Di Eropa yang Semakin Sekuler, 1,2 Juta Orang Sambut Paus Leo XIV di Madrid

Lebih dari 1,2 juta orang memadati Plaza de Cibeles dan jalan-jalan utama Madrid pada Ahad, 7 Juni...

Di Eropa yang Semakin Sekuler, 1,2 Juta Orang Sambut Paus Leo XIV di Madrid

Sosbud
07 Jun 2026
154 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Di Eropa yang Semakin Sekuler, 1,2 Juta Orang Sambut Paus Leo XIV di Madrid

Lebih dari 1,2 juta orang memadati Plaza de Cibeles dan jalan-jalan utama Madrid pada Ahad, 7 Juni 2026, untuk mengikuti misa terbuka yang dipimpin Paus Leo XIV. Dalam kunjungan pertamanya ke Spanyol sejak terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik, Paus asal Amerika Serikat itu menyerukan pembaruan iman, persatuan sosial, dan solidaritas terhadap kelompok rentan, termasuk kaum miskin dan migran. 

Kerumunan besar yang datang dari berbagai wilayah Spanyol dan sejumlah negara lain menjadikan misa tersebut sebagai salah satu pertemuan publik terbesar yang pernah dipimpin Paus Leo XIV sejak terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik. Raja Spanyol Felipe VI dan Ratu Letizia Ortiz turut hadir bersama ribuan umat yang mengibarkan bendera Spanyol dan Vatikan. 

Kunjungan Paus Leo XIV berlangsung pada saat Spanyol dan sebagian besar Eropa Barat menghadapi tren penurunan praktik beragama yang berlangsung selama beberapa dekade. Data Pusat Penelitian Sosiologi (CIS) Spanyol menunjukkan sekitar 56 persen warga Spanyol saat ini masih mengidentifikasi diri sebagai Katolik, jauh menurun dibandingkan sekitar 90 persen pada dekade 1970-an. Fenomena ini membuat kehadiran jutaan orang di Madrid menjadi peristiwa yang menarik perhatian para pengamat sosial dan keagamaan. 

Dalam homilinya, Paus Leo XIV mengajak masyarakat Spanyol melihat agama bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai yang tetap relevan. "Jangan memandang agama sebagai museum masa lalu yang hanya untuk dikunjungi, tetapi sebagai sekolah iman yang dapat menjadi pedoman bahkan hingga hari ini." Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya Paus untuk mendekatkan kembali Gereja kepada generasi muda yang tumbuh dalam masyarakat yang semakin sekuler dan terdigitalisasi. 

Selain berbicara mengenai pembaruan iman, Paus juga menyoroti pentingnya solidaritas sosial. Dalam khotbahnya ia menegaskan bahwa Tuhan berpihak kepada mereka yang miskin, tersisih, dan merasa sendirian. "Tuhan mengidentifikasi diri-Nya dengan kaum miskin, mereka yang tertindas, mereka yang sendirian dan ditinggalkan." Ia mengajak umat Katolik untuk mewujudkan iman melalui tindakan nyata membantu sesama, bukan hanya melalui ritual keagamaan. 

Bagi banyak peserta, kehadiran Paus menjadi simbol persatuan di tengah meningkatnya polarisasi politik dan sosial. Nico Aldeanueva, peziarah berusia 28 tahun dari Philadelphia, Amerika Serikat, mengatakan bahwa Paus merupakan “kekuatan pemersatu yang sangat besar di saat kita mengalami perpecahan di begitu banyak bidang yang berbeda.”

Senada dengan itu, Ana Milagros, warga Spanyol berusia 64 tahun yang hadir sambil membawa bendera Vatikan, menilai kunjungan Paus memberi harapan di tengah perbedaan pandangan yang semakin tajam dalam masyarakat. “Ada banyak polarisasi dan perbedaan dalam politik, dalam masalah sosial, dalam ekonomi. Paus mencoba melalui kunjungan ini untuk membantu kita semua.”

Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan harapan sebagian umat bahwa Gereja masih dapat memainkan peran sebagai ruang dialog di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi. Meski tidak semua pihak melihat kerumunan besar itu sebagai tanda kebangkitan religius yang berkelanjutan. 

Sejumlah pengamat menilai fenomena tersebut bisa saja lebih mencerminkan daya tarik figur Paus dan karakter istimewa kunjungan kepausan daripada perubahan mendasar dalam kehidupan beragama masyarakat Spanyol. Fakta bahwa tingkat partisipasi keagamaan rutin terus menurun dalam beberapa dekade terakhir menjadi pengingat bahwa tantangan Gereja tidak selesai hanya dengan menghadirkan massa besar dalam satu acara. 

Paus Leo tampaknya menyadari tantangan itu. Sejak tiba di Madrid sehari sebelumnya, ia berulang kali menyerukan penghentian narasi yang memecah belah dan meminta para pemimpin politik untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alat mobilisasi kekuasaan. Dalam pidatonya di Istana Kerajaan Madrid, ia menekankan pentingnya menghormati martabat setiap manusia dan membangun kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. 

Agenda kunjungan Paus ke Spanyol juga menunjukkan fokus yang lebih luas daripada sekadar kegiatan liturgi. Setelah Madrid, ia dijadwalkan menuju Barcelona untuk meresmikan menara baru Basilika Sagrada Familia yang telah rampung dibangun. Selanjutnya, ia akan mengunjungi Kepulauan Canary, salah satu titik kedatangan utama migran yang menyeberangi Samudra Atlantik menuju Eropa. Isu migrasi menjadi tema penting dalam perjalanan apostolik ini, sejalan dengan perhatian Paus terhadap kelompok rentan dan pengungsi. 

Kehadiran 1,2 juta orang di Madrid mungkin bukan sekadar angka statistik. Di tengah dunia yang semakin bising oleh pertentangan politik, perang, dan polarisasi digital, jutaan orang memilih berkumpul untuk mendengarkan pesan tentang solidaritas, pengampunan, dan harapan. Pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah Paus Leo XIV mampu mengumpulkan massa dalam jumlah besar, melainkan apakah pesan yang disampaikannya dapat bertahan setelah kerumunan bubar dan jalan-jalan Madrid kembali lengang.

Sebab sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari pidato yang menggelegar, melainkan dari gagasan sederhana yang terus hidup dalam tindakan sehari-hari. Dalam menghormati sesama manusia, membantu yang lemah, dan menolak membiarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan. Di situlah sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah kunjungan kepausan yang tidak ditentukan oleh jumlah orang yang hadir, melainkan oleh jejak nilai yang tertinggal setelah peristiwa itu berlangsung. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll