Mikroglia di Balik Amnesia Infantil: Otak yang 'Menghapus' Ingatan Masa Kecil

Mengapa sebagian besar dari kita tidak bisa mengingat peristiwa masa bayi, meskipun mengalami...

Mikroglia di Balik Amnesia Infantil: Otak yang 'Menghapus' Ingatan Masa Kecil

Eduka
26 Jan 2026
288 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Mikroglia di Balik Amnesia Infantil: Otak yang 'Menghapus' Ingatan Masa Kecil

Mengapa sebagian besar dari kita tidak bisa mengingat peristiwa masa bayi, meskipun mengalami begitu banyak pengalaman baru saat itu? Fenomena yang dikenal sebagai amnesia infantil, sebagai kehilangan ingatan episodik dari masa awal kehidupan, ternyata bukan sekadar akibat ingatan yang “gagal” tersimpan. Temuan penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa amnesia infantil mungkin adalah hasil dari proses aktif di otak yang sedang berkembang, bukan sekadar lupa pasif. 

Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology dan dipimpin oleh Erika Stewart dari Fakultas Biokimia dan Imunologi, Trinity College Dublin, menemukan bahwa sel imun otak yang disebut mikroglia memiliki peran penting dalam menentukan ingatan mana yang dipertahankan dan mana yang “dihilangkan” selama tahap awal perkembangan. 

Mikroglia selama ini dikenal sebagai sel imun residen di otak yang berfungsi membersihkan jaringan dari patogen dan sel mati. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa peran mikroglia jauh lebih kompleks. Mereka juga berpartisipasi dalam “pemangkasan” sirkuit saraf, sebuah proses penting untuk membentuk sambungan saraf yang efisien saat otak berkembang. 

Dalam bahasa sederhana, mikroglia membantu otak memutuskan sambungan mana yang perlu dipertahankan dan mana yang harus dilepas saat koneksi saraf terus berubah pada masa bayi dan kanak-kanak. Karena ingatan tersimpan melalui pola koneksi saraf tertentu, pemangkasan ini bisa berpengaruh langsung pada apakah suatu pengalaman tetap mudah diakses sebagai memori di kemudian hari. 

Untuk menggali peran mikroglia dalam amnesia infantil, Stewart dan tim melakukan eksperimen pada tikus bayi. Biasanya, tikus muda yang diberi pengalaman menakutkan segera melupakan ingatan tersebut seiring pertumbuhan. Namun ketika aktivitas mikroglia dihambat secara eksperimental, tikus bayi justru menunjukkan kemampuan mengingat pengalaman tersebut lebih kuat daripada kondisi normal. 

Para peneliti juga melihat aktivitas mikroglia di dua bagian otak yang terkenal terkait memori dan emosi: dentate gyrus pada hippocampus dan amigdala. Ketika aktivitas mikroglia menurun di dua wilayah ini, kemampuan tikus untuk mengakses kembali ingatannya meningkat. 

Mikroglia yang dihambat juga membuka aktivitas yang lebih besar pada sel engram, neuron yang merupakan “jejak fisik” dari suatu memori. Itu berarti ketika mikroglia tidak aktif, jejak memori lebih mudah diaktifkan kembali, menunjukkan potensi bahwa lupa bukan semata hilang, tetapi mungkin tidak lagi mudah diakses. 

Pelajaran untuk Kognisi Anak

“Mikroglia, sel imun residen dari sistem saraf pusat, dapat dianggap sebagai pengelola ingatan di otak,” ujar Stewart dalam keterangan yang dirilis peneliti. “Temuan kami menyoroti peran mereka dalam amnesia infantil, dan menunjukkan bahwa mekanisme yang sama mungkin ada antara amnesia infantil dan bentuk-bentuk lupa lainnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penyakit.” 

Rekan peneliti Tomas Ryan menambahkan bahwa amnesia infantil mungkin adalah bentuk kehilangan ingatan paling umum di populasi manusia, tetapi sering diabaikan karena umumnya dianggap sebagai “fakta kehidupan” yang tidak perlu dipertanyakan. “Sebagian besar dari kita tidak mengingat apa pun dari tahun-tahun awal kehidupan, meskipun mengalami begitu banyak pengalaman baru,” ujarnya. “Ini adalah topik yang terabaikan dalam riset ingatan.” 

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa faktor imun dari ibu, seperti sistem imun yang teraktivasi saat kehamilan, dapat mengubah pola amnesia infantil pada keturunan tikus, menegaskan bahwa konteks imunologis memengaruhi cara ingatan tersimpan dan hilang. 

Mengapa otak melakukan “pembersihan” terhadap pengalaman awal? Beberapa ilmuwan melihat ini sebagai bagian dari strategi adaptif otak yang sedang berkembang. Selama masa awal kehidupan, otak dipenuhi dengan pengalaman baru dan koneksi saraf baru. Dengan memangkas ingatan tertentu, otak bisa mengoptimalkan ruang dan sumber daya neural untuk pembelajaran masa depan, sehingga fokus pada keterampilan dan pola yang lebih relevan untuk kehidupan dewasa. 

Pada manusia, studi psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kemampuan episodik otak, seperti untuk mengingat kejadian spesifik, terus berkembang melalui masa kanak-kanak, seiring dengan pematangan struktur otak seperti hippocampus. Anak usia 3–5 tahun, misalnya, menunjukkan peningkatan kemampuan memori asosiatif dibanding usia yang lebih muda, mengindikasikan proses ini bersifat dinamis dan terkait perkembangan neural. 

Implikasi untuk Penelitian Masa Depan

Meskipun penelitian ini masih dilakukan pada tikus dan belum langsung dapat diterapkan pada manusia, hasilnya membuka arah riset baru yang menarik. 

Para peneliti menyarankan pentingnya mengidentifikasi manusia yang mungkin tidak mengalami amnesia infantil, karena mempelajari bagaimana otak mereka bekerja bisa memberikan wawasan penting tentang hubungan antara ingatan, perkembangan otak, dan pendidikan awal kehidupan. 

Studi ini juga menumbuhkan pemahaman bahwa lupa bukan sekadar kegagalan sistem, tetapi bagian dari proses biologis yang kompleks dan terkelola, yang memainkan peran krusial dalam membentuk fungsi otak sepanjang hidup.  (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll