Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, kembali menjadi perhatian para peneliti setelah ditemukannya bunga rafflesia di kawasan Hutan Bukit Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan. Temuan yang diidentifikasi sebagai Rafflesia Hasseltii oleh tim peneliti IPB University ini memperkaya catatan keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus membuka pertanyaan bagaimana nasib bunga langka tersebut di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap lokasi tumbuhnya.
Penemuan ini memiliki arti khusus karena Kepulauan Anambas selama ini lebih dikenal sebagai wilayah kepulauan dan kawasan konservasi laut. Keberadaan rafflesia menunjukkan bahwa hutan-hutan daratan di gugusan pulau terluar Indonesia itu juga menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap.
Indonesia sendiri merupakan salah satu pusat persebaran rafflesia terbesar di dunia. Berdasarkan catatan terbaru para peneliti dan BRIN, jumlah jenis rafflesia yang telah dikenali di Indonesia terus bertambah. Jika pada 2018 pemerintah mencatat 13 jenis rafflesia yang dilindungi, hingga 2026 jumlahnya telah mencapai sedikitnya 16 jenis, seiring munculnya berbagai hasil penelitian dan identifikasi spesies baru.
Dalam dua tahun terakhir, publikasi ilmiah mengenai rafflesia terus bermunculan. Pada awal 2026, misalnya, tim peneliti BRIN dan Universitas Bengkulu mengumumkan identifikasi spesies baru bernama Rafflesia Harjatii dari kawasan Sepaku, Kalimantan Timur. Spesies tersebut sebelumnya telah diketahui keberadaannya selama puluhan tahun, namun baru dapat dipastikan identitasnya setelah melalui kajian morfologi dan analisis genetik yang mendalam.
Temuan di Anambas pun masih menyisakan ruang diskusi ilmiah. Peneliti IPB yang melakukan identifikasi awal menyatakan keyakinan mereka belum mencapai 100 persen. Dengan kata lain, bunga yang ditemukan di Bukit Batu Tabir masih berpeluang diklasifikasikan sebagai jenis lain apabila penelitian lanjutan menemukan karakteristik yang berbeda.
Dalam laporan penelitian awal yang diterbitkan pada 2026, tim peneliti menyebut keberadaan rafflesia di kawasan Anambas sebenarnya telah diketahui masyarakat setempat sejak bertahun-tahun lalu. Namun, dokumentasi ilmiah yang memadai baru dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti juga mengingatkan bahwa meningkatnya kunjungan masyarakat ke lokasi bunga dapat menjadi ancaman apabila tidak diikuti pengelolaan dan perlindungan yang baik.
“Keberadaan Rafflesia di Anambas menjadi titik awal penelitian lebih lanjut dan memerlukan perlindungan yang serius,” tulis tim peneliti dalam publikasi ilmiahnya mengenai identifikasi awal rafflesia di Kepulauan Anambas.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari para pegiat konservasi yang menilai temuan ini dapat menjadi momentum memperkuat perlindungan hutan-hutan tersisa di Anambas. Menurut mereka, keberadaan spesies langka biasanya menunjukkan bahwa suatu kawasan masih memiliki kualitas ekosistem yang relatif baik.
Namun di sisi lain, ada pula kekhawatiran bahwa popularitas rafflesia justru dapat memicu tekanan baru terhadap habitatnya. Pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan meningkatnya wisatawan sering diikuti aktivitas pembukaan jalur, sampah, hingga gangguan terhadap tumbuhan inang yang menjadi tempat hidup rafflesia.
Rafflesia merupakan tumbuhan yang sangat unik sekaligus rentan. Berbeda dengan tanaman pada umumnya, rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun akar yang berfungsi normal. Ia hidup sebagai parasit pada tumbuhan inang dari genus Tetrastigma. Kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitar, mulai dari kelembapan, kesehatan inang, hingga kestabilan ekosistem hutan.
Keistimewaan lain bunga ini terletak pada siklus hidupnya. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sejak fase kuncup hingga siap mekar sempurna. Namun ketika mekar, keindahan itu hanya bertahan sekitar lima hingga tujuh hari sebelum akhirnya layu dan membusuk. Karena itulah setiap kemunculan rafflesia selalu menjadi peristiwa langka yang menarik perhatian masyarakat dan peneliti.
Di Anambas, aparat kehutanan bahkan telah meningkatkan pengawasan ketika bunga tersebut mekar dan mulai ramai dikunjungi masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kerusakan pada lokasi tumbuhnya bunga maupun tumbuhan inang yang menopang kehidupannya.
Kisah rafflesia dari Anambas bukan hanya cerita tentang bunga terbesar di dunia yang tumbuh di tengah hutan tropis. Ia juga menjadi pengingat bahwa banyak kekayaan alam Indonesia masih menunggu untuk dikenali dan dipahami. Setiap penemuan baru menghadirkan kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab yang tidak kecil.
Sebab ketika sebuah rafflesia mekar, yang sesungguhnya sedang diperlihatkan kepada manusia bukan sekadar bunga langka. Ia adalah hasil kerja panjang alam yang berlangsung bertahun-tahun dalam keheningan hutan. Dan ketika bunga itu layu hanya dalam hitungan hari, ia meninggalkan pertanyaan apakah manusia mampu menjaga hutan yang membuatnya tetap hidup, atau justru menjadi alasan mengapa suatu hari nanti ia hanya tinggal catatan dalam jurnal penelitian. (Red)