Gelombang investasi pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengalir deras ke Batam sepanjang 2025 hingga 2026. Sejumlah perusahaan global dan regional telah memulai pembangunan fasilitas berskala besar di kawasan Nongsa dan Kabil. Di tengah optimisme menjadikan Batam sebagai pusat ekonomi digital baru Indonesia, pemerintah, pelaku industri, dan lembaga pendidikan kini menghadapi pertanyaan dan tantangan apakah pasokan listrik, air bersih, dan sumber daya manusia lokal mampu mengimbangi laju investasi tersebut?
Pertanyaan itu muncul seiring semakin nyata realisasi proyek-proyek data center yang sebelumnya hanya berada di atas rencana. Salah satu yang telah berjalan adalah ekspansi perusahaan pusat data DayOne di Batam. Pada April 2026, BP Batam bersama PLN Batam dan DayOne menandatangani kerja sama penyediaan listrik untuk pengembangan kampus data center hyperscale di Kabil Industrial Tech Park (KITP). Kapasitas listrik yang disiapkan mencapai 511 MVA atau setara sekitar 450 megawatt (MW), menjadikannya salah satu pelanggan listrik data center terbesar di Indonesia.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan sebagian investasi yang diumumkan beberapa tahun terakhir kini telah memasuki tahap realisasi. Salah satunya adalah proyek DayOne di Nongsa Digital Park yang nilai investasinya diperkirakan telah mencapai Rp4 triliun hingga Rp5 triliun.
“Mereka sudah beraktivitas dan terus melaporkan perkembangan investasinya melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM),” ujar Fary.
Masuknya industri pusat data membawa konsekuensi yang berbeda dibandingkan sektor manufaktur konvensional. Jika pabrik membutuhkan bahan baku dan tenaga kerja dalam jumlah besar, maka data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil tanpa henti selama 24 jam serta sistem pendingin yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Karena itu, isu utama yang kini menjadi perhatian bukan lagi bagaimana menarik investor datang ke Batam, melainkan bagaimana memastikan infrastruktur dasar mampu menopang pertumbuhan industri digital dalam jangka panjang.
Fary mengatakan kebutuhan air untuk kawasan data center telah dipetakan. Pada tahap awal, kebutuhan diperkirakan mencapai sekitar 150 liter per detik. Dalam jangka panjang, angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga 404 liter per detik.
Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, BP Batam menyiapkan kombinasi pasokan dari waduk dan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yaitu sistem pengolahan air laut menjadi air bersih. Saat ini BP Batam juga tengah mematangkan proyek SWRO di kawasan Kabil dan Nongsa Digital Park sebagai sumber pasokan tambahan bagi kawasan industri digital.
Namun rencana ini memunculkan perdebatan. Sebagian pihak melihat investasi data center sebagai peluang emas yang dapat mengubah struktur ekonomi Batam dari kota industri manufaktur menjadi pusat teknologi regional. Namun, sebagian lainnya mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan distribusi air bersih masih menjadi keluhan warga di sejumlah wilayah Batam, terutama saat debit waduk mengalami penurunan pada musim kemarau. Di tengah kondisi tersebut, hadirnya industri yang membutuhkan air dan energi dalam skala besar berpotensi menimbulkan tekanan baru apabila kapasitas infrastruktur tidak bertambah secara signifikan.
Direktur Politeknik Negeri Batam, Bambang Hendrawan, termasuk pihak yang mendukung percepatan investasi data center. Menurutnya, Batam tidak memiliki banyak waktu untuk menunda karena persaingan memperebutkan investasi digital berlangsung sangat ketat di kawasan Asia Tenggara.
“Batam harus siap dan harus mulai menyiapkan diri dari sekarang. Kalau menunggu semuanya sempurna, kita bisa kehilangan momentum dan peluang investasi itu akan berpindah ke daerah atau negara lain yang lebih siap,” ujarnya.
Bambang menilai tantangan terbesar bukan pada masuknya investasi itu sendiri, melainkan kemampuan pemerintah meningkatkan kapasitas layanan publik secara bersamaan. “Tantangannya adalah bagaimana kebutuhan listrik dan air untuk industri bisa terpenuhi tanpa mengganggu layanan kepada masyarakat. Investasi ini seharusnya menjadi pemicu peningkatan kapasitas infrastruktur secara menyeluruh, bukan sebaliknya,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen BP Batam yang menilai kesiapan infrastruktur dan kemudahan regulasi sebagai faktor utama menarik investor global. Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyatakan bahwa pemerintah daerah dan BP Batam berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung agar pertumbuhan investasi berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, tidak semua tantangan berbentuk fisik. Di balik bangunan server raksasa dan kabel serat optik yang membentang, terdapat persoalan lain yang tak kalah penting, yakni kesiapan sumber daya manusia.
Bambang mengungkapkan bahwa hingga kini informasi kebutuhan tenaga kerja dari sejumlah proyek data center masih terbatas. Padahal, data tersebut sangat diperlukan oleh perguruan tinggi dan lembaga pelatihan untuk menyesuaikan kurikulum serta menyiapkan lulusan yang sesuai kebutuhan industri.
“Kalau kebutuhan SDM itu dibuka sejak awal, kampus bisa lebih cepat menyiapkan talenta yang sesuai. Jadi ketika industri mulai beroperasi, tenaga kerjanya juga sudah tersedia,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan Batam sebagai pusat data nasional tidak boleh hanya diukur dari nilai investasi atau megahnya fasilitas yang dibangun. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar masyarakat lokal mendapatkan manfaat ekonomi dan kesempatan kerja dari transformasi tersebut. “Jangan sampai investasinya datang, tetapi SDM lokal belum siap sehingga peluang kerjanya justru lebih banyak diisi tenaga dari luar daerah,” tegasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran data center menunjukkan bahwa ekonomi dunia sedang bergerak ke arah baru. Jika pada masa lalu Batam tumbuh karena galangan kapal, manufaktur elektronik, dan kawasan industri, maka kini pertumbuhan mulai ditopang oleh data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan.
Namun sejarah pembangunan juga mengajarkan bahwa investasi besar tidak selalu otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Infrastruktur yang kuat, tata kelola yang transparan, lingkungan yang terjaga, serta kesiapan manusia menjadi faktor penentu apakah sebuah peluang akan berubah menjadi kemajuan atau justru menimbulkan kesenjangan baru.
Dengan demikian, ujian Batam bukan lagi seberapa besar kemampuan menarik investor, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sumber daya alam, dan kepentingan masyarakat. Sebab kota yang berhasil bukanlah kota yang dipenuhi gedung-gedung teknologi paling canggih, melainkan kota yang mampu memastikan kemajuan digital berjalan seiring dengan kualitas hidup warganya. (Red)