Pemerintah Kota Batam Ajak Warga Berbuka Puasa Bersama di Masjid Agung Raja Hamidah

Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan Batam akan menggelar buka puasa bersama akbar pada...

Pemerintah Kota Batam Ajak Warga Berbuka Puasa Bersama di Masjid Agung Raja Hamidah

Sosbud
28 Feb 2026
370 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Pemerintah Kota Batam Ajak Warga Berbuka Puasa Bersama di Masjid Agung Raja Hamidah

Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan Batam akan menggelar buka puasa bersama akbar pada Sabtu, 28 Februari 2026, bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di Masjid Agung Raja Hamidah dan terbuka untuk seluruh masyarakat.

Agenda ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga akan diisi dengan penyerahan santunan kepada 1.200 anak yatim se-Kota Batam. Pemerintah memperkirakan sekitar 5.000 jemaah akan menghadiri kegiatan tersebut.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dijadwalkan hadir bersama Wakil Wali Kota Batam yang juga Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, Rudi Panjaitan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi tahunan pemerintah daerah selama bulan suci Ramadan.

“Rangkaian acara akan dimulai pukul 16.00 WIB. Selain berbuka puasa bersama, akan ada penyerahan santunan kepada 1.200 anak yatim sebelum waktu berbuka. Kami mengajak seluruh warga Batam untuk hadir,” ujarnya. Dengan estimasi ribuan jemaah yang akan hadir, persiapan lintas instansi telah dilakukan. Dinas Perhubungan disebut telah menata kantong parkir di sekitar kawasan Batam Center, sementara Satpol PP dan unsur pengamanan lainnya akan diterjunkan untuk menjaga ketertiban.

“Alur parkir dan akses masuk sudah dipetakan agar kegiatan berjalan tertib dan nyaman,” kata Rudi. Sebagai salah satu ikon religi dan pusat kegiatan keagamaan di Batam, Masjid Agung Raja Hamidah kerap menjadi lokasi kegiatan berskala besar. Letaknya yang strategis di pusat pemerintahan menjadikannya ruang publik sekaligus ruang simbolik pertemuan antara masyarakat dan pemerintah.

Santunan kepada anak yatim menjadi bagian penting dalam rangkaian acara tersebut. Dalam tradisi Islam, perhatian terhadap anak yatim memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat, terlebih di bulan Ramadan. Namun, sejumlah pengamat kebijakan sosial mengingatkan bahwa bantuan langsung seperti santunan bersifat jangka pendek. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan keberlanjutan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial bagi anak-anak rentan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Batam telah melampaui 1,2 juta jiwa dalam beberapa tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan yang relatif tinggi. Pertumbuhan penduduk yang pesat membawa konsekuensi pada kebutuhan layanan sosial yang semakin kompleks.

Seorang akademisi kebijakan publik di Kepulauan Riau menilai kegiatan ini positif sebagai simbol solidaritas, namun perlu diikuti program yang lebih sistematis. “Santunan Ramadan adalah bentuk empati yang baik. Tetapi yang lebih penting adalah kesinambungan kebijakan agar anak-anak yatim mendapatkan perlindungan dan akses pendidikan yang memadai,” ujarnya. Di sisi lain, tokoh masyarakat Batam Center menyambut baik rencana kegiatan tersebut. “Kehadiran langsung pemerintah memberi pesan bahwa mereka peduli. Bagi anak-anak, perhatian itu punya makna psikologis yang besar,” katanya.

Batam selama ini dikenal sebagai kota industri dan kawasan ekonomi strategis. Data BP Batam menunjukkan tren peningkatan investasi di sektor manufaktur, galangan kapal, dan logistik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi selalu diiringi tantangan pemerataan kesejahteraan.

Dengan acara buka puasa bersama dan santunan Ramadan dapat dipahami sebagai upaya membangun kedekatan emosional antara pemerintah dan warga, serta harapannya menjadi ruang perjumpaan di luar forum formal pemerintahan. Publik tentu berharap momentum Ramadan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kepedulian sosial yang ditunjukkan menjelang waktu berbuka puasa diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih berkelanjutan bagi kelompok rentan.

Jika seluruh persiapan berjalan lancar, ribuan warga akan berkumpul menjelang magrib pada Sabtu sore nanti. Di antara doa, takjil, dan santunan yang dibagikan, Ramadan kembali mengingatkan bahwa pembangunan kota bukan hanya soal pertumbuhan angka investasi, tetapi juga tentang keberpihakan pada mereka yang membutuhkan. Sebab di sanalah makna berbuka bersama akan menemukan relevansinya, bukan sekadar menahan lapar, tetapi meneguhkan komitmen berbagi dan tanggung jawab sosial. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll