Perpustakaan di Hotel Berbintang: Antara Tren Gaya Hidup dan Akses Literasi

Sejumlah hotel berbintang di kawasan perkotaan, termasuk di wilayah penyangga Jakarta, mulai...

Perpustakaan di Hotel Berbintang: Antara Tren Gaya Hidup dan Akses Literasi

Eduka
25 Apr 2026
150 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Perpustakaan di Hotel Berbintang: Antara Tren Gaya Hidup dan Akses Literasi

Sejumlah hotel berbintang di kawasan perkotaan, termasuk di wilayah penyangga Jakarta, mulai menghadirkan perpustakaan sebagai fasilitas tambahan bagi tamu. Fasilitas ini tidak hanya menawarkan ruang membaca, tetapi juga pengalaman relaksasi yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota. Meski aksesnya masih terbatas hanya untuk tamu hotel, gejala memunculkan pertanyaan sejauh mana ruang literasi ini benar-benar berkontribusi pada peningkatan budaya baca masyarakat.

Fenomena ini tampak di Novotel Tangerang BSD City, yang menghadirkan ruang baca tersembunyi bernama The Secret Library. Terletak di balik dinding sederhana bertuliskan “The Library”, sebagai ruang yang dirancang sebagai tempat pelarian sunyi bagi tamu hotel. Dengan koleksi sekitar 1.000 buku, ruang seluas kurang lebih 60 meter persegi itu dipenuhi rak-rak estetik, sofa empuk, serta pencahayaan hangat yang menciptakan suasana intim.

Tidak sekadar ruang membaca, perpustakaan ini juga menjadi bagian dari strategi pengalaman tamu (guest experience). Banyak pengunjung memanfaatkannya untuk bersantai, bekerja ringan, atau bahkan sekadar berfoto. Dalam beberapa tahun terakhir, tren “aesthetic space” memang menjadi bagian penting dalam industri perhotelan global, di mana desain interior yang Instagramable menjadi nilai tambah.

Konsep serupa juga diusung oleh The Orient Jakarta, a Royal Hideaway Hotel, yang menghadirkan Library Lounge sebagai perpaduan antara perpustakaan dan galeri seni. Dirancang oleh desainer ternama Bill Bensley, ruang ini mengusung koleksi buku bertema arsitektur, sejarah, dan budaya Nusantara. Di sini, membaca tidak hanya menjadi aktivitas individual, tetapi juga bagian dari pengalaman estetika yang lebih luas.

Menurut data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah meskipun menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks ini, kehadiran ruang baca di hotel sebenarnya bisa menjadi peluang untuk memperluas akses literasi, terutama di ruang-ruang publik non-konvensional.

Pengamat literasi dari Perhimpunan Literasi Indonesia, Wien Muldian, menilai bahwa inisiatif ini memiliki potensi positif, tetapi belum sepenuhnya inklusif. “Ini langkah menarik karena membawa buku ke ruang yang tidak biasa. Tapi jika hanya terbatas untuk tamu hotel, dampaknya terhadap literasi publik tentu sangat terbatas,” ujar Wien.

Di sisi lain, pihak pengelola hotel memiliki pertimbangan berbeda. Mereka menekankan bahwa pembatasan akses dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan eksklusivitas ruang. “Kami ingin menghadirkan ruang yang tenang dan personal bagi tamu. Jika dibuka untuk umum, dikhawatirkan suasana tersebut akan berubah,” ungkap salah satu perwakilan manajemen hotel.

Perdebatan ini mencerminkan tarik-menarik antara dua kepentingan, antara literasi sebagai kebutuhan publik dan layanan hotel sebagai produk komersial. Di satu sisi, perpustakaan hotel bisa menjadi simbol baru gaya hidup urban yang lebih reflektif. Di sisi lain, ia juga berisiko menjadi sekadar elemen dekoratif yang memperkuat citra eksklusif, tanpa benar-benar menjangkau masyarakat luas.

Di tengah perkembangan industri pariwisata yang semakin kompetitif, inovasi seperti ini memang tidak bisa dilepaskan dari strategi branding. Namun, jika dikelola dengan pendekatan yang lebih terbuka, misalnya melalui program kunjungan publik terbatas atau kolaborasi dengan komunitas literasi, ruang-ruang ini berpotensi menjadi jembatan antara dunia komersial dan kebutuhan sosial.

Perpustakaan di hotel berbintang menghadirkan sebuah ironi tentang buku, yang seharusnya menjadi jendela dunia bagi semua orang, justru berada di ruang-ruang yang tidak semua orang bisa masuk. Tetapi barangkali, di situlah letak kemewahannya karena membaca itu sendiri telah menjadi bagian dari kemewahan. Lalu dengan itu perlu kita menemukan cara untuk menjadikannya kembali sebagai kebutuhan bersama. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll