Seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang tengah menjalani perawatan di RSUD Embung Fatimah Batam merayakan ulang tahunnya di ruang rawat inap, Sabtu (20/6/2026). Perayaan sederhana itu berlangsung di tengah proses pemulihan yang dijalaninya setelah diduga menjadi korban kekerasan. Tanpa kehadiran keluarga inti, momen ulang tahun tersebut justru diisi oleh sejumlah anggota Komunitas Andalan Driver Online (KOMANDO) Batam yang datang membawa kue ulang tahun dan memberikan pendampingan kepada korban.
Di atas ranjang rumah sakit, anak yang disamarkan dengan inisial I itu tampak tersenyum ketika lilin ulang tahun dinyalakan. Ia kemudian meniup lilin dan menerima potongan kue dari anggota komunitas yang sejak beberapa hari terakhir turut mendampinginya selama menjalani perawatan.
Suasana yang semula sunyi berubah menjadi lebih hangat. Sesekali, korban berbincang dengan para relawan. Dalam percakapan tersebut, ia menceritakan bahwa ibu kandungnya berada di Malaysia, sedangkan selama ini dirinya tinggal di Batam bersama ayah kandung dan ibu tirinya.
Setelah perayaan singkat itu selesai, aktivitas di ruang perawatan kembali berjalan seperti biasa. Korban melanjutkan makan siang dan beristirahat. Selang infus masih terpasang di lengan kirinya, sementara gelang identitas pasien melingkar di tangan kanannya. Di sekitar tempat tidur terlihat beberapa boneka dan perlengkapan anak yang menemani masa pemulihannya.
Ketua Umum KOMANDO Batam, Feryandi Tarigan, mengatakan hingga Sabtu siang belum ada anggota keluarga yang datang menjenguk korban selama dirawat di rumah sakit. "Sampai sekarang keluarga kandungnya belum datang. Kami sudah berupaya mencari informasi ke keluarga besarnya, tetapi belum mendapatkan hasil," kata Feryandi.
Menurutnya, para anggota komunitas sengaja membeli kue ulang tahun agar anak tersebut tetap dapat merasakan momen pertambahan usianya. "Kami membeli kue ulang tahun untuk korban. Kami ingin dia tetap bisa merayakan ulang tahunnya dan tidak merasa sendirian," ujarnya.
Selain memberikan pendampingan, KOMANDO Batam juga mengaku telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait proses hukum kasus tersebut. "Kami sudah memberikan informasi dan keterangan awal yang kami miliki kepada pihak kepolisian. Kami berharap proses hukumnya berjalan sesuai ketentuan," katanya.
Feryandi menambahkan, pihak UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Batam juga telah mendatangi rumah sakit untuk melakukan asesmen dan pendampingan terhadap korban. Pendampingan terhadap anak korban kekerasan memang menjadi salah satu tugas utama UPTD PPA. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, lembaga tersebut menangani 44 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Batam. Sebagian besar kasus yang ditangani merupakan kekerasan seksual terhadap anak.
Pelaksana Tugas Kepala UPTD PPA Batam, Suratin, sebelumnya menyatakan bahwa dari 44 laporan yang diterima, sebanyak 36 kasus merupakan kekerasan seksual. "Total ada 44 kasus yang sudah dilaporkan hingga Februari 2026. Dari jumlah tersebut, yang paling banyak adalah kekerasan seksual sebanyak 36 kasus," kata Suratin.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan serius di Kota Batam. Pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil dituntut untuk tidak hanya berfokus pada penanganan kasus setelah terjadi, tetapi juga memperkuat sistem pencegahan dan perlindungan anak.
Sejumlah pegiat perlindungan anak menilai keterlibatan komunitas masyarakat dalam mendampingi korban merupakan langkah positif, namun mereka mengingatkan bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada keluarga, negara, dan lembaga yang berwenang.
Pandangan berbeda juga muncul dari kalangan pemerhati sosial yang menilai fenomena minimnya kehadiran keluarga dalam kasus-kasus kekerasan terhadap anak perlu menjadi perhatian khusus. Mereka menekankan bahwa pemulihan korban bukan hanya soal penyembuhan luka fisik, tetapi juga pemulihan psikologis dan kehadiran orang-orang terdekat yang memberikan rasa aman.
Hingga Sabtu sore, korban masih menjalani perawatan di RSUD Embung Fatimah Batam. Sejumlah anggota KOMANDO Batam terlihat bergantian menjaga dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari anak tersebut.
Di tengah suara alat medis dan aroma obat yang memenuhi ruangan, ulang tahun kesembilan itu berlangsung jauh dari pesta meriah. Tidak ada balon warna-warni atau hadiah besar. Hanya sepotong kue, beberapa orang yang datang dengan kepedulian, dan seorang anak kecil yang sedang belajar bahwa perhatian kadang hadir dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.
Barangkali, yang paling diingat anak itu kelak bukanlah rasa kue ulang tahunnya, melainkan kenyataan bahwa di hari ketika ia sedang terluka dan merasa sendiri, masih ada orang-orang yang memilih untuk tinggal, mendengar, dan memastikan bahwa ia tidak menghadapi semuanya seorang diri. Sebab, bagi seorang anak, rasa aman sering lebih berharga daripada perayaan itu sendiri. (Red)