Di tengah geliat pembangunan kawasan Rempang Galang, sebuah janji baru dicanangkan di bawah bayang–bayang kemiskinan yang masih membayangi keluarga prasejahtera di Rempang. Selasa (27/1/2026), Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, berdialog langsung dengan warga setempat tentang rencana besar yang bukan sekadar infrastruktur, tetapi investasi masa depan manusia: Sekolah Rakyat Terintegrasi Merah Putih.
Bukan hanya bangunan pendidikan biasa, proyek ini merupakan implementasi strategi pendidikan nasional yang digagas pemerintah pusat melalui program Sekolah Rakyat. Sebuah upaya yang diharapkan secara sistemik untuk membuka akses pendidikan berkualitas dan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di seluruh Indonesia.
Dalam pertemuan yang dihadiri pula oleh Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, Amsakar menjelaskan bahwa sekolah ini dirancang sebagai boarding school yang memberikan kesempatan belajar tanpa beban biaya, termasuk biaya hidup dan pendidikan, serta fasilitas lengkap untuk tumbuh kembang holistik.
“Sekolah Rakyat ini hadir untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang,”
tegas Amsakar di hadapan warga.
Lokasi sekolah direncanakan berada di lahan seluas sekitar 19 hektare, dengan fasilitas pendukung seperti lapangan olahraga, kolam renang berstandar internasional, klinik kesehatan, dan dapur sentral (central kitchen) yang akan menunjang kehidupan asrama.
Program Sekolah Rakyat sendiri tidak berdiri secara terpisah di Batam. Kebijakan ini merupakan bagian dari visi Pendidikan sebagai investasi masa depan bangsa, sebagaimana ditegaskan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan bahwa pemerintah menargetkan pendirian ratusan sekolah rakyat gratis untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Menurut rencana awal, pemerintah menargetkan 500 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, dengan ratusan titik sudah beroperasi dan melayani puluhan ribu siswa dari keluarga berpenghasilan rendah. Program ini juga terintegrasi dengan berbagai layanan pendukung lain seperti pemeriksaan kesehatan gratis, makan bergizi tanpa biaya, dan insentif sosial lainnya.
Berdasarkan data di lapangan, per akhir 2025, pemerintah melaporkan 166 Sekolah Rakyat telah berdiri di 34 provinsi, melayani hampir 16.000 siswa, yang didukung oleh ribuan tenaga pendidik dan staf. Di wilayah Kepulauan Riau sendiri, pendirian sekolah rakyat telah dimulai sejak tahun lalu, dengan beberapa titik baru yang ditetapkan sebagai lokasi program ini.
Di banyak daerah, anak-anak yang lahir dari keluarga tak berdaya secara ekonomi sering terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit dipatahkan. Demikian peran kebijakan seperti pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi Merah Putih menjadi relevan. Program ini diharapkan bukan sekadar menghadirkan kelas dan buku pelajaran. Tapi harus lebih dari itu. Seperti dapat mengembalikan harga diri anak-anak yang selama ini merasa terpinggirkan, sekaligus menyediakan ruang belajar yang aman, sehat, dan bermartabat. Sekolah bukan hanya soal akademik, tapi tentang martabat dan kesempatan yang setara untuk seluruh anak-anak Indonesia.
Seperti ditegaskan dalam kajian pendidikan inklusif terbaru, Sekolah Rakyat bukan semata fasilitas, melainkan respon terhadap ketimpangan struktural, di mana akses pendidikan menjadi jalan keluar dari kemiskinan berulang antar-generasi. Jika sekilas proyek ini tampak besar dan ambisius di tahap perencanaan, namun ketika langkah–langkah awalnya mulai berjalan seperti dialog di Rempang Galang ini, itu menunjukkan bahwa transformasi sosial via pendidikan bukan lagi angan–angan, tetapi opsi yang bisa diwujudkan.
Di tengah dinamika pembangunan yang tak henti, sekolah ini bisa menjadi simbol harapan baru. Sebuah tempat di mana anak–anak dari latar belakang terberat sekalipun bisa mengangkat kepala, bermimpi, dan merajut masa depan. Di sanalah letak makna pendidikan sejati yang menjadi ruang di mana setiap anak bukan sekadar menerima ilmu, tetapi juga merasakan nilai dirinya sebagai bagian bangsa. (Red)