Travelling Alone: Bocah 12 Tahun Menembus Batas Negara

Sebuah kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial, dibagikan oleh akun Ramon TV, mengungkap...

Travelling Alone: Bocah 12 Tahun Menembus Batas Negara

Sosbud
22 Des 2025
310 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Travelling Alone: Bocah 12 Tahun Menembus Batas Negara

Sebuah kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial, dibagikan oleh akun Ramon TV, mengungkap perjalanan tak lazim seorang bocah lelaki berusia 12 tahun asal Sydney, Australia. Di usia yang seharusnya masih berada dalam pengawasan ketat orang tua, anak ini justru berhasil melakukan perjalanan lintas negara seorang diri. Berlibur ke Bali menggunakan kartu kredit milik ibunya.

Dengan kecerdikan yang mengejutkan, bocah tersebut menipu orang tuanya agar menyerahkan paspor. Ia mengemasi barang-barangnya sendiri, lalu berangkat ke bandara menggunakan skuter. Tanpa pendamping orang dewasa, ia melewati proses bandara dengan relatif mulus. Di terminal, ia memanfaatkan layanan pembayaran mandiri dan menaiki penerbangan lanjutan dari Sydney menuju Perth.

Dari Perth, perjalanan berlanjut ke Denpasar, dan yang paling mencengangkan, menurut pengakuannya, adalah minimnya pertanyaan dari petugas bandara. 

“Saya terkejut karena tidak ada seorang pun yang mempertanyakan mengapa saya bepergian sendirian,” ujarnya. Ia hanya diminta menunjukkan kartu pelajar dan paspor sebagai bukti bahwa dirinya berusia di atas 12 tahun dan telah duduk di bangku sekolah menengah.

Sementara itu, di Australia, orang tuanya mulai panik. Ketidakhadiran sang anak di sekolah membuat mereka melaporkan kejadian tersebut sebagai kasus orang hilang. Namun, pada saat laporan itu dibuat, sang bocah justru telah menikmati liburan di Bali. Ia menginap di All Seasons Hotel, sebuah hotel berbintang empat, dan menjalani kehidupan yang bisa disebut “mewah” untuk anak seusianya.

Ibunya, Emma, mengaku terkejut sekaligus marah ketika mengetahui anaknya telah bepergian ke luar negeri tanpa izin dan tanpa pendamping. Rasa cemas bercampur kesal tak terhindarkan. Namun respons sang anak justru di luar dugaan. 

Setelah menghabiskan empat hari di Indonesia, ia berkata kepada ibunya, “Ini sungguh hebat, karena saya ingin bertualang.”

Kisah ini bukan sekadar cerita sensasional tentang keberanian dan  nekatnya seorang anak kecil. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas dan serius: sejauh mana sistem keamanan perjalanan internasional mampu melindungi anak-anak di bawah umur? Bagaimana pengawasan maskapai, bandara, dan otoritas imigrasi bekerja dalam era otomatisasi dan layanan mandiri?

Di sisi lain, cerita ini juga mencerminkan perubahan zaman, ketika akses teknologi, informasi, dan sistem digital membuat batas usia terasa semakin kabur. Keberanian bocah ini mungkin tampak mengagumkan. Tetapi di baliknya tersimpan risiko besar: keselamatan anak, tanggung jawab orang tua, dan celah dalam sistem global yang seharusnya melindungi mereka yang paling rentan.

Travelling alone, dalam kisah ini, bukan sekadar perjalanan fisik lintas negara. Ia adalah perjalanan yang memaksa dunia dewasa untuk bercermin: apakah kita terlalu percaya pada sistem, hingga lupa bahwa di balik paspor dan kartu kredit, ada seorang anak yang seharusnya dijaga dan mengapa luput dari pengawasannya. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll