PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mulai menguji penanaman sorgum di lahan seluas 20 hektare di Lampung pada Juni 2026 sebagai bagian dari penugasan pemerintah dalam mendukung hilirisasi dan transisi energi. Uji coba tersebut dilakukan untuk mempelajari teknik budidaya serta menyiapkan pasokan bahan baku bioetanol, seiring target pemerintah mengembangkan lahan sorgum hingga 24.000 hektare dalam jangka panjang.
Berbeda dengan tebu yang selama ini menjadi bahan baku utama bioetanol, sorgum dipandang sebagai komoditas alternatif yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan kering dan memiliki potensi produktivitas yang cukup menjanjikan. Karena itu, Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan, mengingat daerah tersebut juga tengah dipersiapkan sebagai pusat pengembangan ekosistem bioetanol nasional.
Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, mengakui perusahaan masih berada pada tahap belajar. "Sementara masih 20 hektare kita coba kembangkan di Lampung. Kita coba pelajari budi dayanya seperti apa, karena PTPN I belum pernah tanam sorgum," ujar Aris dalam pertemuan bersama media di Jakarta.
Menurutnya, skala terbatas sengaja dipilih agar perusahaan dapat memahami karakteristik tanaman, mulai dari varietas yang cocok, pola pemeliharaan, produktivitas hingga sistem pascapanen. "PTPN butuh belajar. Tapi nanti kalau PTPN sudah bisa menguasai komoditas ini, mungkin bisa dipercepat pengembangannya sesuai target pemerintah," katanya.
Selain sorgum, PTPN I juga memperoleh penugasan untuk mengembangkan singkong sebagai bahan baku alternatif bioetanol. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas sumber bahan baku sehingga industri bioetanol nasional tidak hanya bergantung pada tebu.
Pemerintah sebelumnya menetapkan Lampung sebagai wilayah prioritas pengembangan bioetanol. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu menyebut provinsi tersebut memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku dan infrastruktur logistik. Pemerintah bahkan menargetkan implementasi campuran bioetanol 10 persen (E10) secara bertahap mulai 2028.
Sejumlah proyek pendukung juga tengah disiapkan, termasuk kerja sama pengembangan industri bioetanol antara Pertamina New dan Renewable Energy dengan Toyota Tsusho yang direncanakan berlokasi di Lampung. Pengembangan sorgum sebagai bahan baku energi mendapat dukungan dari kalangan yang melihatnya sebagai jalan menuju ketahanan energi dan pengurangan impor bahan bakar fosil.
Pendukung program ini menilai diversifikasi bahan baku bioetanol penting agar Indonesia memiliki lebih banyak pilihan sumber energi terbarukan. Sorgum juga dikenal lebih tahan terhadap kekeringan dibanding beberapa tanaman pangan lainnya. Namun sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pengembangan biofuel tidak boleh mengorbankan ketahanan pangan maupun keberlanjutan lingkungan. Mereka menilai perlu ada kajian mendalam mengenai efisiensi energi, kebutuhan lahan, serta dampaknya terhadap komoditas pangan dan ekosistem.
Sebagian pihak mempertanyakan apakah energi yang dibutuhkan dalam proses produksi bioetanol sebanding dengan energi yang dihasilkan, sementara pihak lain menilai teknologi generasi baru berbasis multi-feedstock justru dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.
Target pengembangan hingga 24.000 hektare tentu bukan angka yang kecil. Namun, bagi PTPN I, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, melainkan juga oleh kemampuan menguasai teknologi dan membangun rantai pasok yang berkelanjutan. "Targetnya sampai 24.000 hektare. Artinya memang PTPN harus membekali diri dulu," kata Aris Handoyo.
Proyek transisi energi ini diharapkan bukan sebatas mengganti bensin dengan bioetanol, melainkan juga tentang bagaimana sebuah bangsa belajar memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya secara lebih bijak. Di balik hamparan ladang sorgum yang baru mulai ditanam itu, apakah Indonesia mampu membangun kemandirian energi tanpa mengabaikan keseimbangan antara kebutuhan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan petani?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak akan ditemukan dalam satu musim tanam, tetapi melalui kesabaran untuk belajar dari setiap benih yang mulai tumbuh hari ini atau esok nanti. (Red)