Sekolah Wartawan untuk Warga yang Menulis

Sekolah menulis ala wartawan kini diselenggarakan untuk seluruh warga Indonesia yang memiliki minat...

Sekolah Wartawan untuk Warga yang Menulis

Eduka
22 Des 2025
210 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Sekolah Wartawan untuk Warga yang Menulis

Sekolah menulis ala wartawan kini diselenggarakan untuk seluruh warga Indonesia yang memiliki minat pada dunia kepenulisan dan pemberitaan. Program ini dipandu oleh wartawan senior berpengalaman dari Media Indonesia dan Tribun. Hingga kini, sekolah tersebut telah memasuki angkatan ke-15, dengan seluruh proses pembelajaran dilaksanakan secara daring. Tujuannya adalah memberikan pendampingan “jurnalisme warga” sebagai bagian dari upaya demokratisasi informasi dan berita.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat dihadapkan pada tantangan serius berupa maraknya hoaks, disinformasi, dan rendahnya pemahaman terhadap kode etik jurnalistik. Tak sedikit unggahan warga di media sosial dilakukan tanpa verifikasi, konteks, maupun tanggung jawab, sehingga informasi yang beredar kerap menyesatkan dan memicu kebingungan publik.

Kondisi inilah yang mengetuk kesadaran Sulistiono, pria kelahiran Klaten yang akrab disapa Bang Mandor. Dengan pengalaman lebih dari 23 tahun sebagai wartawan di Media Indonesia dan Tribun, ia tergerak untuk memberikan pendampingan intensif kepada warga yang ingin menulis berita secara baik, benar, dan bertanggung jawab. Melalui sekolah menulis ini, Bang Mandor berupaya menjembatani semangat warga untuk bercerita dengan kaidah jurnalistik yang menjunjung etika dan akurasi.

Salah satu peserta, Nur Alamsyah, warga Bintan, Kepulauan Riau, yang berprofesi sebagai teknisi listrik, mengaku tertarik mengikuti program ini karena ingin menulis dengan lebih sistematis dan mudah dipahami. “Dengan menulis, saya bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan soal kelistrikan. Banyak masyarakat yang belum memahami dasar-dasar listrik, dan itu sering memicu kecelakaan,” ujarnya.

Menurut Bang Mandor, program ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar menjadi subjek aktif dalam proses pemberitaan. “Jurnalisme warga memiliki peran penting dalam menghadirkan liputan hiperlokal, yakni berita dan peristiwa yang terjadi di komunitas terdekat. Warga dapat menyajikan laporan mendalam tentang isu-isu yang kerap luput dari perhatian media arus utama,” tegasnya.

Ia menambahkan, ketika warga menjadi produsen informasi, berita yang dihasilkan akan lebih kontekstual dan membumi. Warga cenderung hadir langsung di lokasi kejadian, memahami dinamika sosial setempat, serta mampu menangkap persoalan hingga ke tingkat kampung dan pedesaan. Sementara itu, jurnalis media mainstream seringkali terpusat di kota dan hanya menjangkau wilayah hingga level kabupaten atau kota.

Melalui pendampingan intensif ini, peserta diharapkan mampu berpartisipasi aktif dalam ekosistem informasi yang sehat. Kehadiran jurnalis warga diharapkan dapat memperkaya lanskap media dengan sudut pandang yang beragam, meningkatkan sensitivitas terhadap isu lokal, serta mendorong praktik pemberitaan yang lebih bertanggung jawab.

Dalam proses pembelajarannya, peserta mendapatkan pembekalan seputar dasar-dasar jurnalisme warga, mulai dari anggapan bahwa menulis bukanlah sesuatu yang sulit, teknik menyusun berita secara luas dan mendalam, hingga cara menentukan sudut pandang atau angle yang unik. Dengan demikian, berita yang dihasilkan tidak seragam, melainkan menjadi alternatif informasi penting tentang peristiwa terkini di daerah masing-masing.

Program menulis ala wartawan ini juga dilengkapi dengan materi e-book, video serial yang dapat ditonton berulang, serta tiga kali pertemuan interaktif melalui Zoom Meeting. Melalui kombinasi teori dan praktik tersebut, peserta diharapkan memenuhi kriteria sebagai jurnalis warga yang memahami prinsip-prinsip jurnalistik, mampu menulis berita secara etis, dan berkontribusi pada terwujudnya demokrasi informasi yang lebih sehat dan beradab. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll