Dari Panggung Encik dan Puan, Batam Menjual Harapan Baru Pariwisata

Gemerlap lampu Ballroom Harmoni One, Batamcentre, Sabtu malam, 9 Mei 2026, menjadi saksi...

Dari Panggung Encik dan Puan, Batam Menjual Harapan Baru Pariwisata

12 Mei 2026
201 x Dilihat
Share :

Gemerlap lampu Ballroom Harmoni One, Batamcentre, Sabtu malam, 9 Mei 2026, menjadi saksi terpilihnya Arya Saputra dan Keizia Hirano sebagai Duta Wisata Encik dan Puan Kota Batam 2026. Ajang yang digelar Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu bukan sekadar kompetisi penampilan generasi muda, melainkan bagian dari upaya pemerintah memperkuat promosi pariwisata dan budaya Batam di tengah target ambisius kunjungan wisatawan sebesar 1,75 juta orang pada tahun ini.

Arya dinobatkan sebagai Encik Batam 2026, sementara Keizia meraih gelar Puan Batam 2026 setelah melewati rangkaian seleksi ketat yang diikuti 167 peserta dari berbagai latar belakang profesi. Proses seleksi berlangsung selama sekitar 45 hari hingga menyisakan 20 finalis terbaik yang tampil pada malam grand final. 

Ajang tahun ini mengusung tema “Proud Tourism and Culture Ready for the Future”. Tema tersebut mencerminkan arah baru promosi pariwisata Batam yang tidak lagi hanya mengandalkan destinasi fisik, tetapi juga kekuatan budaya, kreativitas generasi muda, dan promosi digital.

Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, yang hadir mewakili Wali Kota Batam, mengatakan para duta wisata diharapkan mampu menjadi wajah promosi daerah hingga ke tingkat internasional. “Kami berharap para Duta Wisata dapat berkontribusi memperkenalkan potensi wisata dan budaya Batam lebih luas lagi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Firmansyah. 

Harapan itu bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Batam mencatat sektor pariwisata mengalami tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam mencapai lebih dari 1,6 juta orang sepanjang 2025, melampaui target pemerintah daerah. Pada 2026, angka tersebut ditingkatkan menjadi 1,75 juta kunjungan. Hingga Februari 2026 saja, jumlah wisatawan asing yang masuk ke Batam telah mencapai 257.928 orang. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menilai peningkatan itu tidak terlepas dari promosi pariwisata yang semakin agresif, penguatan event, serta posisi Batam sebagai salah satu pintu masuk wisatawan asing terbesar di Indonesia. “Kami terus memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata dan meningkatkan daya tarik destinasi agar target 2026 dapat tercapai,” kata Ardiwinata. 

Di balik optimisme tersebut, muncul pula sejumlah catatan kritis. Ajang duta wisata sering dipandang hanya sebagai seremoni tahunan yang menonjolkan simbol dan penampilan, tetapi belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar pariwisata daerah, seperti kualitas destinasi, kebersihan kawasan wisata, transportasi publik, hingga keberlanjutan lingkungan.

Pandangan serupa juga muncul dalam berbagai diskusi publik di media sosial dan forum daring. Sebagian masyarakat menilai promosi wisata perlu dibarengi pembangunan infrastruktur dan inovasi destinasi agar tidak berhenti pada slogan semata. 

Menjawab kritik tersebut, Pemerintah Kota Batam mulai mengubah pendekatan pembinaan duta wisata. Finalis Encik dan Puan tahun ini tidak hanya dibekali kemampuan public speaking dan pengetahuan budaya, tetapi juga strategi promosi digital dan pemanfaatan media sosial.

Kepala Dinas Kominfo Kota Batam, Rudi Panjaitan, menegaskan bahwa duta wisata masa kini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. “Duta wisata tidak hanya berperan sebagai ikon daerah, tetapi juga sebagai ujung tombak promosi yang mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal,” ujarnya saat pembekalan finalis. 

Karena itu, sebelum grand final berlangsung, para finalis menjalani pra-karantina dengan mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Batam dan mengikuti pelatihan intensif selama empat hari di Ayola Signature Ocarina Batam. Mereka dibekali wawasan tentang pariwisata, budaya lokal, komunikasi publik, hingga strategi promosi digital. 

Ketua DPRD Kota Batam, Muhammad Kamaluddin, juga mengingatkan bahwa seorang duta wisata tidak cukup hanya memiliki penampilan menarik. “Selain penampilan, yang paling utama tentu harus memiliki wawasan tentang Kota Batam, tentang potensi wisata, budaya, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan,” katanya saat menerima audiensi finalis Encik dan Puan Batam 2026. 

Sekretariat DPRD Kota Batam

Di tengah persaingan destinasi wisata regional seperti Singapura, Johor Bahru, dan Bali, Batam memang membutuhkan wajah-wajah baru yang mampu membangun narasi kota secara lebih segar. Terlebih, karakter wisatawan hari ini mulai berubah. Banyak wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat, tetapi pengalaman, cerita, dan identitas budaya yang otentik.

Di titik inilah peran duta wisata sebenarnya diuji. Apakah mereka hanya hadir di panggung seremoni dan unggahan media sosial, atau benar-benar menjadi jembatan antara budaya lokal, industri pariwisata, dan generasi muda Batam sendiri. Sebab pariwisata bukan hanya soal angka kunjungan dan target statistik. Ia juga tentang bagaimana sebuah kota menjaga ingatannya, merawat budayanya, dan memperkenalkan dirinya kepada dunia tanpa kehilangan wajah aslinya.

Arya dan Keizia kini membawa gelar Encik dan Puan Batam 2026. Tetapi di luar mahkota, selempang, dan tepuk tangan malam grand final, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk memastikan Batam tidak hanya dikenal sebagai kota transit dan industri, melainkan juga kota yang memiliki cerita, budaya, dan manusia-manusia muda yang mampu merawatnya dengan bangga. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll