Menggapai Matahari, Sebuah Film yang Menggapai Kembali Masa Kecil Saya

Belum terhitung sudah berapa kali saya menonton film "Menggapai Matahari". Kenangan paling awal...

Menggapai Matahari, Sebuah Film yang Menggapai Kembali Masa Kecil Saya

06 Sep 2026
140 x Dilihat
Share :

Menggapai Matahari, Sebuah Film yang Menggapai Kembali Masa Kecil Saya

Belum terhitung sudah berapa kali saya menonton film "Menggapai Matahari". Kenangan paling awal membawa saya ke masa lalu saat bersama kakak kedua saya, saat kami masih tinggal di rumah ayah di Gobras. Selepas Isya waktu itu, seorang teman memberi ayah beberapa lembar tiket -atau karcis, begitu kami menyebutnya- yang kemudian diserahkannya kepada kami. Ayah berpesan, jika ingin menonton, kami cukup mengikuti rombongan warga yang berjalan menuju sebuah lapangan.

Saya tidak tahu sebelumnya film yang saya dan kakak saya tonton berjudul Menggapai Matahari. Saya datang ke lapangan pertunjukan hanya sebagai seorang bocah yang mengikuti ajakan, tanpa mengetahui bahwa beberapa jam di depan layar akan meninggalkan sesuatu yang begitu panjang dalam ingatan.

Setelah puluhan tahun berlalu, saya kembali menonton film itu. Anehnya, yang pertama kali datang bukan hanya ceritanya, melainkan suasana masa kecil yang mengitarinya. Terutama saat kembali mengingat adegan demi adegan yang tersimpan di memori, saya seperti menemukan kembali sebuah ruangan lama yang sudah ada dalam diri saya. 

Rupanya, ada kepingan masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Mungkin hanya bersembunyi di balik bayang-bayang gambar, suara, musik, dan wajah para pemainnya, termasuk fakta yang baru saya sadari bahwa musuh Rhoma dalam film tersebut adalah Benny Compo, yang diperankan oleh Ikang Fawzi.

Ketidaktahuan itu adalah bagian dari kepolosan masa kecil saya. Saya menonton bukan untuk memilah siapa protagonis dan antagonis, atau membaca pertarungan kebudayaan di balik ceritanya. Saya menonton hanya untuk meraba-raba alur, ikut tertawa saat penonton lain tertawa, atau merasa tegang dan takut terbawa suasana sebagaimana seorang anak menyerap dunia sepenuhnya melalui apa yang ia saksikan.

Menggapai Matahari merupakan film Indonesia yang dirilis pada 1986, disutradarai Nurhadie Irawan, dengan Rhoma Irama sebagai pemeran utama. Yati Octavia, Ikang Fawzi, Budi Moealam, Rani Soraya, Lina Budiarti, dan sejumlah pemain lain turut terlibat. Filmnya berdurasi sekitar 106 menit dan diproduksi oleh PT Firman Abadi Film.

Film ini sebenarnya jauh lebih rumit daripada yang dapat saya pahami ketika masih kecil. Ceritanya bermula dari sebuah kecelakaan. Rhoma dan Kartika mengalami musibah ketika kendaraan yang mereka tumpangi menabrak seorang perempuan hingga meninggal dunia. Peristiwa itu kemudian membawa Rhoma ke dalam persoalan hukum dan pada akhirnya mempertemukannya dengan konflik yang lebih besar dengan pihak yang memiliki hubungan dengan korban.

Di dalam cerita itu, musik bukan sekadar hiburan. Musik menjadi identitas, ruang pertarungan, sekaligus cara para tokohnya menyatakan siapa mereka. Konflik antara kelompok Rhoma dan kelompok Benny Compo menggambarkan pertentangan antara musik dangdut dan rock yang pada masa itu memang memiliki sejarah persaingan dan fanatisme pendukungnya masing-masing. Sejumlah media mencatat bahwa pertentangan rock dan dangdut memang telah lama muncul dalam kebudayaan populer Indonesia dan kemudian direpresentasikan yang salah satunya melalui film-film Rhoma.

Saya tentu belum memahami semua itu ketika pertama kali menontonnya. Bagi saya waktu itu, film hanyalah gambar bergerak yang memiliki kekuatan untuk membuat seorang anak lupa dan tak terasa bahwa malam semakin larut. Tetapi sekarang, ketika menontonnya kembali sebagai orang dewasa, saya melihat lapisan lain yang dahulu tidak saya mengerti. Misalnya adanya persoalan tentang persahabatan, cinta, kesetiaan, dendam, popularitas, pilihan hidup, bahkan pertarungan kebudayaan yang diselipkan ke dalam cerita.

Itulah barangkali daya sihir sejati dari sebuah film klasik. Karya seluloid itu tidak pernah berubah sejengkal pun dari format aslinya, namun mampu menjelma menjadi entitas yang sama sekali baru seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia penonton yang menyaksikannya. Adegan-adegan yang pada masa kecil dulu hanya menghadirkan debar ketegangan dan rasa takut yang polos, bisa bertransformasi menjadi ruang-ruang kontemplasi yang memancing perenungan mendalam tentang hidup. Sementara itu, dialog-dialog yang puluhan tahun lalu hanya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas, kini terasa begitu bernas berubah wujud menjadi potret sosio-historis yang merekam denyut nadi sebuah zaman yang telah lampau.

Menuliskan kembali kenangan ini pada dasarnya mungkin sebagai upaya batin untuk merawat kembali serpihan masa kecil dan menyelami segala peristiwa yang pernah singgah dalam hidup saya. Sekalipun kadang terselip rasa malu atau bahkan tampak berlebihan untuk diungkit misalnya beebucara kenangan tentang masa-masa berjalan bersama sang kakak ke sebuah tempat. Itu adalah sebuah momen kebersamaan yang begitu istimewa di antara dua saudara dalam sebuah ikatan keluarga, sebuah simpul kasih yang takkan pernah lekang oleh waktu, betapapun langkah kaki terus membawa kami beranjak dewasa hingga menua.

Sebab, selalu ada kenangan yang di mata orang lain mungkin tampak sepele atau biasa saja, namun bertransformasi menjadi harta yang tak ternilai harganya bagi seseorang, karena memori tersebut hanya ia miliki seorang diri. Menyaksikan kembali sebuah momentum ketika saya dan kakak duduk berdampingan dalam satu ruang yang sama, pernah sama-sama terhipnotis oleh sebuah tayangan film yang pada masa itu barangkali belum sepenuhnya sanggup saya cerna jalan pikirannya. Saya hanya tahu bahwa layar putih di hadapan kami tampak begitu megah dan raksasa, sementara alunan musik dan dialog-dialognya mengalir begitu kuat, menyeret kami berdua melintasi batas realitas menuju dunia asing yang sama sekali berbeda dari rutinitas harian kami.

Kenangan itu bahkan masih melekat begitu kuat di kepala saya, menyisakan sebuah ingatan yang kini terasa begitu menggelikan sekaligus memalukan jika dikenang kembali. Di tengah keasyikan menonton malam itu, saking tegang dan larutnya saya dalam suasana cerita, saya benar-benar tidak kuasa menahan diri hingga akhirnya mengompol di celana.

Peristiwa remeh-temeh seperti itu tentu saja tidak akan pernah dilirik atau masuk ke dalam lembaran sejarah perfilman nasional. Kejadian tersebut tidak bakal tercatat dalam arsip sinema manapun, tidak pula menghiasi katalog festival, ensiklopedia perfilman, atau ulasan tajam para kritikus seni. Namun dari detail-detail kecil yang teramat personal itulah film "Menggapai Matahari" dapat bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tontonan populer keluaran tahun 1986. Betapapun sebuah karya seluloid memiliki sejarah resmi dan linimasanya sendiri, pada akhirnya setiap penonton selalu merajut dan membawa sejarah batinnya masing-masing.

Bagi sebagian orang, Menggapai Matahari mungkin dikenang sebagai salah satu film musikal Rhoma Irama. Bagi orang lain lagi mungkin sebagai bagian dari sejarah pertarungan popularitas musik dangdut dan rock pada era 1980-an. Namun bagi saya, film itu adalah pintu kecil yang membuka kembali sebuah rumah, seorang ayah, seorang kakak, sebuah malam, dan seorang anak yang belum memahami betapa cepat masa kanak-kanak berlalu.

Menonton lanjutannya dalam judul Menggapai Matahari II, konflik musik itu bahkan berkembang menjadi pertentangan yang lebih terbuka. Setelah Rhoma keluar dari penjara, konflik dengan kelompok Benny Compo menjalar menjadi pertarungan dua aliran musik. Mereka berhadapan di atas panggung, sementara berbagai upaya dilakukan untuk menghancurkan Rhoma dan Soneta. Film ini menempatkan musik sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertunjukan, menjadi jalan bagi tokoh Rhoma untuk melawan kebejatan moral tanpa membalas kekerasan dengan kekerasan.

Ada satu adegan yang masih membekas dalam ingatan saya. Saat adegan Rhoma yang menyanyi di panggung yang dikepuli asap. Saya juga masih mengingat Rhoma yang diracun hingga suaranya menjadi serak dan tidak lagi seperti biasanya. Ketika kecil, adegan itu terasa mengerikan. Seolah-olah suara seorang penyanyi bisa dirampas begitu saja, dan dengan hilangnya suara itu, hilang pula sesuatu yang sangat penting dari dirinya.

Sekarang saya melihat adegan tersebut dengan cara berbeda. Suara dalam film tidak hanya sebagai suara seorang penyanyi. Bisa dibaca sebagai simbol keberadaan, keyakinan, dan bentuk perlawanan. Ketika suara Rhoma dibuat tidak berdaya, yang sebenarnya sedang diserang bukan sekadar tubuh seorang penyanyi, melainkan sesuatu yang menjadi identitasnya.

Karena itu, tidak mengherankan jika film-film Rhoma pada masa itu menjadikan musik sebagai bagian penting dari narasi. Rhoma bukan hanya bermain sebagai aktor, tetapi juga menjadi penata musik dan figur utama yang membawa identitas dangdut ke dalam layar lebar. Seperti disebut dalam sejumlah kajian dan tulisan mengenai perjalanan kariernya, Rhoma memang ditempatkan sebagai salah satu tokoh yang ikut membangun posisi dangdut dalam kebudayaan populer Indonesia.

Setelah ia mendirikan Soneta Group pada 1970, kemudian memperkenalkan semboyan 'Voice of Moslem" pada 1973. Musiknya tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi berkali-kali bersentuhan dengan persoalan sosial, agama, moral, bahkan politik. Karena itulah, film-filmnya pun sering membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar kisah cinta dan pertarungan antartokoh.

Dari jarak puluhan tahun, saya akhirnya menyadari bahwa Menggapai Matahari juga merupakan dokumen kebudayaan. Ia merekam sebagian suasana Indonesia pada zamannya ketika musik dangdut sedang mencari dan mempertahankan tempatnya, ketika rock memiliki daya tarik kuat di kalangan anak muda, atau ketika film musikal menjadi salah satu medium penting untuk mempertemukan musik, cerita, dan bintang populer.

Pertentangan antara dangdut dan rock yang dahulu mungkin terlihat sebagai konflik sederhana dalam film ternyata mempunyai akar sosial dan budaya yang lebih panjang. Persaingan itu memperlihatkan bagaimana selera musik dapat membentuk identitas kelompok, bahkan menciptakan batas antara "kami" dan "mereka". 

Tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk meredam dan menyelesaikan banyak pertentangan. Hari ini, batas antara genre musik jauh lebih cair. Dangdut dapat bertemu pop, rock, elektronik, hip-hop, dan bahkan berbagai bentuk musik global sebagai sebuah rangkaian kolaborasi. Generasi baru tidak selalu memandang genre sebagai pagar yang harus dipertahankan yang akhirnya membawa musik terus bergerak, berubah, dan beradaptasi mengikuti pendengarnya.

Karena itu, menonton kembali Menggapai Matahari di masa dewasa bukan semata-mata melihat sebuah film lama. Ia seperti membuka album foto kebudayaan Indonesia pada suatu masa. Setiap film lama memang memiliki dua cerita, antara cerita pertama sebagai cerita yang dibuat oleh pembuat film, dan cerita kedua sebagai cerita yang diciptakan oleh penontonnya sendiri.

Cerita kedua itulah yang tidak pernah selesai. Sebuah film dapat berakhir diputar di gedung pertunjukan. Tetapi pengalaman penonton terhadap film itu dapat hidup jauh lebih lama, karena dapat tersimpan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, yang tiba-tiba bisa muncul kembali ketika sebuah adegan, suara, lagu, atau wajah yang mengingatkan pada masa-masa yang pernah dilalui.

Itulah yang terjadi kepada saya ketika kembali menonton Menggapai Matahari. Saya tidak hanya sedang menonton Rhoma Irama. Saya sedang menonton diri saya sendiri yang pernah menjadi seorang anak. Anak yang mengikuti ayahnya, duduk bersama kakaknya, untuk menyaksikan sebuah film tanpa mengetahui bahwa bertahun-tahun kemudian film itu akan menjadi pintu untuk mengingat kembali keluarga dan masa kecilnya.

Barangkali inilah alasan mengapa kita tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalu. Kita hanya tumbuh menjauh darinya. Kemudian, suatu hari saat sebuah lagu terdengar, atau sebuah film kembali diputar, atau sebuah nama disebut, dan tiba-tiba jarak puluhan tahun itu runtuh begitu saja.

Kita kembali menjadi anak-anak, kembali ke rumah, kembali kepada orang-orang yang pernah menyayangi kita, kembali kepada hal-hal sederhana yang dahulu tidak kita sadari nilainya. Maka bagi saya, Menggapai Matahari bukan lagi sekadar film tahun 1986, melainkan juga semacam arsip pribadi yang mendokumentasikan sosok ayah dan kakak dalam keluarga, atau bisa meraba-raba kembali bagaimana dahulu muncul ketakutan, kegembiraan, dan kepolosan masa kanak-kanak.

Meskipun ingatan saya tentang detail dialog maupun keseluruhan alur ceritanya telah banyak memudar, jejak rasa yang ditinggalkannya masih tertinggal dengan begitu utuh. Barangkali memang begitulah cara kerja kenangan yang tidak pernah merekam apa yang dianggap penting oleh dunia luar, melainkan dengan setia menyimpan apa yang paling dalam maknanya bagi diri kita sendiri.

Judul "Menggapai Matahari" pada akhirnya dan sebenarnya bukan lagi tentang ambisi untuk meraih sesuatu yang teramat jauh di angkasa. Ia menjelma sebagai metafora tentang perjalanan batin manusia untuk menyadari kehadiran hal-hal berharga yang selama ini sudah berada tepat di dekatnya dalam kehangatan pelukan keluarga, dekapan kasih sayang, atau ingatan tentang masa kecil yang takkan pernah bisa terulang kembali. Kita mungkin tumbuh dengan teriakan ambisius untuk mengejar masa depan, tetapi ironisnya, kita baru benar-benar memahami nilai tertinggi dari masa lalu adalah ketika waktu telah mengubahnya menjadi kenangan.

Dan ketika akhirnya langkah kaki memaksa kita menoleh ke belakang untuk merenungi lorong waktu yang telah ditempuh, kita perlahan-lahan disadarkan oleh sebuah kebenaran yang getir sekaligus mengharukan bahwa hal paling berharga di dunia ini tidak selalu tentang apa yang berhasil kita raih dan miliki hari ini. Seringkali, harta yang paling mahal adalah hal-hal sederhana yang pernah kita rengkuh di masa lampau, yang kini telah pergi dan mustahil untuk diulang kembali dengan cara yang sama. Betapa mahalnya sisa-sisa kenangan tentang sebuah malam penuh kehangatan bersama keluarga, secarik tiket robek pemberian ayah, sosok kakak yang menggandeng tangan, atau seorang anak kecil lugu yang tertawa lepas dan ketakutan hingga tanpa sadar mengompol di celana karena begitu hanyut dalam ketegangan layar lebar.

Semua mozaik sederhana itu berpuncak pada sebuah film berjudul "Menggapai Matahari" yang tanpa pernah saya duga atau sadari semasa kecil dulu ternyata telah diam-diam merekam dan mengabadikan salah satu fragmen paling jujur dalam perjalanan tumbuh kembang hidup saya. Lalu ketika saya kembali memutar dan menontonnya, saya tidak lagi menyaksikannya sekadar dengan mata kepala yang haus akan hiburan, melainkan dengan seluruh arsip ingatan dan ketulusan batin. Dari sanalah saya akhirnya belajar sebuah kebijaksanaan bahwa ada matahari-matahari tertentu dalam hidup ini yang memang tidak perlu lagi kita kejar atau kita gapai dengan susah payah.

Sebab, jauh sebelum kita dewasa dan merasa kehilangan arah di tengah gelapnya dunia, cahaya hangat dari matahari itu sesungguhnya sudah pernah terbit dan menerangi hari-hari kecil kita dengan sempurna. Kita saja yang seringkali terlalu sibuk melangkah, hingga kerap terlambat menyadari bahwa ia telah lama tinggal di dalam diri kita sebagai rumah. (Sal)

Perspektif

Scroll