19 Tahun Aksi Kamisan, Baskara Hindia: Isu Ini Tak Boleh Dilupakan

Ratusan orang berpakaian dominan hitam memadati gerbang barat laut Tugu Monumen Nasional (Monas),...

19 Tahun Aksi Kamisan, Baskara Hindia: Isu Ini Tak Boleh Dilupakan

Politik
17 Jan 2026
343 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

19 Tahun Aksi Kamisan, Baskara Hindia: Isu Ini Tak Boleh Dilupakan

Ratusan orang berpakaian dominan hitam memadati gerbang barat laut Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis, 15 Januari 2026. Mereka berkumpul di seberang Istana Kepresidenan untuk memperingati 19 tahun Aksi Kamisan.

Selain orasi dan pembacaan puisi, peringatan tersebut juga diwarnai penampilan sejumlah musisi. Grup musik Sukatani membawakan lagu “Semakin Tua Semakin Punk”, “Tanam Kemandirian”, dan “Gelap Gempita” dengan penampilan energik. Sementara The Brandals menyuguhkan “24.00 Lewat (Lagu Luna)” dan “Jari Kasar”. Massa aksi turut menyanyikan “Awas Polizei!” sembari melayangkan sorakan dan jari tengah ke udara.

Musisi Baskara Putra, vokalis Hindia dan .Feast turut hadir dalam Aksi Kamisan ke-893 tersebut. Usai menyampaikan refleksi, Baskara mengatakan Aksi Kamisan merupakan ruang penting untuk menyuarakan isu-isu yang selama ini diabaikan negara.

Ia mengaku kagum pada keteguhan Maria Katarina Sumarsih, salah satu penggagas Aksi Kamisan. “Harusnya enggak selama ini. Tentu kita penginnya enggak perlu sampai ada tahun ke-19 atau ke-20,” ujar Baskara.

Menurut dia, solidaritas dalam Aksi Kamisan justru terus membesar dari waktu ke waktu. Baskara meyakini perjuangan tersebut suatu hari akan mendapat respons pemerintah, meski ia ragu soal berapa lama waktu yang dibutuhkan. “Pemerintah Belanda saja baru mengakui kejahatan kolonialisme mereka ratusan tahun kemudian,” katanya.

Sumarsih menyambut baik keterlibatan para musisi dalam peringatan 19 tahun Aksi Kamisan. Menurut dia, seni merupakan salah satu cara penting untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

“Begitu juga para musisi dan seniman. Kebersamaan kita hari ini menyemangati langkah kami,” kata Sumarsih. Ia juga mengungkapkan bahwa kontribusi Baskara tidak berhenti pada lirik dan refleksi. Lagu “(kamis)” karya Hindia, kata Sumarsih, disumbangkan secara materiil untuk kegiatan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), yang salah satu kegiatannya adalah Aksi Kamisan.

Selayang Pandang Aksi Kamisan

Berdasarkan artikel jurnal Jalan Panjang Pencarian Keadilan: Aksi Kamisan Jakarta Tahun 2007–2021, Aksi Kamisan pertama kali digelar pada 18 Januari 2007. Aksi ini lahir sebagai respons atas lambannya penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu, seperti Tragedi 1965–1966, Penghilangan Paksa 1997–1998, Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, serta pembunuhan Munir.

Aksi Kamisan merupakan kegiatan JSKK yang diinisiasi Maria Katarina Sumarsih, Suciwati, istri almarhum Munir Said Thalib, dan Bedjo Untung, korban Tragedi 1965. Aksi ini dilakukan secara diam setiap Kamis dengan ciri khas payung hitam dan pakaian hitam, tepat di seberang Istana Kepresidenan. 

(Sadur berita Tempo.co)

Share :

Perspektif

Scroll