Konflik Pakistan-Afghanistan dan Rapuhnya Stabilitas Perbatasan Garis Durand

Ketegangan lama di perbatasan Pakistan-Afghanistan kembali mencapai titik paling berbahaya. Menteri...

Konflik Pakistan-Afghanistan dan Rapuhnya Stabilitas Perbatasan Garis Durand

Politik
28 Feb 2026
240 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Konflik Pakistan-Afghanistan dan Rapuhnya Stabilitas Perbatasan Garis Durand

Ketegangan lama di perbatasan Pakistan-Afghanistan kembali mencapai titik paling berbahaya. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, pada Jumat (27/2/2026) menyatakan bahwa situasi telah berubah menjadi “perang terbuka” setelah militer Pakistan melancarkan serangan udara ke Kabul serta provinsi Kandahar dan Paktika pada dini hari.

Pernyataan keras itu menandai eskalasi paling serius dalam hubungan dua negara bertetangga tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Islamabad menegaskan bahwa opsi diplomasi telah ditempuh, baik secara langsung maupun melalui negara mitra, sebelum akhirnya memilih langkah militer.

“Kesabaran kami telah habis. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” ujar Asif, seperti dikutip media internasional.

Juru bicara pemerintah Pakistan, Mosharraf Zaidi, menyebut operasi militer itu sebagai respons atas tembakan dari wilayah Afghanistan. Ia mengklaim 133 pejuang Taliban tewas, lebih dari 200 terluka, 27 lokasi hancur, dan sembilan orang ditangkap. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa sasaran operasi adalah fasilitas pertahanan dan logistik di Kabul, Kandahar, dan Paktika. Media pemerintah Pakistan melaporkan kerusakan pada markas brigade dan gudang amunisi.

Sebelumnya, pada 22 Februari, militer Pakistan juga melakukan serangan udara terhadap tujuh lokasi yang diklaim sebagai basis kelompok bersenjata, termasuk Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasinya. Islamabad menuduh TTP memanfaatkan wilayah Afghanistan sebagai tempat perlindungan untuk melancarkan serangan di dalam Pakistan, termasuk bom bunuh diri yang menargetkan masjid Syiah di Islamabad. Selain itu, Pakistan juga menyebut afiliasi Islamic State Khorasan Province (ISIS-K) sebagai target operasi, setelah kelompok tersebut mengklaim sejumlah serangan di wilayah Pakistan. 

Selama dua tahun terakhir, menurut data berbagai lembaga pemantau keamanan regional, jumlah serangan lintas perbatasan meningkat tajam. Pakistan berulang kali menekan Kabul agar menindak tegas kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi dari wilayah Afghanistan, namun menilai tidak ada “tindakan substantif” yang dilakukan.

Di sisi lain, pemerintah Afghanistan yang dipimpin Taliban mengecam keras serangan tersebut. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengakui sejumlah lokasi di Kabul, Kandahar, dan Paktika menjadi sasaran, tetapi tidak menyebutkan korban jiwa. Ia memperingatkan bahwa pelanggaran wilayah udara lebih lanjut akan memicu respons tambahan.

Kementerian Pertahanan Afghanistan menuding serangan Pakistan sebelumnya menghantam sekolah agama dan rumah-rumah warga di Nangarhar dan Paktika, menyebabkan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan prinsip bertetangga yang baik.

“Kami menganggap militer Pakistan bertanggung jawab atas penargetan warga sipil dan situs keagamaan. Kami akan menanggapi serangan ini pada waktunya dengan tanggapan yang terukur dan tepat,” demikian pernyataan resmi Kabul.

Seorang pejabat Afghanistan juga mengklaim 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos direbut dalam bentrokan balasan. Klaim ini pun belum terverifikasi secara independen.

Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata yang dicapai setelah bentrokan mematikan pada Oktober 2025. Lebih dari 70 orang dilaporkan tewas di kedua pihak dalam bentrokan sebelumnya. Sejak saat itu, sejumlah penyeberangan perbatasan utama tetap ditutup, memukul perdagangan dan mobilitas warga sipil.

Upaya mediasi yang difasilitasi oleh Qatar dan Turki tidak membuahkan kesepakatan permanen. Kedua negara masih saling tuding antara Pakistan menuduh Kabul melindungi kelompok bersenjata, sementara Afghanistan menilai Islamabad menggunakan isu terorisme untuk membenarkan pelanggaran kedaulatan.

Secara historis, persoalan ini tidak lepas dari sengketa Garis Durand, perbatasan kolonial yang tidak pernah sepenuhnya diakui oleh Kabul. Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, dinamika keamanan kawasan semakin kompleks. Alih-alih mereda, ancaman dari kelompok-kelompok militan regional justru mengalami fragmentasi dan adaptasi.

Pengamat keamanan Asia Selatan menilai bahwa eskalasi terbuka berpotensi memperluas instabilitas kawasan. Pakistan tengah menghadapi tekanan ekonomi domestik dan ancaman keamanan internal, sementara Afghanistan masih terisolasi secara diplomatik dan ekonomi sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

Konflik berkepanjangan berisiko menciptakan krisis kemanusiaan baru. Wilayah perbatasan dihuni jutaan warga sipil yang rentan, dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan kemanusiaan. PBB sebelumnya mencatat bahwa operasi militer lintas batas seringkali memperburuk kondisi warga sipil dan memicu gelombang pengungsian baru. Namun, Islamabad berargumen bahwa kegagalan menindak kelompok bersenjata akan memperparah korban di dalam negeri mereka sendiri.

Konflik Pakistan–Afghanistan memperlihatkan pola lama antara serangan, pembalasan, pernyataan keras, lalu mediasi yang rapuh. Setiap pihak merasa berada di posisi defensif dan membenarkan tindakannya sebagai langkah preventif. Dalam situasi seperti ini, kebenaran terjebak di antara klaim dan kontra-klaim. Angka korban berbeda, narasi berbeda, legitimasi berbeda. Yang pasti, eskalasi terbuka mempersempit ruang dialog.

Pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang memulai, tetapi siapa yang berani menghentikan. Perang, betapapun disebut sebagai “operasi selektif berbasis intelijen”, selalu menyisakan residu trauma, dendam, dan generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang ketidakpercayaan. Ketika diplomasi dianggap gagal dan bom menjadi bahasa terakhir, maka yang hilang bukan sekadar stabilitas perbatasan, melainkan masa depan kawasan Asia Selatan.

Di langit Kabul yang diterangi kilatan rudal dan di perbatasan yang sunyi dan tegang, dua negara kini berdiri di ambang pilihan yang sama. Mau melanjutkan lingkaran kekerasan, atau kembali memperjuangkan damai meski dengan luka hadir di meja perundingan. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll