Gelombang Baru Warga Singapura Memulai Hidup sebagai Petani di Malaysia

Di tengah meningkatnya biaya hidup di Singapura, ancaman krisis pangan global, dan tekanan budaya...

Gelombang Baru Warga Singapura Memulai Hidup sebagai Petani di Malaysia

Sosbud
14 Mei 2026
507 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Gelombang Baru Warga Singapura Memulai Hidup sebagai Petani di Malaysia

Di tengah meningkatnya biaya hidup di Singapura, ancaman krisis pangan global, dan tekanan budaya kerja yang kompetitif, sejumlah warga Singapura memilih meninggalkan karier mapan mereka untuk menjadi petani di Johor, Malaysia. Dengan memanfaatkan harga lahan yang lebih murah dan kedekatan geografis antara kedua negara, mereka membangun perkebunan dan peternakan sendiri di wilayah seperti Ulu Tiram, Desaru, hingga Kota Tinggi. Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan perubahan arah ekonomi dan gaya hidup, tetapi juga mencerminkan pencarian makna hidup baru di tengah dunia modern yang semakin cepat dan melelahkan.

Di bawah matahari siang yang menyengat di Ulu Tiram, Johor, Imran Aljunied berdiri di atas tangga kayu sambil memetik lada hitam dari tanaman rambat. Wajahnya basah oleh keringat, namun senyum tidak lepas dari raut mukanya. “Kita hari ini sedang memetik lada hitam,” ujar pria Singapura berusia 40 tahun itu.

Beberapa tahun lalu, Imran bekerja di firma hukum di Singapura, sebuah pekerjaan bergengsi dengan ritme cepat dan tekanan tinggi. Kini, hari-harinya dihabiskan di kebun seluas 55 hektare bernama A Little Wild, yang ia dirikan bersama dua warga Singapura lain dan seorang mitra asal Malaysia.

Perkebunan yang berdiri di atas bekas lahan kelapa sawit itu berada sekitar 45 menit dari jalur lintas Johor–Singapura. Luasnya setara sekitar 77 lapangan sepak bola. Dari kebun inilah mereka memanen nanas, pisang, kakao, lada hitam, hingga serai untuk dipasok ke pelanggan dan restoran di Singapura.

Bagi Imran, keputusan meninggalkan kehidupan kota bukan sekadar soal bisnis, melainkan juga tentang kebebasan. “Saya suka gagasan swasembada masyarakat. Saya tidak menggantungkan pangan dan minum pada institusi mana pun. Saya merasa mandiri, bebas, dan tidak terikat,” katanya.

Fenomena warga Singapura yang mulai bertani di Johor memang perlahan tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Tidak ada data resmi mengenai jumlahnya, namun sejumlah laporan media menemukan setidaknya beberapa perkebunan dan peternakan milik warga Singapura tersebar di wilayah pedesaan Johor seperti Gelang Patah, Kluang, Kota Tinggi, hingga Desaru.

Dorongan utamanya relatif serupa karena harga lahan yang jauh lebih murah dibanding Singapura, peluang usaha yang lebih besar, dan keinginan menjalani hidup dengan ritme yang lebih manusiawi. Di Singapura, keterbatasan lahan membuat pertanian berskala besar nyaris mustahil dilakukan secara bebas oleh individu. Negara kota itu memang terus mengembangkan teknologi pertanian modern demi mencapai target “30 by 30”, yakni memenuhi 30 persen kebutuhan pangan nasional secara lokal pada 2030. Namun, keterbatasan ruang tetap menjadi tantangan besar.

Karena itu, Johor menjadi alternatif yang logis. Selain berdekatan secara geografis, nilai tukar dolar Singapura yang lebih kuat juga memberi keuntungan modal bagi warga Singapura yang ingin membangun usaha di Malaysia. Hal itulah yang dirasakan pasangan suami-istri Ashraf Bakar dan Nabilah Bagarib, pemilik Aliyah Rizq Farm di Desaru.

Berawal dari peternakan kecil di Mersing pada 2015, usaha mereka berkembang menjadi kawasan peternakan dan agrowisata seluas sekitar 150 lapangan bola. Mereka memelihara ratusan domba dan kambing, serta mengembangkan bisnis kurban, akikah, hingga wisata keluarga. “Kami melihat kesempatan dan stabilitas di sini jauh lebih baik,” kata Ashraf.

Sementara Nabilah, mantan psikolog, menilai keputusan pindah ke sektor pertanian juga dipengaruhi realitas ekonomi regional. “Mata uang kami lebih kuat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan ekspansi yang lebih baik,” ujarnya.

Namun, di balik cerita sukses itu, ada persoalan yang lebih besar yang ikut mendorong tren ini tentang kecemasan terhadap ketahanan pangan global.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi lonjakan harga pangan akibat perang, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga gangguan rantai pasok global. Konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina misalnya, sempat memicu kenaikan harga gandum, pupuk, dan minyak dunia yang berdampak langsung terhadap harga bahan pangan di Asia Tenggara.

Bagi para petani baru ini, bertani bukan lagi sekadar profesi tradisional, melainkan strategi bertahan hidup. “Kalau kita tidak memprioritaskan ketahanan pangan dan hasil panen lokal, kita mungkin akan merugi,” kata Nabilah. Pandangan itu sejalan dengan meningkatnya perhatian pemerintah Singapura terhadap isu keamanan pangan. Negara tersebut selama ini mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan pangannya, sehingga sangat rentan terhadap gejolak global.

Namun demikian, romantisme “kabur ke desa” dan hidup dekat alam tidak selalu berjalan mulus. Menjadi petani di Malaysia juga berarti menghadapi tantangan hukum, sosial, dan finansial yang tidak kecil. Warga asing tidak bisa begitu saja memiliki lahan pertanian di Malaysia. Pembelian tanah harus melewati persetujuan pemerintah daerah dengan batas harga minimum tertentu, dan sejumlah jenis lahan seperti Tanah Rizab Melayu tidak dapat dimiliki warga asing.

Karena itu, banyak pengusaha asal Singapura memilih bermitra dengan warga lokal atau menyewa lahan dalam jangka panjang.

Will Chua, salah satu pendiri A Little Wild dan mantan pegawai negeri senior Singapura, mengakui bahwa sektor pertanian membutuhkan kesabaran yang panjang. “Kami perlu modal jangka panjang. Kami tidak mengejar keuntungan cepat,” katanya.

Chua sebelumnya meninggalkan pekerjaan dengan gaji tahunan enam digit demi bertani. Keputusan itu terdengar ekstrem bagi sebagian orang, namun baginya justru menghadirkan kehidupan yang lebih sehat. “Saya mulai mengetahui apa yang benar-benar berarti dalam hidup ini. Dan ternyata saya tidak perlu uang banyak untuk bisa bahagia,” ujarnya. Ia bahkan mengaku kondisi kesehatannya membaik setelah setahun bekerja di pertanian. Tekanan darah tinggi dan masalah lemak hati yang sebelumnya ia alami berangsur membaik.

Di sisi lain, tidak semua kisah pertanian berakhir manis. Desaru Ostrich Farm, peternakan burung unta terkenal milik mantan pilot Angkatan Udara Singapura Collin Teh, misalnya, harus tutup pada akhir 2024 setelah hampir tiga dekade beroperasi. Pandemi COVID-19 menghantam sektor wisata dan memaksanya mengeluarkan jutaan dolar demi mempertahankan bisnis. Kisah itu menjadi pengingat bahwa sektor pertanian dan agrowisata tetap rentan terhadap perubahan ekonomi global, cuaca ekstrem, hingga ketidakpastian pasar.

Sejumlah pengamat juga mengingatkan bahwa perpindahan warga kota kaya ke wilayah pedesaan berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kenaikan harga tanah lokal hingga perubahan struktur ekonomi masyarakat sekitar. Dalam beberapa kasus di Asia Tenggara, masuknya investor asing ke sektor agrikultur bahkan memunculkan kritik tentang ketimpangan akses lahan bagi petani lokal.

Karena itu, membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat sekitar menjadi hal penting. “Petani harus membangun kepercayaan dengan masyarakat setempat,” kata Chua. Hal serupa dirasakan Nabilah. Ia mengaku pernah menghadapi pemasok yang menghilang menjelang musim kurban, hingga staf yang menjual hewan ternak tanpa izin. “Tantangan dalam mengelola bisnis itu nyata adanya. Kita perlu mitra dan staf yang tepercaya,” ujarnya.

Meski penuh risiko, mereka tetap percaya sektor pertanian memiliki masa depan, terutama bagi generasi muda yang mulai mempertanyakan pola hidup urban yang serba cepat. Di Singapura dan mungkin juga di banyak kota besar lain di Asia, kesuksesan selama ini sering diukur dari tinggi gedung kantor, besarnya gaji, atau cepatnya kenaikan jabatan. Namun, di ladang-ladang Johor, sebagian orang mulai mengukur hidup dengan cara berbeda. Kehidupannya dengan melihat kualitas tanah yang mereka rawat, makanan yang mereka tanam sendiri, dan waktu yang mereka miliki untuk keluarga.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh target, angka, dan kompetisi, keputusan meninggalkan kota demi bertani mungkin terdengar ganjil. Tetapi bagi mereka, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah ruang untuk memulihkan diri dari kelelahan modern yang perlahan menggerus manusia. Barangkali, di situlah inti dari seluruh perjalanannya bahwa sebagian orang tidak lagi mencari kehidupan yang paling mewah, melainkan kehidupan yang terasa menyentuh utuh. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll