Karsa Orang Sunda, Identitas Sunda, dan Milangkala Tatar Sunda

"Kita lihat orang Tasikmalaya, misalnya, atau orang Padang, orang Madura, dari dulu hingga sekarang...

Karsa Orang Sunda, Identitas Sunda, dan Milangkala Tatar Sunda

19 Mei 2026
924 x Dilihat
Share :

"Kita lihat orang Tasikmalaya, misalnya, atau orang Padang, orang Madura, dari dulu hingga sekarang mereka adalah orang-orang yang sangat mengagumkan." Demikian kata H. Suparman, pemimpin surat kabar Warta Bandung yang dibredel setelah September 1965, dalam tulisannya ketika memberi testimoni untuk buku Ramadhan KH Tiga Perempat Abad terbitan Pustaka Jaya. 

Kalimat itu pendek, tetapi menyimpan penghormatan panjang terhadap watak sosial masyarakat Nusantara, tentang orang Tasik yang tekun merantau, orang Padang yang piawai berdagang, dan orang Madura yang keras menghadapi hidup. Melalui kacamata historis tersebut, kita diajak melihat bagaimana stereotip etnis di Indonesia sebenarnya terbentuk dari daya penyintas (survival-kit) yang tangguh, sebuah bentuk resiliensi kolektif yang mengakar dalam lintasan sejarah yang dinamis dan kerap penuh pergolakan.

Mungkin karena itulah, ketika kemarahan masyarakat Sunda terhadap Arteria Dahlan yang asalnya dari suku Minangkabau, sempat ramai beberapa waktu lalu, saya justru teringat kepada Marah Rusli, pujangga besar yang juga dari Minangkabau dan menikahi gadis Sunda. Ingatan ini terasa penting, sebab Indonesia sejak awal memang dibangun oleh perjumpaan antarsuku, antarkebudayaan, bahkan antarbahasa. 

Di dalam asimilasi kultural semacam itu, ketegangan politik atau gesekan verbal mestinya dapat diredam oleh kedewasaan budaya yang telah teruji berabad-abad. Kebudayaan Nusantara bukanlah entitas yang rapuh dan mudah retak oleh satu dua letupan kalimat sinis, melainkan sebuah tenunan kokoh dari benang-benang dialogis yang melintasi batas geografis dan primordial.

Namun peristiwa itu juga seperti membuka kembali satu pertanyaan lama yang mengusik kesadaran kita. Misalnya mengapa orang Sunda sering dianggap terlalu sabar, terlalu lembut, terlalu menahan diri? Apakah kelembutan ini merupakan bentuk kearifan spiritual yang matang, ataukah sebuah kompromi sosial yang berakar dari kenyamanan geopolitik tanah Pasundan yang subur makmur?

Pernyataan Arteria Dahlan waktu itu seolah membangunkan warga Pasundan—ngahudangkeun maung keur sare. Harimau yang lama tertidur dan justru harus dibangunkan oleh orang lain. Tidak bisa hudang sorangan, sebab terlalu lama hidup dalam kenyamanan budaya yang damai. Wilayah yang secara historis jarang didera konflik berkepanjangan atau kegersangan alam yang ekstrem cenderung membentuk karakter masyarakat yang kontemplatif, pasif, dan defensif. Ada semacam jeda psikologis yang panjang sebelum masyarakatnya memutuskan untuk merespons sebuah stimulus luar dengan konfrontasi terbuka.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, ada fenomena menarik di Tatar Sunda, munculnya gairah baru untuk memperlihatkan identitas kebudayaan Sunda di ruang publik. Pergeseran ini tidak lagi terjadi secara sembunyi-sembunyi di ruang seminar akademik yang sepi, melainkan meledak di panggung terbuka yang riuh. Salah satu yang paling menonjol adalah fenomena KDM atau Dedi Mulyadi.

Di media sosial, nama Dedi Mulyadi tidak hanya muncul sebagai politisi, tetapi sebagai simbol kultural baru masyarakat Sunda. Ia berbicara menggunakan bahasa Sunda, membela tradisi lokal, mendatangi kampung-kampung, memelihara narasi tentang karuhun, bahkan menghadirkan simbol-simbol budaya Sunda ke tengah percakapan digital yang selama ini didominasi bahasa urban Jakarta. Kanal YouTube dan media sosialnya yang ditonton jutaan orang menunjukkan satu hal penting bahwa masyarakat ternyata masih merindukan kedekatan budaya dan identitas lokal di tengah dunia yang makin seragam. Fenomena KDM mengonfirmasi adanya kerinduan sosiologis terhadap kepemimpinan yang populis, emosional, dan berakar pada kosmologi lokal. Kehadirannya menjadi sebuah antitesis dari gaya kepemimpinan teknokratis-legalistik yang kerap terasa berjarak dan dingin bagi masyarakat arus bawah.

Fenomena itu terasa semakin kuat ketika perayaan Milangkala Tatar Sunda beberapa waktu terakhir, yang tidak lagi sekadar menjadi seremoni budaya tahunan, melainkan berubah menjadi ruang konsolidasi identitas masyarakat Sunda modern. Di berbagai daerah di Jawa Barat, Milangkala tidak hanya menampilkan kesenian tradisional, tetapi juga diskusi kebudayaan, ekonomi kreatif, literasi digital, hingga upaya menghidupkan kembali rasa percaya diri generasi muda Sunda terhadap akar budayanya sendiri. Momentum ini bertransformasi menjadi sebuah katarsis kolektif, tempat di mana masa lalu yang romantis dianyam bersama instrumen masa depan yang serba digital, mencoba menjawab kegelisahan akan hilangnya pegangan hidup di tengah arus globalisasi yang kencang.

Karenanya saya teringat kepada pendapat Prof. Herman Suwandi dalam sebuah Konferensi Internasional Budaya Sunda di masa lalu. Ia pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan orang Sunda adalah lemahnya karsa, atau lemahnya dorongan untuk keluar dari zona nyaman sejarah dan kebudayaannya sendiri. Premis akademik ini menantang kita untuk melihat ulang relasi antara watak komunal dan daya saing global masyarakat Sunda dalam panggung sejarah nasional.

Lalu benarkah demikian?

Sebagai orang Tasikmalaya, saya justru tumbuh dengan pemandangan yang berbeda. Sejak kecil saya melihat begitu banyak emak-emak ditinggal suaminya merantau ke kota. Ada yang menjadi pedagang, tukang kredit, buruh, sopir, hingga pekerja informal di berbagai daerah Indonesia. Kampung-kampung di Tasikmalaya, Garut, Ciamis, hingga pelosok Priangan, sejak lama sesungguhnya telah melahirkan tradisi mobilitas sosial yang kuat. Melihat kenyataan sosiologis subwilayah Priangan Timur khususnya, ini memberikan bukti empiris bahwa ada denyut karsa yang luar biasa besar, sebuah etos bertahan hidup yang mematahkan asumsi bahwa manusia Sunda bersifat statis.

Bahkan ketika saya lahir, bapak saya tidak berada di rumah. Ia sedang merantau di Karawang sebagai tukang kredit keliling. Jadi, bagi saya, gambaran bahwa orang Sunda selalu ingin tinggal nyaman di lembur tidak sepenuhnya benar. Pengalaman personal ini menjadi cermin kecil dari jutaan kisah serupa di mana keterbatasan ekonomi di kampung halaman dikalahkan oleh tekad baja untuk melompati batas-batas geografis demi kesejahteraan keluarga.

Memang, di dalam kebudayaan Sunda terdapat pepatah seperti “Bengkung Ngariung Bongkok Ngaroyok ” yang kurang lebih bermakna: tetap berkumpul meski dalam keterbatasan. Dalam tradisi Jawa kita mengenal ungkapan serupa: “ Mangan Ora Mangan Kumpul.”

Pepatah-pepatah itu sering dianggap sebagai simbol kelemahan karsa. Seolah-olah orang Sunda khususnya terlalu mencintai kehangatan keluarga sehingga enggan mengambil risiko besar. Terlalu dekat dengan tradisi, terlalu terikat pada kenyamanan sosial, dan belum sepenuhnya bebas dari mentalitas feodal. Kritik ini menempatkan filosofi komunal tersebut sebagai jebakan struktural yang memenjarakan individu dalam ketakutan akan ketidakpastian dunia luar, mengorbankan pertumbuhan pribadi demi harmoni kolektif yang semu.

Tetapi bukankah zaman sekarang justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda?

Fenomena Dedi Mulyadi dan ramainya Milangkala Tatar Sunda menunjukkan bahwa generasi baru masyarakat Sunda mulai bergerak mencari bentuk identitasnya kembali. Mereka tidak lagi sekadar ingin dikenal sebagai masyarakat yang someah dan lemah lembut, tetapi juga ingin hadir sebagai subjek kebudayaan yang percaya diri di ruang nasional. Modernitas tidak lagi ditelan mentah-mentah, melainkan dinegosiasikan ulang melalui simbol-simbol lokal yang dikemas secara kontemporer, melahirkan apa yang oleh para sosiolog sebut sebagai proses "glokalisasi".

Namun tantangan terbesar tetap sama yang dihadapi kemudian. Apakah kebangkitan identitas akan berhenti sebagai romantisme budaya dan konten media sosial, atau benar-benar berubah menjadi energi pembangunan pengetahuan? Ini adalah pertanyaan krusial, mengingat popularitas digital seringkali bersifat efemeral dan dangkal jika tidak ditopang oleh fondasi intelektual yang kokoh.

Sebab kebudayaan yang hidup bukan hanya kebudayaan yang diperingati, melainkan kebudayaan yang mampu menciptakan masa depan. Ia harus menjadi rahim bagi lahirnya gagasan-gagasan besar, bukan sekadar museum bagi artefak masa lalu yang beku.

Hari ini, banyak desa kehilangan generasi mudanya. Sawah mulai ditinggalkan. Ladang kehilangan penerus. Anak-anak terbaik kampung pergi ke kota, kuliah di universitas besar, lalu terserap oleh industri perkotaan dan tidak kembali lagi. Fenomena brain drain lokal ini terjadi secara masif di berbagai pelosok Jawa Barat, memperlebar jurang ketimpangan antara pusat perkotaan dan wilayah penyangga.

Desa akhirnya kekurangan tenaga terbaiknya. Ruang hidup di pedesaan mengalami penuaan demografis, di mana sektor pertanian yang vital hanya dikelola oleh generasi tua dengan kapasitas adaptasi teknologi yang terbatas.

Ironisnya, di tengah slogan pembangunan dari pinggiran yang berkali-kali dikampanyekan pemerintah, desa justru semakin kehilangan pusat energinya dari manusia unggul atau putra dan putri terbaiknya. Maka jika tanpa adanya retensi talenta di tingkat lokal, program-program dana desa dan pembangunan infrastruktur fisik sering hanya menjadi proyek mati yang kehilangan ruh manusianya.

Padahal pembangunan masa depan tidak cukup hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Indonesia terlalu lama hidup dalam logika ekonomi ekstraktif, hanya menebang, menggali, lalu menjual mentah. Sementara dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), yaitu ekonomi yang bertumpu pada inovasi, riset, teknologi, kreativitas, dan kemampuan manusia mengolah data menjadi nilai tambah. Transisi global ini menuntut perubahan paradigma total, dari yang semula mengandalkan otot dan kekayaan bumi (resource-based) menuju optimalisasi kapasitas otak (brain-power).

Pemerintah sendiri kiranya dan semoga mulai mengarahkan pembangunan ke arah sana, agar menegaskan pentingnya pembangunan berbasis data dan pengetahuan, termasuk melalui penguatan sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) atau melalui integrasi sistem Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), agar kebijakan pembangunan lebih akurat dan tepat sasaran. Akurasi data mikro ini menjadi kunci strategis untuk memetakan potensi lokal, mengentaskan kemiskinan ekstrem, dan merancang intervensi ekonomi yang tepat di tingkat pedesaan.

Artinya, masa depan bukan lagi semata ditentukan oleh siapa yang memiliki tanah paling luas atau tambang paling besar, melainkan siapa yang menguasai pengetahuan, data, teknologi, dan kemampuan membaca perubahan zaman. Dalam lanskap global yang baru, kedaulatan sebuah bangsa atau komunitas diukur dari sejauh mana mereka mampu memproduksi pengetahuan dan mengontrol algoritma. Maka di sinilah pertanyaan tentang karsa menjadi menarik kembali. Apakah karsa hari ini masih harus dimaknai sebagai keberanian meninggalkan kampung halaman secara fisik? Ataukah justru kemampuan menggerakkan pikiran, gagasan, kreativitas, dan teknologi?

Sebab di era digital dan kecerdasan buatan, mobilitas fisik perlahan kehilangan dominasinya. Orang bisa bekerja lintas negara dari kamar kecil di kampungnya. Anak muda Tasikmalaya bisa menjual desain ke Eropa. Santri di Garut bisa membuat aplikasi. Mahasiswa di Ciamis bisa membangun media digital tanpa harus pindah permanen ke Jakarta. Gejala remote work dan digital nomadism ini membuktikan bahwa batas-batas geografis telah meluruh, pusat pertumbuhan tidak lagi tunggal, melainkan tersebar di simpul-simpul jaringan internet yang demokratis.

Karena itu, mungkin definisi karsa perlu diperbarui. Bukan sekadar keberanian merantau, melainkan keberanian menguasai pengetahuan. Bukan hanya keberanian meninggalkan lembur, tetapi keberanian membangun lembur dengan cara baru. Karsa abad ke-21 adalah karsa yang bersifat emansipatif, yang tidak lagi mengejar ilusi urbanisasi, melainkan membawa kapasitas kosmopolitan ke dalam lokalitas desa.

Semangat orang Tasik yang mudah ditemukan di mana-mana, atau orang Padang yang pertama mencari pasar, atau orang Madura yang berani menjual bensin eceran di seberang SPBU, selama ini adalah bentuk karsa generasi lama, tentang keberanian bertahan hidup melalui mobilitas dan kerja keras. Mereka adalah pahlawan ekonomi informal pada zamannya yang menembus kerasnya rimba perkotaan dengan modal nyali dan ketahanan fisik.

Tetapi dunia baru memerlukan bentuk karsa yang lain, dengan kemampuan mengubah pengetahuan menjadi kekuatan produksi. Karsa baru ini membutuhkan kecakapan metodologis, literasi digital yang mendalam, serta ketahanan mental dalam menghadapi disrupsi teknologi yang datang bertubi-tubi.

Mengutip tulisan Irqas Aditya Herlambang di Kompasiana, bahwa terdapat dua bentuk pengetahuan: Explicit Knowledge dan Tacit Knowledge. Explicit Knowledge adalah pengetahuan yang telah dibukukan, direkam, ditulis, atau didokumentasikan sehingga mudah dipelajari orang lain. Sedangkan Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang masih tersembunyi dalam pengalaman, kebiasaan, keterampilan, dan intuisi seseorang. Kedua dimensi ini membentuk ekosistem kognitif manusia yang menentukan bagaimana sebuah peradaban mengelola tantangan zamannya.

Masalahnya, banyak orang memiliki Tacit Knowledge, tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi Explicit Knowledge. Ketika pemilik pengetahuan itu tiada, maka hilang pulalah seluruh khazanah kearifan yang dikandungnya, meninggalkan generasi berikutnya dalam kondisi amnesia sejarah dan miskin metodologi. Padahal di situlah letak kekuatan masa depan. Transformasi dari yang implisit menjadi eksplisit adalah proses kodifikasi yang memberikan nilai ekonomi baru, skala duplikasi, dan daya tawar ilmiah di panggung global.

Orang Sunda sesungguhnya kaya akan Tacit Knowledge dengan ragam keterampilan bertani, seni bertutur, kuliner, musik, tradisi gotong royong, tata air, hingga kemampuan membaca alam (pratanda nyawa). Namun kekayaan itu sering berhenti sebagai pengalaman turun-temurun yang tidak terdokumentasi dengan baik, tidak diolah menjadi riset, tidak dijadikan inovasi, dan akhirnya kalah oleh industri besar. Kearifan lokal tentang ketahanan pangan atau konservasi mata air, misalnya, kerap dianggap mitos usang, padahal ia bisa menjadi jawaban ilmiah atas krisis ekologi global saat ini jika dieksplisitkan melalui metodologi riset modern.

Karena itu, kampus dan dunia kerja tidak boleh terus berjalan sendiri-sendiri. Dunia pendidikan tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi juga harus membangun ekosistem pengetahuan yang hidup bersama masyarakat. Perguruan tinggi di Jawa Barat harus menurunkan menara gadingnya untuk menyentuh tanah berlumpur pedesaan, menyerap tacit knowledge para petani dan pengrajin, lalu memformulasikannya menjadi sains terapan yang aplikatif.

Tentu saja, di tengah arus industrialisasi dan kecerdasan buatan, tetap ada kekhawatiran manusia akan berubah menjadi sekadar “sekrup industri”. Kekhawatiran para humanis itu tidak sepenuhnya salah. Sebab hari ini algoritma bukan hanya membaca perilaku manusia, tetapi juga mulai memengaruhi emosi, pilihan politik, bahkan cara berpikir. Ketika kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) bekerja mengomodifikasi perhatian kita, manusia terancam kehilangan otentisitas dan kehendak bebasnya.

Kita sedang memasuki zaman ketika data menjadi kekuasaan baru. Siapa yang menguasai server dan pusat data, dialah yang mendikte narasi peradaban, menggeser peran institusi tradisional termasuk negara dan lembaga adat. Karena itu, karsa yang dibutuhkan bukan hanya soal semangat bekerja keras, melainkan juga kesadaran atas waktu, ruang, data, komunitas, teknologi, dan arah peradaban. Karsa kontemporer harus dilengkapi dengan literasi kritis agar teknologi digunakan sebagai alat pembebasan manusia, bukan instrumen perbudakan baru.

Lalu bagaimana dengan Basa Sunda?

Di tengah semua perubahan itu, pertanyaan tentang bahasa sesungguhnya bukan sekadar soal tersinggung atau tidak tersinggung. Persoalan utamanya adalah: apakah masyarakat Sunda hari ini cukup penting sehingga bahasanya dianggap penting? Pertanyaan ini memaksa kita menembus batas ego kita dan harus melihat realitas kontribusi kultural kita dalam konstelasi makro.

Ajip Rosidi pernah menulis bahwa orang Sunda akan menggunakan bahasa Sunda jika bahasa Sunda memang penting. Dan bahasa Sunda akan dianggap penting jika masyarakat Sunda yang menggunakannya juga penting—penting dalam prestasi, penting dalam karya, penting dalam pengaruh. Pandangan Ajip ini sangat pragmatis sekaligus sosiologis. Ia menolak romantisme buta dan menuntut pembuktian empiris.

Karena bahasa akan mengikuti martabat sosial pemiliknya. Ketika para pemikir, penemu, ekonom, dan seniman kelas dunia lahir dari rahim budaya Sunda dan tetap bangga berbahasa Sunda, maka dengan sendirinya bahasa itu akan dipelajari dengan penuh rasa hormat oleh bangsa lain. Orang akan belajar bahasa yang dianggap membuka masa depan. Bahasa Inggris, bahasa Mandarin, atau bahasa Jepang dicari bukan hanya karena keindahan fonetiknya, melainkan karena ada kekuatan ekonomi, sains, dan pengaruh global di balik penuturnya.

Itulah sebabnya, kemarahan identitas yang dipancing Arteria Dahlan, jika kita tanpa prestasi sering hanya menjadi ledakan emosional sesaat. Ia seperti buih di lautan digital, riuh di media sosial, lalu cepat hilang tanpa meninggalkan jejak perubahan struktural yang berarti. Sementara penghormatan sejati lahir dari kemampuan menunjukkan kualitas diri secara konsisten.

Maka ketika ada yang dianggap telah mengusik Basa Sunda, mungkin pertanyaan pertama yang harus diajukan bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri: sudah seberapa penting kita hari ini? Sudahkah orang Sunda menjadi pelopor ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi kreatif, riset, pendidikan, dan kebudayaan dunia? Sudahkah kampung-kampung Sunda melahirkan generasi yang bukan hanya pandai mengeluh, tetapi juga mampu menciptakan masa depan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini harus dipaku di setiap sanubari generasi muda Pasundan sebagai cambuk spiritual yang menggerakkan aksi nyata. Karena kebudayaan tidak hidup hanya oleh nostalgia. Ia hidup oleh prestasi. Jika tanpa adanya karya baru yang monumental, sebuah kebudayaan perlahan-lahan akan mati dan hanya menjadi bahan kajian arkeologis di masa depan.

Dan mungkin benar, yang perlu dihidupkan kembali bukan sekadar kemarahan kolektif, melainkan karsa kolektif. Kemarahan yang terukur harus dikonversi menjadi energi kreatif (creative-fury) yang mewujud dalam ribuan inovasi, riset, dan karya nyata di ruang publik.

Fenomena KDM dan ramainya Milangkala Tatar Sunda setidaknya memperlihatkan satu gejala penting tentang masyarakat Sunda mulai mencari kembali rasa percaya dirinya. Tetapi rasa percaya diri kebudayaan harus melampaui simbol, melampaui seremoni, dan melampaui romantisme masa lalu. Ia harus menjelma menjadi keberanian membangun ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, ekonomi kreatif, dan kepemimpinan masa depan. Gairah kultural ini harus diejawantahkan ke dalam kebijakan publik yang berpihak pada pelestarian alam, penguatan data desa, dan peningkatan mutu manusia.

Pernyataan dan ajakan, “Hudang, urang Sunda,” bukan untuk ribut sesaat di media sosial, tetapi untuk memperlihatkan mutu dalam kerja nyata. Dalam ilmu pengetahuan. Dalam teknologi. Dalam pendidikan. Dalam kesenian. Dalam ekonomi. Dalam keberanian berpikir. Kebangkitan sejati Tatar Sunda tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak melawan ketidakadilan verbal, melainkan seberapa kokoh kita membangun fondasi peradaban baru yang disegani karena kecemerlangan otaknya dan kelembutan budinya.

Sebab dunia digital tidak lagi bertanya kita berasal dari suku apa, melainkan apa yang bisa kita ciptakan? Panggung masa depan adalah panggung meritokrasi yang jujur yang hanya menyisakan ruang bagi mereka yang memiliki karya, terlepas dari latar belakang etnis maupun primordialnya.

Dan di sanalah, orang Sunda, terutama saya sebagai orang Tasikmalaya, sedang diuji apakah saya hanya akan menjadi penonton perubahan, atau ikut menulis masa depan dengan tangannya sendiri. Karsa lama yang membawa para perantau membelah jarak fisik kini harus bertransformasi menjadi karsa baru yang membelah cakrawala pengetahuan, memastikan bahwa maung yang telah terjaga tidak kembali tidur, melainkan melompat jauh ke depan memimpin laju peradaban. Halik ku aing. 

Cag heula. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll