Nusantara Beat: Band Belanda Ini Bikin Musik Indonesia Mendunia

Belakangan ini, linimasa media sosial ramai membicarakan sebuah band asal Belanda bernama Nusantara...

Nusantara Beat: Band Belanda Ini Bikin Musik Indonesia Mendunia

Sosbud
30 Des 2025
361 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Nusantara Beat: Band Belanda Ini Bikin Musik Indonesia Mendunia

Belakangan ini, linimasa media sosial ramai membicarakan sebuah band asal Belanda bernama Nusantara Beat. Perbincangan itu bukan tanpa alasan. Di berbagai panggung internasional, band ini tampil membawakan lagu-lagu berbahasa Indonesia, yang dinyanyikan dengan pelafalan yang fasih dan penghayatan yang tak terasa asing. Publik pun bertanya-tanya: bagaimana mungkin sebuah band dari Amsterdam terdengar begitu “Indonesia”?

Nusantara Beat adalah grup musik psikedelik modern yang berbasis di Amsterdam, Belanda. Band ini digawangi oleh Jordy Sanger (gitar), Megan de Klerk (vokal), Michael Joshua (bas), Rouzy Portier (gitar dan kibor), Sonny Groeneveld (drum), serta Gino Groeneveld (perkusi). Meski seluruh personelnya berkewarganegaraan Belanda, sebagian dari mereka memiliki garis keturunan Indonesia: sebuah latar yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam eksplorasi musikal mereka.

Hal yang paling menyita perhatian publik adalah sosok Megan de Klerk. Ia menyanyikan lagu-lagu Nusantara Beat dalam Bahasa Indonesia, bahkan sesekali menggunakan bahasa daerah seperti Sunda, Bali, dan Melayu dengan artikulasi yang nyaris tanpa cela. Fenomena ini bukan sekadar gimmick, melainkan hasil dari riset budaya dan musikal yang serius.

Pada 14 November 2025, Nusantara Beat merilis album perdana bertajuk Nusantara Beat. Album ini berisi 11 lagu yang membawa pendengar seakan kembali ke nuansa musik era 1970-an, dengan sentuhan vintage Indo-pop, psikedelik, funk, dan soul. Judul-judul lagunya antara lain Ke Masa Lalu, Kelangkang, Di Pantai, Bunga Mekar, Ular Ular, Kupu Kupu, Gapura, Hilang Kendali, Tamat, Bakar, dan Cinta Itu Menyakitkan.

Selain materi album, Nusantara Beat juga merilis sejumlah single yang tidak masuk dalam album, seperti Djanger, Sifat Manusia, Mang Becak, Layung, dan Kota Bandung. Lagu-lagu ini memperlihatkan keberanian mereka mengangkat tema-tema keseharian masyarakat Indonesia: dari kehidupan kota, relasi sosial, hingga potret manusia dengan segala paradoksnya.

Jika dicermati lebih dalam, kekuatan Nusantara Beat tidak hanya terletak pada pilihan bahasa atau nuansa musikalnya, tetapi juga pada lirik-lirik yang terasa dekat dengan realitas Indonesia. Ada kritik sosial yang halus, nostalgia yang lirih, dan pengamatan tajam terhadap manusia serta lingkungannya. Musik mereka seolah menjadi jembatan lintas generasi dan lintas budaya.

Secara panggung, Nusantara Beat juga menunjukkan konsistensi. Sepanjang 2025, mereka aktif tampil di berbagai festival dan konser internasional, termasuk Synchronize Fest 2025 di Jakarta. Menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, mereka dijadwalkan menggelar tur di sejumlah kota Eropa, seperti Rotterdam dan Amsterdam, serta berlanjut ke Brussels, Paris, London, dan Berlin.

Fenomena Nusantara Beat memberi pelajaran penting: identitas budaya tidak selalu dibatasi oleh paspor atau geografis. Musik, sebagai bahasa universal, mampu melintasi batas negara dan sejarah. Dalam konteks ini, Nusantara Beat berhasil memantulkan kembali kekayaan budaya Indonesia dari kejauhan, yang mengingatkan bahwa tradisi dan bahasa bisa hidup, tumbuh, dan menemukan rumah baru di mana saja.

Barangkali, di tengah arus globalisasi yang kerap menyeragamkan selera, kehadiran Nusantara Beat adalah penanda bahwa akar budaya tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern. Ia justru bisa menjadi sumber daya kreatif yang terus diperbarui, selama ada kesungguhan untuk memahami dan merawatnya. (Detik.com)

Share :

Perspektif

Scroll