Frederik Kiran Soekarno Seegers, cucu Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, berziarah ke Makam Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur, pada Kamis (30/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Proklamator sekaligus upaya memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda. Dalam ziarah itu, Kiran tidak datang sendiri. Ia mengajak sejumlah teman sekolahnya agar dapat mengenal lebih dekat sosok, pemikiran, dan jejak sejarah kakeknya secara langsung.
Suasana kompleks Makam Bung Karno siang itu berlangsung hangat. Kehadiran Kiran disambut masyarakat yang sedang berziarah, serta sejumlah pengurus PDI Perjuangan dari Kota Surabaya dan Kabupaten Blitar. Kehadirannya menarik perhatian para peziarah karena dinilai menjadi simbol kesinambungan hubungan keluarga Bung Karno dengan Kota Blitar, tempat Sang Proklamator dimakamkan sejak 1979.
Bagi Kiran, kunjungan tersebut memiliki makna yang sangat personal. Ia mengaku bersyukur akhirnya dapat berziarah langsung ke makam sang kakek yang selama ini hanya dikenalnya melalui cerita keluarga dan catatan sejarah. "Ini adalah kehormatan besar bagi saya untuk akhirnya bisa berziarah langsung ke makam kakek saya. Ini adalah bentuk penghormatan kepada sosok yang telah meletakkan dasar berdirinya Republik Indonesia," ujar Kiran.
Usai memanjatkan doa, Kiran bersama rombongan melakukan prosesi tabur bunga dengan penuh khidmat. Namun lebih dari sekadar ritual keluarga, ia berharap kunjungan tersebut menjadi pengalaman belajar bagi teman-temannya yang ikut hadir.
Melalui ziarah itu, Kiran ingin menunjukkan bahwa Bung Karno bukan hanya bagian dari sejarah keluarganya, melainkan tokoh bangsa yang gagasan-gagasannya masih relevan untuk dipelajari lintas generasi. Menurutnya, mengenal sejarah secara langsung di tempat-tempat bersejarah dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dibanding hanya membaca buku pelajaran.
Kompleks Makam Bung Karno sendiri hingga kini masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, kawasan tersebut terintegrasi dengan Perpustakaan Proklamator Bung Karno dan Museum Bung Karno yang menyimpan berbagai arsip, koleksi, serta dokumentasi perjalanan hidup Presiden pertama RI.
Dalam beberapa bulan terakhir, Makam Bung Karno juga menjadi lokasi berbagai ziarah kebangsaan oleh sejumlah tokoh nasional. Pada Juni 2026 misalnya, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri kembali berziarah ke makam ayahnya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, “Berziarah ke makam Bung Karno adalah cara Ibu Megawati untuk merawat api perjuangan yang tak pernah padam.”
Hal serupa juga disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat berziarah ke Makam Bung Karno menjelang Hari Bhayangkara ke-80. Menurutnya, ziarah tersebut merupakan upaya menyerap nilai-nilai kepemimpinan para pendiri bangsa sebagai pedoman dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat dan menjaga persatuan nasional.
Namun, warisan Bung Karno juga tidak pernah lepas dari ruang diskusi publik. Sejumlah sejarawan menilai pemikiran Bung Karno mengenai nasionalisme, anti-kolonialisme, dan Pancasila tetap memiliki relevansi dalam menghadapi tantangan global saat ini. Di sisi lain, sebagian akademisi mengingatkan bahwa sosok Bung Karno perlu dipahami secara utuh, termasuk dinamika politik pada akhir masa pemerintahannya, sehingga sejarah tidak berhenti pada kultus individu, melainkan menjadi bahan pembelajaran kritis bagi generasi penerus.
Perbedaan cara pandang tersebut menunjukkan bahwa sejarah merupakan ruang dialog yang terus hidup. Menghormati jasa seorang tokoh tidak berarti menutup ruang untuk mengkaji secara kritis berbagai kebijakan maupun konteks zamannya. Sebaliknya, diskusi yang sehat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan literasi sejarah bangsa.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, langkah Kiran mengajak teman-teman sekolahnya berziarah menghadirkan pesan yang sederhana tetapi bermakna. Mengenal sejarah bukan hanya soal menghafal tanggal atau nama tokoh, melainkan memahami nilai-nilai yang melatarbelakangi lahirnya sebuah bangsa.
Prosesi ziarah yang dilakukan cucu Sang Proklamator itu seakan mengajak kita menengok kembali akar kebangsaan Indonesia. Sebab, bangsa yang mampu melangkah jauh ke depan adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Bangsa yang besar juga adalah bangsa yang berani membaca kembali warisan para pendirinya secara kritis, terbuka, dan bertanggung jawab, agar nilai-nilai perjuangan yang diwariskan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. (Red)