Drishyam 2: Mengapa Film Ini Menjadi Salah Satu Thriller Terbaik India

Film Drishyam 2 merupakan salah satu sekuel thriller kriminal terbaik dari perfilman India dalam...

Drishyam 2: Mengapa Film Ini Menjadi Salah Satu Thriller Terbaik India

02 Agu 2026
3936 x Dilihat
Share :

Drishyam 2: Mengapa Film Ini Menjadi Salah Satu Thriller Terbaik India

Film Drishyam 2 merupakan salah satu sekuel thriller kriminal terbaik dari perfilman India dalam satu dekade terakhir. Bukan hanya karena alur ceritanya yang cerdas dan penuh kejutan, tetapi juga karena kemampuannya mengajak penonton merenungkan batas antara benar dan salah, hukum dan keadilan, serta cinta dan pengorbanan.

Bagi saya, versi Bollywood memang terasa kurang memberikan kejutan dibandingkan versi aslinya dalam bahasa Malayalam. Kemungkinan besar karena saya telah lebih dahulu menonton film aslinya sehingga berbagai plot twist yang menjadi kekuatan utama cerita sudah tidak lagi menghadirkan efek keterkejutan yang sama. Namun terlepas dari perbedaan pengalaman menonton tersebut, keduanya tetap menyampaikan pesan yang identik tentang keluarga adalah alasan paling kuat yang mampu mengubah seseorang menjadi sosok yang sanggup melakukan apa pun demi melindungi orang-orang yang dicintainya.

Ada satu kalimat dalam film yang terus membekas di ingatan saya. “Setiap manusia memiliki tiga macam dunia. Pertama, dunia yang ada dalam dirinya. Kedua, dunia fisik tempat ia hidup. Ketiga, dunia yang ia ciptakan sendiri. Bagiku, keluargaku adalah duniaku. Aku akan melakukan apa pun demi mereka.”

Kalimat sederhana itu sesungguhnya menjadi inti dari keseluruhan kisah Drishyam. Dunia yang diciptakan tokoh utama bukanlah sebuah tempat, melainkan keluarganya sendiri. Ketika dunia itu terancam hancur, segala cara dianggap layak dilakukan untuk mempertahankannya. Mungkin sebagian orang akan menyebutnya egois atau mementingkan diri sendiri. Namun bagi seorang ayah, keluarga menjadi batas terakhir yang tidak boleh disentuh siapa pun.

Dalam versi asli Malayalam, tokoh utamanya bernama Georgekutty, seorang pria sederhana yang kecintaannya terhadap film perlahan mengubah hidupnya. Bertahun-tahun setelah peristiwa pada film pertama, ia berhasil menjadi pemilik bioskop sekaligus produser film. Kesuksesan itu bukan sekadar simbol keberhasilan ekonomi, melainkan bagian dari strategi panjang untuk membangun kehidupan baru sekaligus menutupi jejak masa lalu yang terus menghantuinya.

Sementara itu, dalam adaptasi Hindi atau Bollywood, nama tokoh utama berubah menjadi Vijay Salgaonkar yang diperankan oleh Ajay Devgn. Secara garis besar, alur cerita tetap mengikuti versi Malayalam dengan sejumlah penyesuaian karakter dan nuansa agar lebih sesuai dengan selera penonton Bollywood. Meskipun demikian, konflik utama masih tetap tentang seorang ayah yang harus kembali menghadapi penyelidikan atas kasus pembunuhan yang selama bertahun-tahun berhasil ia sembunyikan demi menyelamatkan keluarganya.

Latar cerita berlangsung tujuh tahun setelah kejadian pada film pertama. Polisi menemukan petunjuk baru, menghadirkan saksi baru, dan memanfaatkan perkembangan ilmu forensik untuk membuka kembali kasus yang selama ini dianggap telah selesai. Di sinilah kecerdasan Georgekutty (atau Vijay dalam versi Hindi) kembali diuji dan harus memutar otaknya kembali. Ia bukan seorang polisi, pengacara, ataupun ilmuwan forensik. Ia hanyalah seorang pria biasa yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca situasi, memahami psikologi manusia, dan menyusun langkah beberapa tahap lebih maju dibandingkan lawan-lawannya.

Menariknya, seluruh strategi itu tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia membeli tanah, membangun relasi dengan berbagai pihak, membantu kehidupan keluarga penggali kubur hingga anaknya dapat mengenyam pendidikan dan bekerja sebagai perawat di luar negeri, serta menjalin hubungan baik dengan sejumlah petugas laboratorium. Semua itu bukan semata-mata karena kemurahan hati, melainkan bagian dari perencanaan jangka panjang yang sangat matang. Film ini memperlihatkan bahwa sebuah kebohongan besar tidak cukup diselamatkan oleh kecerdasan sesaat, tapi memerlukan kesabaran, sumber daya, jaringan sosial, bahkan pengorbanan finansial yang tidak sedikit.

Di sinilah Drishyam 2 tampil berbeda dari kebanyakan film thriller. Ketegangan bukan hanya dibangun melalui aksi kejar-kejaran atau kekerasan fisik, melainkan melalui permainan logika, detail kecil yang saling berkaitan, dan duel intelektual antara seorang warga biasa dengan aparat penegak hukum. Penonton diajak terus bertanya apakah yang sedang dilakukan Georgekutty merupakan kejahatan, atau justru bentuk cinta seorang ayah yang rela menanggung dosa demi menyelamatkan masa depan keluarganya?

Film ini juga mengangkat pertanyaan moral yang tidak memiliki jawaban sederhana. Hukum menghendaki kebenaran terungkap, sedangkan seorang ayah menghendaki keluarganya tetap utuh. Dalam kenyataan, dua kepentingan itu tidak selalu berjalan beriringan. Di situlah Drishyam 2 memperoleh kekuatannya sebagai sebuah drama psikologis sekaligus thriller kriminal. Ia tidak memaksa penonton memilih siapa yang benar, melainkan mengajak kita memahami mengapa setiap tokoh bertindak sesuai keyakinannya masing-masing.

Kesuksesan Drishyam 2 pun tidak hanya tercermin dari apresiasi penonton, tetapi juga dari sambutan kritikus. Film ini dipuji karena skenario yang rapat, penyutradaraan yang efektif, serta kemampuan menjaga ketegangan hingga akhir. Baik versi Malayalam maupun versi Hindi memperoleh respons positif dan menjadi salah satu contoh adaptasi yang tetap mampu mempertahankan kualitas cerita aslinya.

Drishyam 2 bukan sekadar kisah tentang pembunuhan yang ditutup-tutupi atau permainan akal antara pelaku dan polisi. Film ini adalah refleksi tentang naluri manusia yang paling dasar, keinginan untuk melindungi keluarga dengan segala konsekuensinya. Ini mengingatkan kita bahwa cinta, ketika dipertemukan dengan rasa takut kehilangan dapat melahirkan keberanian sekaligus dilema moral yang sulit dihakimi hanya dengan hitam dan putih.

Mungkin itulah sebabnya Drishyam 2 tetap dikenang sebagai salah satu thriller terbaik India. Bukan karena ia menawarkan misteri yang rumit semata, melainkan karena di balik setiap teka-teki yang berhasil dipecahkan, selalu ada pertanyaan yang lebih besar tentang sejauh mana seseorang bersedia melampaui batas demi mempertahankan dunia yang paling ia cintainya?

Keberhasilan Drishyam 2 mungkin tidak dapat dilepaskan dari sosok Ajay Devgn. Selama lebih dari tiga dekade berkarier di industri perfilman India, ia dikenal sebagai aktor yang mampu melintasi berbagai genre tanpa kehilangan daya tariknya di mata penonton. Mulai dari film aksi, komedi, drama sejarah, hingga thriller psikologis, Ajay Devgn terus menunjukkan bahwa kekuatan seorang aktor tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi juga oleh kemampuannya beradaptasi dengan karakter dan tuntutan cerita.

Dalam Drishyam 2, Ajay Devgn tidak mengandalkan adegan laga ataupun dialog yang berlebihan. Tapi melalui ekspresi yang tenang, tatapan yang penuh perhitungan, dan permainan emosi yang terkendali, ia berhasil menggambarkan Vijay Salgaonkar sebagai sosok ayah yang hidup dalam tekanan psikologis selama bertahun-tahun. Ketakutan, rasa bersalah, kecemasan, sekaligus tekad untuk melindungi keluarga berpadu menjadi karakter yang terasa sangat manusiawi. Inilah salah satu alasan mengapa adaptasi versi Hindi tetap mendapat sambutan hangat, meskipun harus hidup di bawah bayang-bayang versi asli berbahasa Malayalam yang dibintangi Mohanlal.

Kesuksesan film ini juga menjadi bukti bahwa penonton India semakin menghargai cerita yang kuat dibanding sekadar kemewahan produksi. Drishyam 2 memperlihatkan bahwa sebuah film thriller dapat memikat jutaan penonton tanpa harus dipenuhi ledakan, aksi spektakuler, ataupun efek visual berlebihan. Yang menjadi pusat perhatian adalah kekuatan skenario, kecermatan menyusun detail cerita, dan kemampuan membangun ketegangan secara perlahan hingga mencapai klimaks.

Setelah keberhasilan Drishyam 2, perhatian publik kembali tertuju pada perjalanan karier Ajay Devgn melalui film-film berikutnya. Salah satunya adalah Dhamaal 4, film komedi terbaru dalam waralaba Dhamaal. Pada akhir pekan pembuka penayangannya, film ini berhasil mencatatkan pendapatan sekitar 64,35 crore, sedikit melampaui capaian pembukaan Drishyam 2 yang berada di kisaran 64,14 crore. Capaian tersebut menempatkan Dhamaal 4 sebagai salah satu film dengan pembukaan akhir pekan terbesar dalam perjalanan karier Ajay Devgn.

Meski demikian, angka box office tidak selalu menjadi ukuran mutlak kualitas sebuah film. Drishyam 2 dan Dhamaal 4 justru menunjukkan bahwa Ajay Devgn mampu mempertahankan popularitasnya melalui pendekatan yang sangat berbeda. Jika Dhamaal 4 mengandalkan komedi ringan dan hiburan keluarga, maka Drishyam 2 menawarkan ketegangan psikologis yang menuntut perhatian penuh dari penontonnya. Keduanya berhasil karena memahami karakter audiens masing-masing.

Keberagaman genre inilah yang menjadikan Ajay Devgn tetap relevan di tengah persaingan industri Bollywood yang semakin ketat. Tidak banyak aktor yang mampu mempertahankan posisi sebagai bintang box office sekaligus memperoleh apresiasi atas kualitas aktingnya. Selain dikenal melalui waralaba Singham, ia juga sukses lewat film-film seperti Golmaal Again, Raid, Shaitaan, Tanhaji: The Unsung Warrior, hingga Drishyam. Rentang karya tersebut menunjukkan fleksibilitas yang jarang dimiliki oleh aktor lain.

Keberhasilan Drishyam 2 tidak hanya menjadi kemenangan bagi satu film atau satu aktor. Film ini menegaskan bahwa perfilman India terus berkembang dengan menghadirkan karya-karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menawarkan ruang refleksi mengenai keluarga, moralitas, dan kompleksitas pilihan hidup. Di tengah dominasi film-film berskala besar, Drishyam 2 membuktikan bahwa kekuatan sebuah cerita tetap menjadi fondasi utama yang mampu membuat sebuah karya bertahan dalam ingatan penontonnya.

Di balik kesuksesan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu pentingnya kualitas tim kreatif. Film Drishyam 2 disunting oleh Sandeep Francis, editor yang dikenal piawai menjaga ritme ketegangan sehingga setiap adegan terasa efektif dan penuh makna. Perannya dalam menyusun alur cerita menjadi salah satu faktor penting yang membuat film ini mampu mempertahankan rasa penasaran penonton hingga adegan terakhir. Tidak mengherankan jika kemudian Sandeep Francis dipercaya menangani sejumlah proyek besar lainnya, termasuk Shaitaan, Raid 2, dan Drishyam 3 yang tengah dipersiapkan.

Keberhasilan sebuah film thriller, perhatian penonton sering kali tertuju pada sutradara dan para pemerannya. Padahal ada satu peran yang tidak kalah penting dalam menentukan kualitas sebuah film, yaitu penyunting gambar atau editor. Dalam film-film yang mengandalkan misteri dan kejutan seperti Drishyam 2, ritme penceritaan menjadi kunci utama. Sebuah adegan yang dipotong terlalu cepat dapat menghilangkan ketegangan, sementara adegan yang terlalu panjang justru berpotensi mengurangi intensitas cerita. Di sinilah keahlian seorang editor menjadi penentu.

Salah satu nama yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah Sandeep Francis yang dikenal sebagai editor di balik sejumlah film Bollywood yang sukses secara komersial maupun mendapat apresiasi kritikus karena ketelitiannya dalam menyusun alur visual, menjaga tempo cerita, dan menempatkan momen-momen penting secara tepat, dan yang membuat karya-karyanya mudah dikenali oleh para penikmat film.

Menariknya, perjalanan Sandeep Francis tidak berhenti di ruang penyuntingan. Ia mulai melangkah sebagai sutradara melalui film pendek bergenre thriller psikologis berjudul Switch Off. Debut penyutradaraan ini menjadi tonggak penting dalam kariernya sekaligus menunjukkan bahwa seorang editor memiliki bekal kuat untuk membangun bahasa sinema yang efektif. Pengalamannya menyusun ribuan adegan dari berbagai film tampaknya menjadi modal berharga dalam merancang ketegangan dari balik kursi sutradara.

Switch Off mengangkat premis yang sederhana, tetapi memancing rasa ingin tahu. Kisahnya berpusat pada sebuah telepon genggam yang semula dianggap telah mati. Secara misterius, perangkat itu kembali menyala dan mulai merekam kenyataan yang dialami pemiliknya, bahkan memperlihatkan potongan-potongan peristiwa yang belum terjadi. Seiring berjalannya cerita, gambar-gambar yang muncul semakin mengarah pada tragedi yang tidak dapat dihindari. Sang tokoh utama pun terjebak dalam pusaran waktu, rasa takut, dan takdir yang seolah telah ditentukan.

Premis tersebut memperlihatkan kecenderungan sinema thriller modern yang tidak lagi bergantung pada kekerasan atau efek kejut semata, melainkan mengeksplorasi persoalan psikologi, teknologi, dan persepsi manusia terhadap realitas. Tema semacam ini juga menunjukkan bagaimana perfilman India semakin berani bereksperimen dengan gagasan-gagasan universal yang dapat diterima oleh penonton lintas budaya.

Pengakuan terhadap kualitas Switch Off datang dari salah satu festival film genre paling bergengsi di Asia, yaitu Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan. Film tersebut terpilih untuk berkompetisi dalam kategori Bucheon Choice: World Shorts, sekaligus menjadi satu-satunya film pendek asal India yang masuk dalam kompetisi utama pada edisi penyelenggaraan tahun tersebut. Pencapaian ini bukan sekadar kebanggaan bagi Sandeep Francis, melainkan juga menjadi penanda bahwa karya-karya sineas India semakin diperhitungkan di panggung perfilman internasional.

BIFAN sendiri dikenal sebagai festival yang memberikan ruang bagi film-film bergenre fantasi, horor, fiksi ilmiah, dan thriller dari berbagai negara. Banyak sutradara yang kemudian memperoleh perhatian dunia setelah karya mereka diputar di festival ini. Karena itu, kehadiran Switch Off dalam kompetisi utama memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar seleksi festival. Ia menjadi simbol bahwa kreativitas sineas India terus berkembang, tidak hanya dalam produksi film-film komersial berskala besar, tetapi juga dalam karya-karya yang lebih eksperimental dan artistik.

Keberhasilan tersebut juga mencerminkan perubahan wajah industri perfilman India. Selama bertahun-tahun, Bollywood sering diasosiasikan dengan film musikal, tarian, dan drama romantis. Kini, persepsi itu mulai bergeser. Film-film thriller, drama kriminal, horor psikologis, hingga karya independen semakin mendapat tempat, baik di dalam negeri maupun di berbagai festival internasional. Penonton global pun mulai melihat bahwa sinema India memiliki keragaman tema, gaya bertutur, dan kualitas teknis yang mampu bersaing di tingkat dunia.

Dalam konteks itulah, Drishyam 2 memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar kesuksesan sebuah film. Karya tersebut menunjukkan bahwa kualitas skenario, penyutradaraan, penyuntingan, dan akting dapat melahirkan ekosistem kreatif yang mendorong munculnya karya-karya baru. Kesuksesan para pelaku di balik layar, seperti Sandeep Francis, menjadi bukti bahwa industri perfilman tidak hanya dibangun oleh para bintang di depan kamera, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dengan ketelitian, kesabaran, dan visi artistik di balik layar.

Perjalanan dari Drishyam 2 menuju Switch Off memperlihatkan bahwa setiap karya besar selalu menjadi pijakan bagi lahirnya karya berikutnya. Ketika pengalaman, kreativitas, dan keberanian untuk bereksperimen dipertemukan, sinema tidak lagi sekadar menjadi hiburan, melainkan juga ruang untuk menghadirkan gagasan-gagasan baru yang mampu melampaui batas bahasa, budaya, dan negara. (Sal)

Perspektif

Scroll