Kanker prostat menjadi perhatian karena kasus baru penyakit ini terus meningkat, sementara pada tahap awal kanker sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, pria terutama yang sudah memasuki usia lebih tua atau memiliki faktor risiko perlu mengenali perubahan pada saluran kemih dan mendiskusikan pemeriksaan seperti tes prostate-specific antigen (PSA) dengan dokter untuk menentukan apakah deteksi dini memang diperlukan. Kanker prostat merupakan keganasan yang berkembang pada kelenjar prostat, organ kecil yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi sebagian uretra. Prostat berperan dalam menghasilkan cairan yang menjadi bagian dari semen.
Penyakit ini bukan persoalan kesehatan yang hanya terjadi di negara tertentu. Data Global Cancer Observatory menunjukkan terdapat sekitar 1,47 juta kasus baru kanker prostat di dunia pada 2022 dengan sekitar 397.000 kematian. Kanker prostat menempati peringkat keempat berdasarkan jumlah kasus kanker secara keseluruhan dan menjadi salah satu kanker paling banyak ditemukan pada laki-laki.
Di Amerika Serikat, situasinya juga menunjukkan tekanan yang belum mereda. American Cancer Society memperkirakan terdapat 333.830 kasus baru kanker prostat dan 36.320 kematian pada 2026. ACS mencatat insiden kanker prostat meningkat sekitar 3 persen per tahun pada periode 2014–2022, dengan kenaikan paling tajam terjadi pada penyakit stadium lanjut. Perkembangan itu membuat persoalan deteksi dini kembali penting. Namun ada satu hal yang perlu diluruskan bagwa menemukan kanker lebih cepat bukan berarti setiap pria harus menjalani tes PSA setiap tahun.
Salah satu persoalan terbesar kanker prostat adalah penyakit ini dapat tumbuh tanpa memberikan tanda yang mudah dikenali. National Cancer Institute (NCI) menyebut kanker prostat stadium awal umumnya tidak menimbulkan gejala. Gejala biasanya baru muncul ketika tumor tumbuh secara lokal atau penyakit telah berkembang lebih jauh. Ketika gangguan mulai muncul, keluhannya sering menyerupai masalah prostat yang jauh lebih umum dan bukan kanker, terutama benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
Beberapa perubahan yang patut diperhatikan antara lain ketika sering buang air kecil, terutama pada malam hari, atau sulit memulai buang air kecil, aliran urine melemah atau terputus-putus, sulit mengosongkan kandung kemih, dan munculnya darah dalam urine atau air mani. Pada penyakit yang telah lebih lanjut, nyeri yang menetap di punggung, pinggul, atau panggul dapat muncul.
Karena gejalanya tidak spesifik, seseorang tidak dapat menyimpulkan bahwa keluhan tersebut berarti kanker prostat. Sebaliknya, ketiadaan gejala juga tidak otomatis berarti prostat dalam keadaan bebas dari kanker. Maka diperlukan deteksi dini melalui Tes PSA yang dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar prostate-specific antigen, protein yang diproduksi oleh sel prostat.
PSA memang dapat membantu menemukan kemungkinan kanker sebelum gejala muncul. Namun kadar PSA yang tinggi bukan berarti seseorang pasti menderita kanker. NCI menjelaskan bahwa pembesaran prostat jinak dan peradangan prostat juga dapat meningkatkan kadar PSA. Karena itu, hasil PSA yang tinggi dapat berujung pada pemeriksaan lanjutan, termasuk pengulangan tes, pemeriksaan fisik, pencitraan seperti MRI, dan dalam kondisi tertentu biopsi.
Dengan kata lain, PSA adalah alat untuk menilai risiko, bukan alat yang otomatis dapat memastikan diagnosis kanker. Diagnosis kanker prostat memerlukan evaluasi medis yang lebih lengkap dan, bila diperlukan, pemeriksaan jaringan melalui biopsi. Persoalan ini yang membuat para ahli tidak sepenuhnya sepakat dengan gagasan bahwa semua pria harus melakukan PSA secara rutin setiap tahun.
American Cancer Society pada 2026 kembali menekankan bahwa skrining kanker prostat bukan pendekatan yang berlaku sama untuk semua orang. ACS menganjurkan pembicaraan mengenai manfaat dan risiko skrining dimulai sekitar usia 50 tahun bagi pria dengan risiko rata-rata. Pria berisiko lebih tinggi, termasuk mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker prostat dianjurkan membicarakannya lebih dini.
Sementara itu, United States Preventive Services Task Force (USPSTF) mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati. Untuk pria berusia 55–69 tahun, keputusan menjalani skrining PSA sebaiknya dibuat secara individual setelah mendiskusikan manfaat dan risikonya bersama dokter. Untuk pria berusia 70 tahun ke atas, USPSTF tidak merekomendasikan skrining PSA secara rutin.
Perbedaan tersebut penting dipahami masyarakat. Skrining bukan sekadar persoalan menemukan kanker sedini mungkin. Ada konsekuensi setelah hasil pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Misalnya jika PSA meningkat dapat menghasilkan false positive, yakni hasil yang tampak mengkhawatirkan meskipun kanker tidak ditemukan. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan dan pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi yang memiliki risiko perdarahan, infeksi, dan nyeri.
Selain itu, skrining dapat menemukan kanker yang tumbuh sangat lambat dan mungkin tidak pernah menimbulkan masalah serius sepanjang hidup seseorang. Kondisi tersebut dikenal sebagai overdiagnosis. Jika kanker seperti itu langsung diterapi secara agresif, pasien dapat menghadapi efek samping seperti gangguan fungsi seksual atau inkontinensia urine.
Karena itu, NCI menekankan bahwa manfaat potensial skrining perlu ditimbang bersama kemungkinan overdiagnosis, overtreatment, false positive, dan komplikasi pemeriksaan lanjutan.
Meski memiliki keterbatasan, bukan berarti PSA tidak berguna. Pemeriksaan PSA diperlukan agar menjadi bagian penting dari strategi deteksi dini bagi pria tertentu. American Cancer Society melaporkan bahwa tingkat kematian akibat kanker prostat di Amerika Serikat telah turun sekitar separuh dari puncaknya pada 1993 hingga 2023. Penurunan tersebut kemungkinan berkaitan dengan deteksi lebih awal melalui PSA dan kemajuan pengobatan.
ACS juga mencatat bahwa angka kelangsungan hidup relatif lima tahun untuk kanker prostat yang sudah menyebar jauh hanya sekitar 38 persen, sementara pada penyakit yang ditemukan pada tahap lebih awal angkanya mendekati 100 persen. Angka tersebut memperlihatkan mengapa deteksi dini tetap memiliki arti. Meski deteksi dini yang baik bukan berarti melakukan sebanyak mungkin pemeriksaan kepada sebanyak mungkin orang. Yang lebih penting adalah menemukan penyakit yang berpotensi membahayakan pada orang yang memang memiliki kemungkinan mendapat manfaat dari pemeriksaan.
Persoalan kanker prostat juga relevan bagi Indonesia. Data GLOBOCAN 2022 yang dihimpun International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan kanker prostat termasuk penyebab kematian akibat kanker yang penting pada laki-laki Indonesia. Terdapat sekitar 13.130 kematian akibat kanker prostat pada 2022, menempatkannya sebagai penyebab kematian kanker nomor lima pada laki-laki dalam data tersebut.
Angka ini perlu dibaca dengan hati-hati karena data nasional terbaru yang benar-benar menggambarkan perubahan kasus kanker prostat dari tahun ke tahun tidak selalu tersedia dengan kelengkapan yang sama seperti data Amerika Serikat. Namun satu pesan kesehatan masyarakat tetap relevan bahwa dengan meningkatnya usia harapan hidup berarti akan semakin banyak pria yang memasuki kelompok usia dan risikonya masalah prostat menjadi lebih umum.
Karena itu, keluhan berkemih yang menetap sebaiknya tidak dianggap semata-mata sebagai bagian normal dari proses menua. Pria sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami perubahan berkemih yang menetap, darah dalam urine atau air mani, kesulitan mengosongkan kandung kemih, atau nyeri yang tidak biasa dan menetap di punggung, pinggul, maupun panggul. Gejala-gejala tersebut memang tidak secara otomatis menunjukkan kanker, tetapi layak mendapatkan evaluasi medis.
Bagi pria yang belum memiliki gejala, keputusan menjalani PSA sebaiknya mempertimbangkan usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, faktor risiko, serta harapan hidup. Pria dengan ayah atau saudara laki-laki yang pernah mengalami kanker prostat perlu memberi perhatian lebih karena riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko penting. Faktor genetik tertentu, termasuk perubahan pada gen BRCA1 dan BRCA2, juga dapat meningkatkan risiko.
Yang tidak kalah penting, hasil PSA abnormal tidak seharusnya langsung diterjemahkan sebagai vonis kanker. Dokter dapat menilai ulang hasil tersebut dan mempertimbangkan pemeriksaan tambahan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Kanker prostat mengajarkan satu hal penting tentang kesehatan laki-laki. Tidak semua penyakit serius datang dengan rasa sakit yang jelas. Ada penyakit yang tumbuh perlahan dalam tubuh, sementara kehidupan sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Seseorang masih dapat bekerja, bepergian, makan, tertawa, dan merasa sehat, sementara perubahan kecil pada tubuh perlahan mulai muncul.
Karena itu, mengenali tanda-tanda awal bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap kanker. Sebaliknya, pengetahuan membuat seseorang harus lebih mampu mengambil keputusan yang rasional. PSA pun sebaiknya tidak dipandang sebagai jawaban tunggal. Hanya salah satu bagian saja dari percakapan yang lebih besar antara pasien dan dokter tentang risiko, usia, riwayat keluarga, kemungkinan manfaat, potensi kerugian, dan kualitas hidup.
Deteksi dini bukanlah perlombaan untuk menemukan sebanyak mungkin kanker. Tujuannya adalah menemukan penyakit yang memang perlu ditemukan pada waktu ketika tindakan medis masih dapat memberikan manfaat terbesar. Dan mungkin, bagi banyak laki-laki, bentuk keberanian yang paling sederhana bukanlah menunggu tubuh benar-benar sakit, melainkan bersedia membaca perubahan kecil yang selama ini dianggap sepele, kemudian mengambil keputusan kesehatan dengan pengetahuan yang cukup sebelum benar-benar terlambat. (Red)