Pemerintah Kota Batam resmi membuka perhelatan Kenduri Seni Melayu (KSM) ke-27 di Dataran Engku Putri, Batam Center, pada Jumat malam (3/7/2026). Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh ribuan masyarakat, jajaran Pemerintah Kota Batam, serta delegasi seniman dan budayawan dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand, guna memperkuat posisi Batam sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya di kancah nasional maupun internasional.
Di sela rangkaian acara pembukaan, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mempersembahkan momen yang sarat akan nilai emosional melalui pembacaan puisi berjudul "Uwak". Dalam khazanah budaya Melayu, istilah "Uwak" merujuk pada sosok bapak. Melalui bait-bait puisi tersebut, Amsakar menyampaikan penghormatan mendalam bagi seluruh sosok ayah yang menjadi teladan, pengayom, dan penjaga nilai-nilai adab serta budi pekerti dalam keluarga. Lantunan puisi ini menjadi refleksi penting bagi generasi muda untuk senantiasa menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri masyarakat Melayu.
Penyelenggaraan KSM yang ke-27 tahun ini menegaskan posisi Batam sebagai salah satu benteng kebudayaan Melayu yang konsisten. Keberhasilan KSM kembali masuk dalam daftar 125 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 untuk keempat kalinya secara berturut-turut menjadi bukti pengakuan nasional terhadap agenda ini.
Amsakar Achmad menekankan bahwa KSM bukan sekadar seremonial tahunan. "Kenduri Seni Melayu bukan hanya tentang pertunjukan, tapi ruang strategis untuk kolaborasi. Dengan ilmu hidup akan jadi mudah, dengan iman hidup akan menjadi terarah, dan dengan seni hidup akan menjadi indah," ungkapnya.
Di sisi lain, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Hafiz Agung Rifai, menilai langkah Batam sejalan dengan kebijakan Event by Indonesia dan paradigma pariwisata regeneratif. "KSM harus menjadi signature event yang tidak hanya mendatangkan angka kunjungan, tetapi memberi dampak nyata pada ekosistem ekonomi kreatif dan kesejahteraan masyarakat lokal," jelasnya.
Di balik kemegahan perhelatan ini, terdapat diskursus mengenai relevansi budaya di kota yang terus bertransformasi menjadi pusat industri. Pengamat budaya lokal, Raja Muhammad Amin (Ketua LAM Batam), memberikan apresiasi namun menekankan tantangan besar ke depan.
"KSM memang menjadi wadah yang baik, namun tantangannya adalah bagaimana generasi muda Batam yang kosmopolitan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemilik dari tradisi ini," ujarnya.
Menanggapi kebutuhan akan ruang ekspresi yang lebih permanen, Amsakar memberikan janji konkret. "Insyaallah, di era kepemimpinan kami, akan lahir gedung budaya. Ini adalah langkah tegas agar keberagaman di Batam tetap berada di bawah payung budaya Melayu yang kokoh," janjinya.
Malam pembukaan KSM 2026 bukan sekadar panggung untuk gemerlap lampu dan alunan musik tradisional. Puisi "Uwak" yang dibacakan Wali Kota Batam menjadi pengingat subtil bagi masyarakat modern akan pentingnya kembali ke akar. "Uwak" adalah simbol dari pondasi yang melindungi rumah keluarga dari badai.
Dalam konteks sebuah kota, KSM berfungsi serupa. Batam, dengan segala hiruk-pikuk pembangunan industri dan pelabuhannya, membutuhkan nilai budaya sebagai pengingat agar kota ini tidak kehilangan arah di tengah ambisi kemajuan. Keberhasilan sebuah perhelatan budaya tidak diukur dari berapa banyak orang yang hadir, melainkan seberapa dalam nilai-nilai tersebut meresap ke dalam jiwa masyarakatnya, menjaga agar tradisi tidak sekadar menjadi artefak sejarah, melainkan napas yang menghidupi masa depan kota ini. (Red)