Siapa Gaurav Srivastava, mengapa namanya dikaitkan dengan Prabowo Subianto dan sejumlah elit Indonesia, serta bagaimana seorang seorang pengusaha kelahiran India yang berbasis di Amerika Serikat bisa diduga membangun jejaring hingga masuk ke lingkaran pejabat tinggi? Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat setelah laporan investigasi Tempo dan sejumlah media internasional mengungkap dugaan bahwa Srivastava mengaku sebagai agen Central Intelligence Agency (CIA) untuk mempengaruhi relasi bisnis dan politik di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Dari gugatan di Amerika ke penelusuran di Indonesia, membawa kasus ini menjadi menarik bukan hanya karena menyangkut dugaan penipuan bernilai puluhan juta dolar AS, melainkan juga karena memperlihatkan bagaimana identitas intelijen dapat digunakan sebagai alat membangun kepercayaan, membuka akses, dan memperluas pengaruh di lingkungan elite.
Perhatian terhadap Srivastava kembali menguat setelah pengusaha minyak asal Belanda, Niels Troost, mengajukan gugatan hukum berdasarkan skema Racketeer Influenced and Corrupt Organizations (RICO) di pengadilan California pada Januari 2026. Troost menuduh Srivastava melakukan pemerasan dan berupaya mengambil alih aset perusahaan yang nilainya mencapai ratusan juta dolar.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, Troost juga menggugat perusahaan konsultan intelijen The Arkin Group yang direkrut Srivastava untuk melawan narasi bahwa dirinya merupakan “agen CIA palsu”. Berbagai media internasional seperti Funancial Times, The Wall Street, Journal, dan Project Brazen sebelumnya telah menyoroti dugaan atas modus penipuan dan jaringan lobi yang digunakan Srivastava. Namun hubungan Srivastava dengan elit Indonesia baru banyak dibahas oleh media nasional seperti Tempo akhir Juni ini.
Kedekatan dengan lingkaran elite, hubungan Srivastava dengan sejumlah tokoh Indonesia disebut telah terjalin sejak 2020. Ia dicatat hadir dalam pertemuan antara Prabowo Subianto dan Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat itu, Christopher Miller di Jakarta. Srivastava juga disebut beberapa kali mengunjungi Hambalang, kediaman Prabowo di Bogor, dan terlibat dalam penyelenggaraan Forum Ketahanan Global di Bali bersama kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo. Kementerian Pertahanan menjadi salah satu co-host dalam kegiatan tersebut.
Berdasarkan laporan fakta yang telah terkonfirmasi, hasil penelusuran Tempo dan dokumen pengadilan yang dikutip dalam laporan investigasi, Srivastava menjadi sponsor Forum Ketahanan Pangan Global di Bali pada 2022. Ia menjalin komunikasi bisnis dengan kelompok usaha Arsari. Perusahaannya menandatangani kontrak terkait perawatan pesawat C-130/Hercules dengan PT Dirgantara Indonesia dan tentang gugatan RICO terhadap Srivastava yang diajukan di pengadilan California.
Dugaan aliran dana dan proyek pertahanan berdasarkan salah satu temuan yang paling menyita perhatian adalah adanya dugaan aliran dana sekitar US$51 juta dari perusahaan. Selain itu, perusahaan yang terafiliasi dengan Srivastava disebut pernah menerima letter of intent pengadaan alat pertahanan berteknologi tinggi dari Kementerian Pertahanan ketika dipimpin Prabowo. Nilai proyek yang dibicarakan disebut mencapai ratusan juta dolar AS.
Menanggapi isu tersebut, Kepala Biro Informasi Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Sirait, menegaskan bahwa proses pengadaan pertahanan memiliki mekanisme dan prosedur tersendiri. Pernyataan itu disampaikan dalam sesi tanya-jawab yang dikutip Tempo.
Niels Troost dalam gugatan RICO di California, dikutip oleh laporan Tempo, sebagai pihak yang menilai ada indikasi penipuan, “Srivastava, yang mengaku sebagai agen CIA, memeras dan ingin mengambil perusahaan miliknya yang bernilai ratusan juta dolar.”
Pernyataan di situs resmi Gaurav Srivastava, bahwa memang sejak akhir 2023, Srivastava menjadi sasaran kampanye disinformasi yang agresif dan penuh dendam untuk membebaskan Niels Troost dari tuduhan perdagangan minyak Rusia ilegal.
Di sinilah letak persoalan utamanya, yang hingga kini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan Srivastava bersalah atas tuduhan-tuduhan tersebut. Karena itu, semua klaim harus dipandang sebagai dugaan yang masih menunggu pembuktian hukum.
Mengapa banyak orang bisa percaya pada Srivastava, dari laporan investigasi menunjukkan bahwa sebagian pejabat, purnawirawan militer, dan pengusaha yang pernah berinteraksi dengan Srivastava, karena mengenalnya sebagai sosok yang memiliki akses ke badan intelijen Amerika.
Fenomena ini mengingatkan pada kasus Robert Hendy-Freegard yang diangkat dalam dokumenter The Puppet Master: Hunting the Ultimate Conman. Hendy-Freegard yang berhasil meyakinkan banyak korban bahwa ia adalah agen rahasia MI5 dan menggunakan klaim tersebut untuk memperoleh uang, loyalitas, bahkan kendali atas kehidupan para korbannya.
Perbedaannya, kasus Srivastava berada dalam ranah sengketa bisnis internasional dan jaringan elite politik, sehingga dampaknya berpotensi lebih luas daripada sekadar penipuan individu. Pelajaran bagi Indonesia, kasus ini seharusnya tidak semata dibaca sebagai cerita sensasional tentang “agen CIA palsu”. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai bagaimana mekanisme verifikasi terhadap mitra asing yang memiliki akses ke pejabat tinggi dan proyek strategis negara.
Di era diplomasi ekonomi dan investasi global, kedekatan dengan tokoh berpengaruh sering kali dianggap sebagai legitimasi. Padahal kedekatan tidak selalu identik dengan kredibilitas. Jejaring yang luas, foto bersama pejabat, atau kehadiran dalam forum internasional belum tentu menjadi bukti kapasitas maupun integritas seseorang.
Di sisi lain, pemerintah dan pihak-pihak yang disebut dalam laporan juga berhak memperoleh ruang klarifikasi dan asas praduga tak bersalah. Keterlibatan dalam pertemuan atau kerja sama bisnis tidak otomatis membuktikan adanya pelanggaran hukum.
Dengan demikian, kisah Gaurav Srivastava bukan hanya tentang seorang pengusaha yang diduga menyamar sebagai agen intelijen. Ia juga tentang betapa mudahnya kekuasaan, akses, dan citra internasional menciptakan ilusi kepercayaan. Dunia modern dipenuhi orang-orang yang mampu membangun narasi tentang dirinya sendiri. Sebagian narasi itu benar, sebagian lain mungkin dibesar-besarkan. Tantangannya bagi negara, pejabat, dan masyarakat adalah membedakan antara reputasi yang dibangun dengan fakta yang dapat diverifikasi.
Seperti yang diingatkan penulis Ben Macintyre, dunia spionase bertumpu pada kepercayaan yang tidak pernah benar-benar setara. Dan ketika identitas intelijen digunakan sebagai alat pengaruh, senjata yang paling berbahaya seringkali bukan peluru, melainkan keyakinan orang lain bahwa kita layak dipercaya. (Red)