Rancage 2026 dan Warisan Ajip Rosidi: Menjaga Sastra Bahasa Daerah Tetap Bernyawa

Pada penghujung Januari lalu, Bandung kembali menjadi saksi bagi perayaan karya sastra bahasa...

Rancage 2026 dan Warisan Ajip Rosidi: Menjaga Sastra Bahasa Daerah Tetap Bernyawa

Sosbud
02 Feb 2026
346 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Rancage 2026 dan Warisan Ajip Rosidi: Menjaga Sastra Bahasa Daerah Tetap Bernyawa

Pada penghujung Januari lalu, Bandung kembali menjadi saksi bagi perayaan karya sastra bahasa daerah yang telah bertahan lebih dari tiga dekade. Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan para pemenang Hadiah Sastra Rancage 2026, satu ajang penghargaan bergengsi yang mengapresiasi penulis buku yang menggunakan bahasa ibu sebagai medium utama mereka. 

Hadiah itu diberikan kepada tiga penulis dari tiga tradisi bahasa yang berbeda: Sunda, Jawa, dan Bali, mewakili kekayaan ragam bahasa daerah yang terus menulis jejak budaya di tengah arus modernitas. Masing-masing pemenang menerima piagam penghargaan dan uang tunai Rp 7,5 juta, sebagai simbol kecil tetapi penting untuk menghargai karya dalam bahasa ibu.

Dalam pengumuman yang dibacakan di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung (31 Januari 2026), Ari Andriansyah meraih juara pada kategori Sastra Sunda lewat kumpulan sajak berjudul Urat Jagat. Penghargaan untuk Sastra Jawa dimenangkan oleh Ki Sudadi melalui kumpulan cerita pendek Malaikat Cilik. Sementara Sastra Bali diraih oleh Ketut Sugiarta dengan novel Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari).

Penghargaan bagi para penulis ini merupakan bentuk penghormatan terhadap karya yang tidak sekadar estetis, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian bahasa daerah. Sebuah usaha yang menurut catatan sejarah Rancage tidak pernah putus sejak 1989. 

Ketua I Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS, mengatakan bahwa pada 2026, dewan juri menyeleksi dari 57 judul karya yang diajukan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Karya tersebut mencakup 17 judul dalam bahasa Sunda, 25 untuk bahasa Jawa, 12 untuk bahasa Bali, serta 3 judul sastra Batak. Namun hanya tiga bahasa yang layak mendapatkan penghargaan tahun ini. 

“Ada pun buku-buku dalam sastra Lampung, Batak, Madura, dan Banjar,” ujar Etti, “belum ada yang memenuhi syarat untuk diberi hadiah tahun ini.”

Pernyataan ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi Hadiah Sastra Rancage dalam menjaring karya berkualitas. Meskipun penulis terus hadir, tidak semua naskah dalam berbagai bahasa daerah mencapai standar penerbitan buku yang dapat dinilai juri. Menurut catatan juri sebelumnya, kemampuan penggunaan bahasa daerah yang kuat menjadi salah satu kriteria utama selain alur, ide cerita, dan integrasi budaya dalam narasi. 

Dalam proses penilaian, sejumlah karya disebut sebagai unggulan. Misalnya, dalam kategori Sastra Sunda, Nena Cunara melalui Buta Linglung dan Nita Widiati Efsa dengan Lokatmala menjadi calon kuat pemenang. Di Sastra Jawa, nama-nama seperti Kang Ansorik (Ngutug Ati), Bambang Nugroho (Hotel Indah), dan Narko Sodrun Budiman (DhaBenSu) turut bersaing ketat untuk pengakuan itu.

Selain penghargaan karya, Yayasan Kebudayaan Rancage juga menganugerahi Hadiah Jasa kepada Aan Merdeka Permana, seorang pengarang senior kelahiran Bandung (16 November 1950) yang dinilai berjasa dalam mengembangkan bahasa dan sastra daerah. Hadiah Jasa diberikan sejak 1990 sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi individu atau lembaga dalam menjaga kehidupan sastra daerah. 

Sejak digagas oleh budayawan legendaris Ajip Rosidi, Hadiah Sastra Rancage telah menjadi salah satu penanda penting sejarah sastra daerah di Indonesia. Ajip, yang menerbitkan ratusan karya sepanjang kariernya, memulai penghargaan ini pada 1989 untuk memberi ruang kepada bahasa ibu yang kerap terpinggirkan dalam ranah penerbitan dan apresiasi sastra nasional. 

Dia memilih kata “Rancage, bermakna aktif dan kreatif sebagai nama penghargaan dalam harapannya agar keaktifan berbahasa daerah terus hidup dan berkembang ketika lebih dari 650 bahasa daerah di Indonesia menghadapi kenyataan bahwa jumlah penutur aktifnya semakin menurun. Menurut data lembaga kebahasaan nasional, risiko punahnya bahasa ibunda bukan hanya ancaman linguistik, tetapi juga krisis budaya yang tak mudah digantikan. 

Penghargaan seperti Rancage menjadi lebih dari sekadar piala atau uang tunai. Ia adalah ruang di mana bahasa ibu didengar, dihargai, dan dibumikan kembali melalui karya. Penganugerahan Rancage terhadap naskah yang tidak hanya estetis, tetapi juga berakar kuat pada identitas budaya, menjadikannya cermin perjuangan kolektif yang terus berlangsung.

Seperti ujar seorang kurator sastra yang hadir pada acara, “Bahasa ibu adalah denyut nadi kita. Saat ia lemah, seluruh tubuh budaya kita ikut meredup.” Itulah makna terpenting dari perayaan sastra ini. Bukan sekadar hadiah, tetapi pengakuan kepada mereka yang masih memperjuangkan kata-kata dari tanahnya sendiri. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll