Kurban Tak Lagi Semeriah Dulu? Ketika Niat Beribadah Bertemu Realitas Dompet

Menjelang Idul Adha 2026, lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS)...

Kurban Tak Lagi Semeriah Dulu? Ketika Niat Beribadah Bertemu Realitas Dompet

Sosbud
25 Mei 2026
665 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Kurban Tak Lagi Semeriah Dulu? Ketika Niat Beribadah Bertemu Realitas Dompet

Menjelang Idul Adha 2026, lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan nilai ekonomi kurban nasional turun menjadi Rp26,89 triliun. Penurunan itu terjadi di tengah melemahnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga sekaligus kelompok dominan dalam ibadah kurban. Kondisi tersebut membuat pedagang hewan kurban, peternak, hingga pelaku usaha kecil di sektor distribusi daging mulai khawatir terhadap penurunan transaksi tahun ini. 

Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekonomi kurban memang bergerak fluktuatif. Pada 2020, nilainya diperkirakan mencapai Rp20,5 triliun. Namun pandemi Covid-19 membuat angka itu turun menjadi Rp18,2 triliun pada 2021. Setelah ekonomi perlahan pulih, nilai ekonomi kurban kembali naik menjadi Rp24,3 triliun pada 2022 dan Rp24,5 triliun pada 2023. Puncaknya terjadi pada 2024 dengan estimasi mencapai Rp28,2 triliun.

Akan tetapi, tren itu tidak bertahan lama. Pada 2025, nilainya turun menjadi Rp27,1 triliun dan kembali melemah pada 2026 menjadi Rp26,89 triliun. IDEAS memperkirakan penurunan ini berkaitan dengan menyusutnya jumlah rumah tangga muslim yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban. 

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan bahwa perhitungan ekonomi kurban menggunakan pendekatan jumlah rumah tangga muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/kota. Kelompok ini dianggap memiliki kapasitas finansial untuk membeli hewan kurban. “Estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/kota sebagai proksi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban,” ujar Tira Mutiara. 

Pada 2024, jumlah rumah tangga muslim yang diperkirakan mampu berkurban mencapai sekitar 2,16 juta keluarga. Namun pada 2025 turun menjadi 1,92 juta rumah tangga, dan tahun ini kembali menyusut menjadi sekitar 1,90 juta rumah tangga. Penurunan itu dinilai menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan kelompok kelas menengah.

Tidak hanya jumlah pekurban yang berkurang, pola konsumsi masyarakat juga berubah. Jika sebelumnya banyak keluarga memilih sapi utuh atau sapi berbobot besar, kini sebagian mulai beralih ke skema patungan sapi 1/7 atau memilih kambing dan domba dengan bobot lebih kecil agar tetap dapat menjalankan ibadah kurban tanpa membebani kondisi keuangan keluarga. “Tren kurban 2026 bergeser. Masyarakat kini lebih memilih kambing dan domba bobot kecil demi menyesuaikan anggaran,” tulis laporan Liputan6 mengutip hasil riset IDEAS. 

Perubahan perilaku belanja itu sejalan dengan berbagai indikator pelemahan daya beli masyarakat. Sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada di atas 5 persen belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat di lapangan. Ekonom dari Permata Institute for Economic Research menilai konsumsi rumah tangga masih mengalami tekanan. “Tekanan daya beli membuat masyarakat kelas menengah mulai mengubah pola konsumsi warga,” tulis laporan Republika dalam ulasan mengenai kondisi ekonomi nasional. 

Pandangan serupa juga disampaikan ekonom LPEM UI, Teuku Riefky. Ia menilai pertumbuhan ekonomi belum terdistribusi secara merata sehingga kelas menengah mulai tertekan. “Dalam periode tersebut, ekonomi tumbuh 4–5 persen, tapi upah riil tidak sampai menyentuh 1 persen,” kata Riefky dalam sebuah diskusi ekonomi. 

Namun demikian, tidak semua pihak melihat penurunan ekonomi kurban semata-mata sebagai tanda memburuknya kondisi ekonomi. Sebagian pengamat menilai masyarakat kini lebih rasional dalam mengelola pengeluaran. Di tengah kenaikan biaya hidup, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok, pendidikan, cicilan rumah, hingga dana darurat dibanding membeli hewan kurban berukuran besar.

Sementara pemerintah mengklaim tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli kelas menengah. Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional, Luthfi Ridho, mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan kepercayaan dan konsumsi masyarakat.

“Tren konsumsi rumah tangga turun, dan ini yang ingin kami balikkan. Kelas menengah harus percaya diri atas peluang pendapatan ke depan,” ujar Luthfi Ridho dalam forum ekonomi nasional. 

Meski demikian, dampak paling nyata dirasakan para pedagang dan peternak hewan kurban. Sejumlah pedagang mulai khawatir stok hewan tidak terserap optimal seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka menghadapi situasi sulit antara harga pakan dan biaya distribusi naik, sementara pembeli semakin berhitung dalam berbelanja.

Bagi peternak kecil, Idul Adha selama ini selain sebagai momentum keagamaan, tetapi juga musim panen ekonomi tahunan. Ketika penjualan melambat, rantai dampaknya bisa panjang. Mulai dari peternak, sopir pengangkut ternak, pedagang rumput, hingga pekerja harian di kandang. 

Di tengah situasi itu, tradisi kurban tampaknya sedang memasuki fase baru. Nilai spiritualnya mungkin tetap kuat, tetapi pola ekonominya mulai berubah. Masyarakat tidak lagi berlomba membeli hewan terbesar, melainkan mencari cara agar tetap bisa berbagi dalam keterbatasan. Barangkali di sinilah ironi zaman modern muncul. Ketika pertumbuhan ekonomi nasional masih diumumkan dalam angka-angka optimistis, sebagian masyarakat justru mulai menghitung ulang kemampuan untuk menjalankan tradisi yang selama ini identik dengan solidaritas sosial. 

Kurban akhirnya bukan hanya soal ibadah dan pengorbanan, tetapi juga cermin tentang bagaimana kondisi ekonomi menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat paling nyata di pasar hewan, di kandang peternak, dan di meja makan keluarga kelas menengah Indonesia. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll