Di tengah arus modernisasi dan krisis identitas budaya yang semakin terasa, ilmuwan Indonesia yang berkiprah di University of Nottingham, Prof. Dr. Bagus Muljadi, menyerukan pentingnya membangun masa depan dengan berpijak pada pengetahuan leluhur. Seruan itu disampaikan dalam acara puncak Hari Jadi Tatar Sunda bertajuk “Pajajaran Gugat — Tak Tentang Keruntuhannya, Tentang Kebangkitannya Kembali” di halaman Gedung Sate, Bandung, 17 Mei 2026. Dalam momentum tersebut, ia turut menyerahkan proyek tiga jilid Ensiklopedia Ki Sunda kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai upaya mendokumentasikan sekaligus menghidupkan kembali khazanah intelektual Sunda.
Peristiwa ini seolah menjadi oase di tengah gersangnya diskursus pembangunan nasional yang selama ini terlalu berkiblat pada pemikiran Barat. Kehadiran ensiklopedia ini menandai babak baru di mana pengetahuan lokal tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan ditempatkan sebagai pilar strategis dalam menatap masa depan bangsa.
Bagi sebagian orang, acara itu mungkin hanya tampak sebagai perayaan budaya. Namun di balik pertunjukan kolosal dan romantisme sejarah Pajajaran, tersimpan perdebatan yang jauh lebih besar tentang bangsa modern apakah masih membutuhkan pengetahuan leluhur di tengah dominasi sains dan teknologi global? Prof. Bagus menjawab pertanyaan itu dengan tegas. Menurutnya, tidak ada peradaban besar yang benar-benar maju tanpa memahami akar kebudayaannya sendiri. “Tidak ada satupun kultur di dunia ini yang bisa maju tanpa menyadari ilmu dari leluhurnya,” ujar Prof. Bagus dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut menjadi menarik karena datang dari seorang ilmuwan teknik dan lingkungan yang selama ini bergelut di dunia riset internasional. Berdasarkan profilnya, Bagus Muljadi dikenal sebagai peneliti multidisipliner yang menekuni bidang pemodelan lingkungan, perubahan iklim, geosains, hingga ketahanan ekologi. Ia juga terlibat dalam berbagai kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Inggris melalui konsorsium UKICIS (UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences).
Keterlibatan aktifnya dalam jaringan sains global justru memberikan perspektif yang jernih, bahwa ada ruang kosong yang luas di dalam sains modern yang hanya bisa diisi oleh kearifan lokal (indigenous wisdom) yang telah teruji oleh waktu selama berabad-abad.
Karena itu, ketika seorang ilmuwan dengan latar sains modern berbicara tentang “ilmu leluhur”, pernyataannya tidak bisa dibaca sekadar sebagai nostalgia budaya. Ada kritik yang lebih dalam terhadap cara dunia modern memandang pengetahuan. Selama beberapa dekade, pengetahuan lokal sering ditempatkan sebagai sesuatu yang folklorik: menarik secara budaya, tetapi dianggap kurang ilmiah. Cara pandang inilah yang kini mulai dipertanyakan oleh banyak akademisi dunia.
Kecenderungan meminggirkan pengetahuan lokal ini merupakan warisan epistemik kolonialisme yang memandang bahwa sains valid hanyalah sains yang lahir dari laboratorium Barat. Akibatnya, cara-cara hidup tradisional yang adaptif dan harmonis dengan alam sering dianggap primitif atau tertinggal.
Lembaga internasional seperti UNESCO dalam berbagai programnya mendorong pengakuan terhadap Indigenous Knowledge Systems atau sistem pengetahuan masyarakat adat, terutama dalam isu konservasi lingkungan, mitigasi bencana, dan ketahanan pangan. Pengetahuan tradisional dinilai menyimpan pengalaman panjang manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Laporan dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) PBB bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa kawasan-kawasan bumi yang dikelola oleh masyarakat adat dan lokal mengalami laju kerusakan lingkungan yang jauh lebih lambat dibandingkan wilayah lainnya. Data global ini menunjukkan bahwa sains modern kini justru sedang terseok-seok mengejar dan membuktikan kebenaran empiris yang sudah dipraktikkan masyarakat adat sejak ribuan tahun lalu.
Karena itulah gagasan Ensiklopedia Ki Sunda memperoleh relevansinya. Prof. Bagus menyebut pengetahuan Sunda berbasis “rasa” atau nalar leluhur sesungguhnya memiliki karakter saintifik dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Ia bahkan menilai pola pikir masyarakat Sunda tentang relasi manusia dan alam memiliki nilai penting di tengah dunia yang sedang menghadapi krisis ekologis.
Nalar "rasa" dalam kosmologi Sunda bukanlah emosionalitas yang dangkal, melainkan sebuah kecerdasan spiritual dan ekologis tertinggi. Melalui "rasa", manusia tidak menempatkan dirinya sebagai subjek yang terpisah dari alam, melainkan sebagai satu kesatuan organik. Intuisi dan kepekaan inilah yang melahirkan pranata mangsa atau sistem tata ruang adat yang sangat sesuai dalam membaca tanda-tanda alam tanpa merusaknya.
Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya kritik global terhadap model pembangunan modern yang terlalu eksploitatif terhadap alam. Krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan konflik sumber daya membuat banyak negara mulai mencari perspektif alternatif di luar paradigma industrial yang selama ini dominan.
Dunia akademis global kini sedang gencar mengampanyekan konsep Sustainability Science (Sains Keberlanjutan). Konsep ini menyadari bahwa pendekatan teknokratis-kapitalistik terbukti gagal menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Solusinya harus melibatkan pergeseran paradigma kebudayaan, di mana alam tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas atau material yang siap dikeruk, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang sakral.
Dalam filosofi Sunda dikenal konsep Alam Buhun, Alam Kiwari, dan Alam Poe Isuk — masa lalu, masa kini, dan masa depan yang harus dijaga kesinambungannya. Filosofi ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari keseimbangan itu sendiri. Selain itu, tatanan ini dikonkretkan dalam pembagian wilayah ekologis seperti leuweung larangan (hutan titipan/lindung) yang tidak boleh disentuh, leuweung tutupan (hutan reboisasi), dan leuweung garapan (hutan produksi). Ini adalah cetak biru manajemen lingkungan modern yang luar biasa efisien, yang menjamin ketersediaan air dan keanekaragaman hayati bagi generasi masa depan (Alam Poe Isuk).
Meski demikian, gagasan kebangkitan budaya juga tidak lepas dari kritik. Sebagian pengamat mengingatkan agar upaya menghidupkan kembali identitas budaya tidak berhenti pada simbolisme romantik atau glorifikasi masa lalu. Kebudayaan, menurut mereka, seharusnya tidak hanya dipentaskan dalam seremoni, tetapi juga diterjemahkan menjadi kebijakan konkret melalui pendidikan, perlindungan lingkungan, tata ruang, hingga kesejahteraan masyarakat adat.
Jika kebangkitan budaya hanya dimaknai sebatas memakai pakaian adat pada hari tertentu atau menggelar ritual tahunan tanpa ada perlindungan hukum terhadap tanah ulayat dan hutan adat dari ekspansi industri korporasi, maka hal itu tidak lebih dari sekadar kosmetik kebudayaan. Kebudayaan harus hidup dalam sistem hukum dan ekonomi yang berpihak pada keberlanjutan hidup itu sendiri.
Ada pula kekhawatiran bahwa semangat “kembali ke akar budaya” kadang digunakan secara politis untuk membangun sentimen identitas tanpa menyentuh persoalan sosial yang nyata. Fanatisme kedaerahan yang sempit justru berisiko memecah belah dan mengaburkan esensi nilai leluhur yang sebenarnya bersifat inklusif dan universal.
Namun para pendukung gagasan ini menilai kritik tersebut justru menunjukkan pentingnya membangun kebudayaan secara lebih substantif. Dalam pidatonya, Prof. Bagus menegaskan pembangunan tidak semata diukur dari gedung, jalan raya, atau sistem hukum. “Pembangunan kebudayaan itu bukan hanya terukur dari jalanan, dari sistem hukum, dari bangunan, tapi dari pola pikir, nilai, dan martabat manusianya,” katanya.
Ketika martabat manusia suatu bangsa dihargai melalui pengakuan atas kecerdasan lokalnya, maka bangsa tersebut tidak akan mudah mengalami inferioritas atau rasa rendah diri di hadapan bangsa-bangsa besar lainnya.
Karena itu, proyek Ensiklopedia Ki Sunda disebut bukan sekadar dokumentasi budaya, melainkan usaha menyusun kembali memori intelektual masyarakat Sunda agar tidak hilang di tengah perubahan zaman. Langkah ini penting untuk memutus rantai epistemicide—yaitu pemusnahan sistem pengetahuan lokal yang sering terjadi akibat homogenisasi pendidikan modern yang terlalu seragam.
Ensiklopedia ini direncanakan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris untuk diperkenalkan ke dunia internasional. Gagasan ini membawa pesan simbolik bahwa pengetahuan lokal tidak lagi ditempatkan sebagai objek eksotis untuk dilihat, tetapi sebagai sumber gagasan yang dapat dipelajari dunia. Ini adalah langkah diplomasi budaya dan intelektual yang ofensif sekaligus elegan. Jawa Barat, melalui falsafah hidupnya, tidak lagi sekadar menjadi konsumen teori-teori Barat, melainkan tampil sebagai produsen pemikiran global yang menawarkan resolusi atas krisis peradaban kontemporer.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya terjadi di Jawa Barat. Di banyak negara, masyarakat modern mulai mengalami apa yang disebut ilmuwan sosial sebagai cultural dislocation atau keterputusan manusia dari akar budaya dan lingkungannya sendiri. Ketika teknologi berkembang sangat cepat, manusia justru sering merasa kehilangan arah. Kota-kota tumbuh, tetapi kesepian meningkat. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa menipis. Dunia menjadi semakin terkoneksi, namun identitas banyak masyarakat justru rapuh.
Kita hidup di era limpahan data, namun miskin makna. Kita mampu memetakan galaksi terjauh dan menciptakan kecerdasan buatan, namun kita gagap mengelola emosi dan abai menjaga kelestarian halaman rumah kita sendiri. Kecepatan tanpa arah ini telah melahirkan manusia-manusia modern yang cemas, yang terasing dari tanah tempat mereka berpijak.
Dalam situasi seperti itu, seruan untuk kembali membaca pengetahuan leluhur menjadi relevan bukan karena dunia ingin mundur ke masa lalu, melainkan karena modernitas sendiri sedang mencari keseimbangan baru. Kita tidak sedang diajak untuk menolak teknologi digital atau kembali hidup di gua-gua purba, melainkan diajak untuk mengawinkan ketajaman instrumen sains modern dengan kearifan etis dan spiritual ilmu leluhur.
Barangkali di titik itulah pesan Prof. Bagus menemukan maknanya bahwa kemajuan tidak harus berarti memutus hubungan dengan akar sejarah. Sebab sebuah bangsa yang kehilangan ingatan terhadap pengetahuan leluhurnya, lambat laun bisa kehilangan arah tentang ke mana ia sebenarnya ingin melangkah. Mereka akan menjadi bangsa peniru yang ringkih, yang mudah goyah diombang-ambingkan oleh badai zaman.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan teknologi dan ekonomi, manusia modern diam-diam sedang mencari sesuatu yang dulu pernah mereka miliki tentang cara hidup yang lebih bijak, lebih seimbang, dan lebih manusiawi. Sebuah cara hidup yang mengingatkan kita semua bahwa bumi bukanlah warisan dari nenek moyang kita, melainkan titipan dari anak cucu kita yang harus dikembalikan dalam keadaan utuh dan selamat.
Dari tatar Sunda, seruan itu kini bergema ke seluruh penjuru dunia bahwa untuk melangkah jauh ke depan, terkadang kita harus menengok dan memeluk erat kembali akar yang ada di belakang. (Red)