonomi perempuan. "Semakin banyak pertimbangan-pertimbangan untuk memutuskan menikah, seperti menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, lalu berkarir dan mendapatkan independensi ekonomi, sehingga terdapat rasionalitas untuk menunda pernikahan," ujarnya. Dengan kata lain, sebagian orang tidak menolak pernikahan. Hanya tidak ingin menikah dengan mengorbankan terlalu banyak hal yang telah dibangun sejak awal dalam hidupnya. 

Fenomena ini juga perlu ditempatkan dalam konteks perubahan demografi. Data pencatatan pernikahan nasional menunjukkan jumlah pernikahan memang mengalami penurunan cukup tajam setelah 2022. Namun, pada 2025 terdapat sedikit kenaikan. Kementerian Agama mencatat 1.479.533 peristiwa pernikahan sepanjang 2025 berdasarkan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), dibandingkan 1.478.302 pada 2024. Pada 2023 jumlahnya masih 1.577.255 dan pada 2022 mencapai 1.705.348. 

Kementerian Agama menyebut kenaikan 2025 sebagai indikasi awal bahwa tren penurunan mulai berhenti. Sementara Data BPS juga telah menyediakan statistik nikah dan cerai menurut provinsi untuk 2025, menunjukkan bahwa dinamika perkawinan perlu dibaca bukan hanya sebagai persoalan jumlah, tetapi juga perubahan perilaku sosial dan demografis.

Karena itu, kurang tepat jika fenomena meningkatnya kencan buta langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa masyarakat semakin enggan menikah. Bisa jadi yang berubah bukan keinginan untuk menikah, melainkan cara orang menentukan dengan siapa mereka bersedia menikah. Pernikahan menjadi tidak lagi selalu dipandang sebagai tujuan yang harus segera dicapai, melainkan semakin diperlakukan sebagai keputusan besar yang memerlukan kesiapan finansial, emosional, sosial, bahkan kesesuaian nilai.

Dinda, bukan nama sebenarnya, seorang PNS yang mengikuti acara kencan buta, juga melihat pernikahan sebagai perjalanan panjang. "Kalau hanya cinta, mau makan apa saya? Maka kita butuh logika juga untuk bertahan, harus seimbang antara keduanya, termasuk yang paling penting, literasi finansial," katanya.

Pandangan itu mungkin terdengar pragmatis, tetapi justru menunjukkan perubahan penting dalam cara generasi sekarang memandang perkawinan. Cinta tidak dianggap cukup untuk menyelesaikan persoalan ekonomi. Pendapatan tidak dianggap cukup untuk menciptakan keintiman. Kesamaan agama atau nilai tidak otomatis menjamin komunikasi yang sehat. Dan ketertarikan fisik tidak dengan sendirinya menghasilkan kesetaraan. Semua unsur tersebut harus dapat dinegosiasikan oleh dua pihak.

Nina pun memiliki pandangan serupa. "Saya butuhnya apa, dia butuhnya apa, kira-kira bisa saling melengkapi atau tidak, ketika itu terjadi, cinta bisa bertumbuh," ujarnya. Kencan buta yang ia ikuti bukan semata-mata tentang menemukan pasangan dalam satu malam. Bagi Nina, pertemuan tersebut justru menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya membuka diri.

"Aku mau coba membuka diri dan pengen tes diriku," katanya. Setelah acara berakhir, ia tidak serta-merta mendapatkan pasangan. Ia masih berkomunikasi dengan beberapa peserta dan tetap menjalani kehidupannya seperti biasa. Lalu di situlah mungkin letak makna baru kencan buta bahwa hasilnya tidak selalu harus pernikahan.

Kencan tatap muka memang dapat mengurangi sejumlah risiko yang muncul dari interaksi digital sebagaimana ditawarkan aplikasi kencan. Pertemuan berlangsung di tempat terbuka, identitas calon pasangan dapat diamati secara langsung, dan peserta dapat melihat bagaimana seseorang berbicara serta memperlakukan orang lain. 

Tetapi itu bukan berarti kencan buta otomatis aman. Orang yang tampak baik dalam satu pertemuan belum tentu memiliki karakter yang sama setelah hubungan menjadi lebih dekat. Ladrina mengingatkan para pencari pasangan untuk menjaga ekspektasi dan tidak buru-buru menganggap seseorang sebagai soulmate hanya karena terdapat kecocokan dalam pertemuan pertama. Untuk pertemuan awal, ia menyarankan agar orang tetap bertemu di tempat umum, tidak memberikan data pribadi secara berlebihan, dan tidak menyerahkan kendali perjalanan kepada orang yang baru dikenal.

Nasihat tersebut sejalan dengan peringatan pemerintah mengenai love scam: jangan mudah mengirim uang atau informasi pribadi, lakukan verifikasi identitas, dan libatkan orang yang dipercaya ketika merasa ragu. Dengan demikian, persoalan keamanan sebenarnya bukan milik aplikasi kencan semata. Ia melekat pada seluruh proses pencarian pasangan.

Jika dunia digital mempunyai fake profile, dunia nyata pun memiliki kepura-puraan. Aplikasi dapat memalsukan foto, pertemuan langsung juga tidak serta-merta membuat seseorang sepenuhnya jujur. Karena itu, keamanan yang sesungguhnya bukan hanya soal di mana seseorang bertemu, tetapi juga tentang seberapa baik seseorang mengenali batas, memverifikasi informasi, dan berani mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman.

Pergeseran ini bukan fenomena Indonesia semata. Di Korea Selatan, persoalan mencari pasangan bahkan telah bersinggungan dengan kekhawatiran negara terhadap rendahnya angka kelahiran. Pada Juli 2026, Reuters melaporkan kegiatan matchmaking retreat di Kuil Naksansa yang mempertemukan para lajang melalui aktivitas yang lebih reflektif, termasuk permainan membangun kepercayaan dan perkenalan secara langsung.

Acara yang digagas Korean Buddhist Foundation for Social Welfare itu mendapat 4.225 pendaftar untuk hanya 20 tempat pada 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya minat terhadap ruang perkenalan yang berbeda dari mekanisme kencan digital.

Menariknya, tingkat fertilitas Korea Selatan memang sedikit meningkat dari 0,75 pada 2024 menjadi 0,80 pada 2025, meski masih sangat rendah. Pencarian pasangan kini tidak lagi semata-mata persoalan privat, melainkan sudah menjadi urusan negara. Di sejumlah negara bahkan sudah bersentuhan dengan persoalan demografi, struktur keluarga, kebijakan sosial, dan masa depan penduduk.

Di balik maraknya jasa mak comblang, kencan buta, hingga komunitas pencari pasangan, ada sesuatu yang lebih dalam daripada kejenuhan terhadap fitur swipe aplikasi kencan. Sebab ada kelelahan terhadap ketidakpastian dan ketidakpastian tentang siapa sebenarnya orang di balik layar. Ketidakpastian tentang apakah seseorang benar-benar lajang, ketidakpastian tentang apakah perhatian adalah ketulusan atau strategi manipulasi, dan bagi banyak perempuan dan laki-laki, ada satu ketakutan yang lebih besar jangan sampai keputusan mencari pasangan malah membuat mereka kehilangan rasa aman yang selama ini mereka bangun sendiri.

Karena itu, ketika Nina mengatakan masih mencari pasangan tetapi ingin menjalaninya dengan santai, kalimat tersebut sebenarnya menggambarkan perubahan zaman. Dahulu, menjadi lajang sering dianggap sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan. Sekarang, sebagian perempuan justru mengatakan: hidup saya sudah berjalan. Saya memiliki pekerjaan, teman, keluarga, cita-cita, dan kehidupan yang saya bangun sendiri. Jika seseorang datang, ia seharusnya tidak membuat kehidupan itu menjadi lebih kecil.

Mungkin itulah sebabnya kencan buta kembali menemukan tempatnya. Bukan karena manusia ingin kembali ke masa sebelum internet, melainkan karena di tengah teknologi yang semakin mampu mempertemukan siapa saja, manusia justru kembali merindukan sesuatu yang paling sederhana tapi monumental di kala bertemu, berbicara, melihat bagaimana seseorang mendengarkan, lalu perlahan-lahan memutuskan apakah kehadirannya layak diberi ruang dalam kehidupan kita.

Hal yang perlu dicatat bahwa tidak ada algoritma, mak comblang, maupun proses kurasi yang mampu menjamin seseorang menemukan pasangan yang tepat. Cinta tetaplah menyisakan kemungkinan salah pilih. Tetapi ukuran keberhasilan pencarian pasangan memang bukan seberapa cepat seseorang menemukan jodoh, melainkan seberapa sadar ia memilih tanpa tekanan usia, tanpa ketakutan menjadi sendirian, dan tanpa harus mengorbankan martabatnya hanya demi status menikah.

Sebab hadirnya pasangan hidup seharusnya bukan seseorang yang datang untuk menyelamatkan kita dari kesendirian, melainkan ia adalah seseorang yang, setelah kita mampu berdiri sendiri, lalu memilih berjalan bersama sampai ujung kemungkinannya. Dan barangkali, di tengah dunia yang semakin mudah mempertemukan manusia tetapi semakin sulit membuat mereka saling percaya, ruang aman untuk mencari cinta adalah menjadi kebutuhan yang sama pentingnya dengan cinta itu sendiri. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll