Cisarua dalam Kabut Duka: Longsor di Lereng Gunung Burangrang

Suasana Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat di bawah gelapnya malam pada Sabtu, 24 Januari 2026,...

Cisarua dalam Kabut Duka: Longsor di Lereng Gunung Burangrang

Politik
24 Jan 2026
424 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Cisarua dalam Kabut Duka: Longsor di Lereng Gunung Burangrang

Suasana Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat di bawah gelapnya malam pada Sabtu, 24 Januari 2026, tiba datang sebuah gemuruh keras memecah keheningan pekat yang menyelimuti permukiman di lereng Gunung Burangrang. Dalam hitungan detik, tanah yang jenuh oleh hujan deras selama dua hari berubah menjadi aliran lumpur dan batu, menelan rumah-rumah dan nyawa di Desa Pasirlangu. 

Peristiwa terjadi sekitar pukul 02.30 WIB, telah merenggut sedikitnya 8 orang dan menyisakan 82 jiwa masih hilang dalam pencarian tim SAR gabungan hingga Sabtu sore. Jumlah warga yang terdampak cukup besar: 113 jiwa dari 34 kepala keluarga, dengan puluhan rumah tertimbun material longsor yang keras dan berat. 

Seorang warga yang berhasil diselamatkan mengenang kembali detik-detik ketika tanah mulai bergerak:

“Sekitar pukul 23.00 kami mendengar suara bum bum dari atas bukit. Tak lama kemudian semuanya runtuh. Rumah kami seperti dibungkus gelap dan tanah,” ungkapnya sambil menahan sesak. 

Kesaksian ini mencerminkan bukan hanya trauma, tetapi juga ketidakpastian yang kini membayangi keluarga dan kerabat para korban. Cuaca ekstrem menjadi hambatan pencarian korban. Hujan deras yang mengguyur wilayah itu sepanjang Jumat hingga dini hari menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan sangat rentan longsor. 

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim hujan di Jawa Barat diperkirakan masih akan berlanjut hingga Februari, dengan potensi hujan lebat tetap tinggi. Kondisi cuaca buruk ini kini menjadi tantangan serius dalam upaya pencarian dan penyelamatan. 

Kepala Divisi Logistik dan Keadaan Darurat BPBD Provinsi Jawa Barat, Bambang Imanudin, menjelaskan:

“Tim sudah siap, tapi hujan terus menerus membuat medan sulit dan berbahaya. Peralatan berat kami kerahkan, namun cuaca menghambat proses pencarian.” 

Respon Pemerintah dan Evakuasi

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun langsung meninjau lokasi bencana dan memastikan langkah-langkah penanganan dilaksanakan segera. Ia menyatakan relokasi warga menjadi prioritas karena tingginya risiko kembali terjadi longsor susulan di kawasan tersebut. 

Pemerintah Provinsi memberikan bantuan darurat kepada warga yang selamat, termasuk bantuan Rp 10 juta per kepala keluarga untuk biaya hidup dan tempat tinggal sementara. Sementara itu, keluarga korban meninggal akan menerima santunan dari pemerintah. 

Peristiwa ini mencuatkan kembali isu lama: alih fungsi lahan dan permukiman di sekitar lereng curam tanpa mitigasi risiko yang memadai. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengakui bahwa dugaan alih fungsi lahan dari kawasan dengan vegetasi kuat ke kebun palawija turut memperlemah kestabilan permukaan tanah. 

Ahli geologi dan mitigasi bencana sering menekankan pentingnya zonasi yang ketat, perlindungan hutan yang berkelanjutan, dan sistem peringatan dini berbasis kondisi tanah dan curah hujan, terutama di daerah rawan longsor seperti Bandung Barat.

Saat tim SAR masih mengais harapan di bawah timbunan tanah, keluarga yang menanti hasil pencarian terjebak di antara kesedihan dan harapan agar keadaan membaik. Ini bukan sekadar cerita tentang angka kematian dan orang hilang, tapi juga tentang rumah yang hilang, anak yang menunggu ayah, dan komunitas yang terbelah oleh alam.

Di balik statistik, ada pelajaran mendalam: bahwa hubungan manusia dengan alam harus dibangun di atas kehati-hatian, pengetahuan, dan rasa hormat, bukan hanya kebutuhan sesaat akan lahan atau keuntungan.

Dan saat hujan terus mengguyur, setiap butirnya bukan hanya tetes air, tetapi pengingat lembut akan betapa rapuhnya kita di pangkuan bumi ini. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll