Mulai Rabu, 2 Juli 2026, masyarakat Batam dapat menikmati layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Batam yang terhubung langsung dengan Bandara Internasional Hang Nadim. Layanan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Batam, BP Batam, dan PT Bandara Internasional Batam (BIB) ini menawarkan tarif Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.500 bagi pelajar, dengan harapan memperluas akses transportasi publik sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Peresmian rute baru tersebut dilakukan pada Senin (29/6) di kawasan Bandara Hang Nadim. Koridor ini menghubungkan Nongsa–Bandara Hang Nadim–Batam Centre dan menjadi salah satu upaya pemerintah menghadirkan sistem transportasi perkotaan yang semakin terintegrasi. Sebelumnya, rencana integrasi layanan menuju bandara telah dipersiapkan sejak beberapa bulan terakhir bersamaan dengan penambahan armada Trans Batam dan pengembangan koridor baru.
Direktur PT Bandara Internasional Batam, Annang Setia Budhi, menyambut positif hadirnya layanan tersebut. Menurutnya, akses transportasi publik menuju bandara selama ini masih terbatas sehingga kehadiran Trans Batam menjadi alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Kami sangat menyambut baik dukungan dari Pemerintah Kota Batam dan BP Batam. Bersama BRT Trans Batam, kami menghadirkan layanan transportasi publik yang mudah diakses dan murah bagi masyarakat yang akan menuju maupun dari Bandara Hang Nadim.”
Ia menegaskan bahwa pengelola bandara tetap menyediakan berbagai moda transportasi lain agar masyarakat memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan.
“Sebagai pengelola bandara, kami akan selalu siap memberikan fasilitas yang memudahkan publik. Kami juga tetap menyediakan berbagai pilihan transportasi darat agar masyarakat memiliki banyak alternatif.”
Menurut Annang, hingga kini perjalanan menuju Bandara Hang Nadim masih didominasi kendaraan pribadi, disusul taksi konvensional dan transportasi daring. Penggunaan bus masih relatif kecil sehingga rute baru ini diharapkan mampu membuka pasar baru bagi angkutan massal. "Selama ini kendaraan pribadi masih menjadi moda transportasi utama menuju bandara. Kami berharap kehadiran Trans Batam dapat membuka pasar baru dan meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi publik."
Sementara itu, Asisten Pemerintahan Kota Batam, Yusfa Hendri, menjelaskan setiap armada memiliki 22 kursi dengan kapasitas maksimal sekitar 40 penumpang. Bus beroperasi setiap 20–30 menit mulai pukul 06.00 hingga 19.30 WIB, dengan titik naik dan turun penumpang berada di area kedatangan bandara, berdekatan dengan halte DAMRI.
Seluruh pembayaran dilakukan secara non-tunai. Namun pemerintah memastikan masyarakat yang belum memiliki aplikasi pembayaran elektronik tetap dapat menggunakan layanan tersebut. "Prinsipnya, kami tidak ingin ada penumpang yang gagal naik bus hanya karena belum memiliki pembayaran non-tunai. Petugas akan membantu semaksimal mungkin agar masyarakat tetap bisa menggunakan layanan ini."
Hadirnya layanan ini sejalan dengan tren pembangunan transportasi publik di berbagai kota besar Indonesia yang mulai menghubungkan bandara dengan jaringan angkutan massal. Integrasi tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi perjalanan, mengurangi kemacetan, sekaligus menekan emisi kendaraan bermotor apabila tingkat penggunaannya terus meningkat.
Meski demikian, sejumlah pengamat transportasi selama ini mengingatkan bahwa keberhasilan angkutan umum tidak cukup hanya mengandalkan tarif murah. Faktor ketepatan waktu, kenyamanan, keamanan, frekuensi perjalanan, kemudahan perpindahan antarkoridor, serta keterhubungan dengan kawasan permukiman menjadi penentu utama apakah masyarakat benar-benar bersedia meninggalkan kendaraan pribadi.
Di sisi lain, sebagian kalangan juga menilai keberadaan Trans Batam menuju bandara dapat menjadi momentum penting bagi Batam yang sedang berkembang sebagai kota industri, perdagangan, dan pariwisata. Bandara sebagai pintu masuk utama akan semakin kompetitif apabila didukung sistem transportasi publik yang mudah dijangkau oleh wisatawan maupun pelaku usaha.
Tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah layanan resmi beroperasi. Pemerintah perlu memastikan armada selalu tersedia sesuai jadwal, halte mudah diakses, serta masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai rute dan sistem pembayaran. Tanpa pelayanan yang konsisten, tarif murah saja belum tentu cukup untuk mengubah kebiasaan warga.
Keberhasilan sebuah transportasi publik tidak diukur dari banyaknya bus yang diluncurkan, melainkan dari seberapa banyak mobil pribadi yang akhirnya tidak lagi digunakan. Sebab transportasi massal bukan sekadar memindahkan orang dari satu titik ke titik lain, melainkan mengubah cara sebuah kota bergerak.
Ketika masyarakat mulai percaya bahwa angkutan umum mampu memberikan kenyamanan, kepastian waktu, dan kemudahan, saat itulah sebuah kota perlahan berubah menjadi lebih ramah, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan. Itulah tantangan sekaligus harapan yang kini mengiringi langkah pertama Trans Batam menuju Bandara Hang Nadim. (Red)