Peluang dan Tantangan Kerja Sama Indonesia-Belarus, Membaca Tujuh Kesepakatan di Istana Merdeka

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, di...

Peluang dan Tantangan Kerja Sama Indonesia-Belarus, Membaca Tujuh Kesepakatan di Istana Merdeka

Politik
03 Jul 2026
473 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Peluang dan Tantangan Kerja Sama Indonesia-Belarus, Membaca Tujuh Kesepakatan di Istana Merdeka

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (2/7/2026). Pertemuan bilateral yang menandai kunjungan kedua Lukashenko ke Indonesia dalam 13 tahun terakhir ini menghasilkan tujuh kesepakatan kerja sama strategis yang mencakup sektor industri, riset, hingga integrasi ekonomi melalui skema Indonesia–Eurasian Economic Union (IEAEU) Free Trade Agreement.

Langkah ini menjadi sinyal kuat upaya Indonesia untuk mendiversifikasi pasar ekspor di kawasan Eropa Timur. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pertemuan ini adalah fondasi bagi hubungan bilateral yang lebih intensif hingga tahun 2030.

Adapun tujuh poin kerja sama yang telah disepakati meliputi:

  1. Peta Jalan Kerja Sama 2026–2030: Blue print strategis hubungan kedua negara.
  2. Sinergi Industri: Nota kesepahaman antara Kementerian Perindustrian RI dan Belarus.
  3. Kesehatan & Kebudayaan: Perluasan kolaborasi sektor sosial dan medis.
  4. Riset & Inovasi: Kolaborasi teknis antara BRIN dan National Academy of Sciences of Belarus.
  5. Keamanan Finansial: Pertukaran intelijen keuangan antara PPATK dan otoritas Belarus terkait pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
  6. Akreditasi: Kerja sama standardisasi melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN).
  7. Integrasi Ekonomi: Implementasi IEAEU FTA untuk memangkas hambatan tarif dagang.

Kunjungan ini tak luput dari sorotan publik dan pengamat internasional. Di satu sisi, pemerintah memandang Belarus sebagai pintu gerbang strategis menuju pasar Uni Ekonomi Eurasia. "Dengan IEAEU FTA, sekitar 90 persen produk Indonesia akan mendapatkan akses bebas bea masuk ke Belarus," ujar Presiden Prabowo. Bagi pelaku usaha lokal, ini adalah angin segar untuk memperluas jangkauan produk manufaktur dan komoditas ke pasar nontradisional.

Namun, di sisi lain, hubungan dengan Belarus memicu perdebatan. Pengamat hubungan internasional, Dr. Aris Kusuma dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), memberikan catatan kritis. "Secara ekonomi, ini langkah progresif. Namun, Indonesia harus cermat menimbang posisi Belarus dalam dinamika geopolitik global saat ini, terutama terkait sanksi ekonomi dari blok Barat. Kita perlu memastikan bahwa kerja sama ini tetap dalam koridor pragmatisme ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas diplomasi Indonesia yang bebas-aktif," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak pemerintah menegaskan bahwa kerja sama ini murni berbasis ekonomi dan kesejahteraan rakyat. "Kami fokus pada kemitraan yang saling menguntungkan. Belarus memiliki keunggulan di bidang teknologi industri dan riset yang dapat kita serap untuk mendukung industrialisasi nasional," tambah pihak Kementerian Luar Negeri melalui juru bicaranya.

Di balik lembaran dokumen nota kesepahaman dan jabat tangan antar-kepala negara, ada tantangan besar bagi Indonesia, yaitu konsistensi. Sebuah perjanjian hanyalah kertas jika tidak dibarengi dengan implementasi yang terukur. Dalam spektrum yang lebih dalam, kunjungan ini mengingatkan kita bahwa negara adalah entitas yang terus bergerak mencari ruang di tengah sempitnya percaturan global. 

Bagi Indonesia, memegang prinsip "bebas-aktif" bukan berarti diam di tempat, melainkan mampu menjalin kemitraan dengan siapa saja selama memberikan dampak nyata bagi rakyat. Namun sukses atau tidaknya tujuh kesepakatan ini tidak dapat diukur dari kemeriahan seremoni di Istana Merdeka, melainkan dari seberapa efektif manfaatnya dirasakan oleh petani, pelaku industri, dan para inovator di tanah air dalam lima tahun ke depan. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll