Israel-AS Serang Sekolah di Minab Hormozgan, 85 orang Tewas

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran...

Israel-AS Serang Sekolah di Minab Hormozgan, 85 orang Tewas

Politik
01 Mar 2026
261 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Israel-AS Serang Sekolah di Minab Hormozgan, 85 orang Tewas

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menjadi sasaran serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Jumlah siswa di lokasi pada saat kejadian sekitar 170 anak, di antaranya tewas diperkirakan 40–85 orang menurut berbagai laporan Iran dan media internasional. Serangan dilaporkan terjadi pada pagi hari Sabtu waktu setempat, sekitar pukul 10.45 IRST, ketika sekolah sedang berlangsung.

Pejabat pemerintahan dan militer Iran mengecam keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai kejahatan perang terhadap warga sipil tak bersalah. Berdasarkan laporan pemerintah Iran, selain puluhan siswa tewas, puluhan lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Otoritas Iran menyebut angka korban tewas di sekolah mencapai 85 orang dan puluhan lainnya terluka sementara operasi evakuasi masih berlangsung. Serangan itu dilakukan oleh pasukan militer Amerika Serikat dan Israel yang mengklaim menargetkan fasilitas-fasilitas strategis Iran. 

Pada saat itu diperkirakan sekitar 170 siswa berada di dalam sekolah. Lokasi serangan adalah Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan, wilayah selatan Iran yang dekat dengan jalur strategis Selat Hormuz. Sekitar wilayah itu juga terdapat fasilitas militer Iran, tetapi laporan media menegaskan bahwa sekolah itu secara langsung menjadi sasaran.

Pemerintah AS dan Israel menyatakan operasi militer bersama ini dimaksudkan sebagai tindakan pre-emptive, untuk menekan apa yang mereka sebut sebagai “ancaman” dari program rudal balistik dan potensi nuklir Iran. Israel dan AS sebelumnya memberi peringatan berkali-kali terkait hal ini. Namun, Iran mengatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran kedaulatan dan hukum humaniter internasional.

Serangan itu memicu gelombang balasan dari Iran terhadap pangkalan militer AS dan Israel di wilayah Timur Tengah, termasuk peluncuran rudal yang dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara di beberapa negara Teluk. Ketegangan militer meningkat tajam, menyebabkan kekhawatiran internasional akan potensi konflik yang lebih luas di kawasan.

Iran dan Pemerintah di Teheran menyatakan protes keras. “Ini bukan sekadar serangan militer, ini merupakan agresi yang tidak bisa diterima terhadap sekolah yang penuh anak-anak tak berdosa,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menggambarkan serangan itu sebagai kejahatan perang. Pemerintah Iran juga memanggil Dewan Keamanan PBB untuk menanggapi insiden tersebut.

Sementara seorang pejabat AS mengatakan pihaknya sedang menyelidiki laporan korban sipil di sekolah tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil secara disengaja. “Komando Pusat AS berkomitmen untuk meminimalkan kerugian terhadap warga sipil,” ujar Kapten Tim Hawkins, juru bicara militer AS.

Sejumlah negara Teluk, termasuk UEA dan Qatar, mengutuk eskalasi konflik ini dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Pernyataan resmi UEA menyebut pecahan rudal yang jatuh di Abu Dhabi sebagai “bukti risiko konflik yang kini mengancam stabilitas regional.”

Retaliasi rudal Iran menargetkan Israel dan pangkalan AS di berbagai negara Teluk sebagai serangan balasan. Tetapi serangan di sekolah Minab menunjukkan bagaimana konflik bersenjata, walau dilancarkan dengan argumentasi strategis, dapat berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang mendalam ketika korban sipil, terutama anak-anak, menjadi bagian dari dampak langsungnya. Penilaian dari berbagai pihak sebagian melihat ini sebagai tindakan defensif strategis, sementara yang lain menegaskan ini berdampak pada norma hukum internasional dan keselamatan warga sipil.

Peristiwa ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat mekanisme diplomasi internasional, melindungi ruang sipil dari perang, dan mempercepat upaya penyelesaian konflik melalui jalur non-militer. Namun hingga kini, dunia masih menunggu hasil investigasi independen atas insiden yang telah mengguncang opini publik global ini. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll