Ulasan Pendek Film Drishyam dan Labirin Moralitas Perlindungan Keluarga

Mulanya sebuah keisengan lelaki remaja merekam sebagai video seorang siswi menengah sedang membuka...

Ulasan Pendek Film Drishyam dan Labirin Moralitas Perlindungan Keluarga

01 Agu 2026
531 x Dilihat
Share :

Ulasan Pendek Film Drishyam dan Labirin Moralitas Perlindungan Keluarga

Mulanya sebuah keisengan lelaki remaja merekam sebagai video seorang siswi menengah sedang membuka baju di toilet di saat perkemahan antar sekolah. Dan kemudian itu diberitahukan kepada sang korban, sambil mengancam kalau ia tidak memberi “sesuatu” di malam jam sebelas di belakang rumah, maka video itu akan diunggah dan tersebar di internet.

Fenomena pelanggaran privasi digital dan pemerasan berbasis ancaman siber (sextortion) semacam ini bukanlah fiksi semata. Dalam realitas sosiologis modern, kemajuan teknologi informasi telah berjalan lebih cepat ketimbang kesiapan etika penggunanya. Ruang-ruang privat yang semestinya steril dari intervensi asing kini menjadi komoditas yang rentan dieksploitasi oleh mereka yang memiliki kuasa atau keistimewaan sosial.

Namun tidak hanya itu pesan dari film produksi 2015 garapan Nishikant Kamat ini. Sebenarnya, selain tentang pentingnya “memelihara keluarga” seperti sinema hindi kebanyakan, seperti yang ditulis Anupama Chopra saat menulis buku biografi The King of Bollywood: Shah Rukh Khan, bahwa film ini seakan ingin menunjukkan pada kita bahwa “kebohongan yang diulang-ulang akan jadi sebuah kebenaran,” atau setidak-tidaknya “bohong yang dianggap yang benar” menurut versi hukum kepolisian.

Dalam lanskap penegakan hukum modern, kebenaran prosedural terkadang berbenturan dengan kebenaran substantif. Ketika institusi penegak hukum terjebak dalam pembuktian formalistik dan arogansi kekuasaan, realitas keadilan sering tereduksi menjadi sekadar administrasi hukuman. Di sinilah narasi sinematik bertransformasi menjadi kritik tajam terhadap bagaimana kekuasaan memperlakukan warga biasa yang terpinggirkan secara struktural.

Meski si terdakwa, dengan tingkat intelektualitas drop-out kelas empat SD, tapi ia punya beragam intrik, karena telah sungguh belajar dari berbagai film yang gemar ditontonnya. Sampai ia meledek istrinya, Nandhini yang sekolahan, “menyelesaikan sekolah tapi tak mengajarimu apa-apa”. Atau seperti tuturan Mendikbud Anies Baswedan kala itu, bahwa melalui film bisa jadi medium pendidikan terbaik. Dengan menonton bersama-sama dan mengupasnya sama-sama antara ayah, ibu, kakak dan adik serta anggota keluarga lainnya.

Film adalah sarana kontemplatif, sebuah pengalaman eksistensial, yang boleh jadi saat ditonton bareng-bareng, tapi akan berbeda-beda dalam meraih kesimpulan, karena sering berbeda sudut pandang. Film memperkaya khazanah dan inspirasi, yang membuat Vijay Salgaonkar, diperankan Ajay Devgan, yang dengan cerdik dalam menghilangkan jejak dan bukti untuk supaya keluarganya yang meliputi dirinya, istri, dan anaknya yang gadis remaja cantik yang tubuh telanjangnya pernah direkam itu tak masuk penjara.

Tapi kelakuan Sam, lelaki remaja yang iseng itu memang selalu dimanja, sehingga tidak mengerti apa itu “barang berharga” milik orang lain. Ibunya seorang inspektur polisi dan ayahnya pebisnis berhati halus memang selalu menyediakan apa yang dimaui anaknya. Maka untuk dapat memenuhi luapan (keisengan) hasratnya yang baru remaja itu, ingin pula dapat memenuhinya dengan beragam cara menyiasatinya.

Dibuatlah janji temu, maksudnya ancaman kepada Anju Salgaonkar. Seterusnya Anju dilanda gelisah bagaimana mengelak dari ajakan Sam. Kalau tak datang di jam sebelas malam, tamatlah reputasi harga dirinya. Tak mampu ia bayangkan tubuhnya yang “sakral” selalu terbaluti pakaian, tapi aksinya di toilet akan jadi suguhan semua mata kelayapan di sosial maya, akan jadi viral sampai pasti memalukan kehormatan keluarganya. Tapi beruntung Anju anak teladan masa kini ketika masalah apapun diberitahukan kepada ibunya.

Keisengan si lelaki remaja yang sudah dimohon untuk mengurungkan niatnya, terutama oleh ibunya Anju, sang ibu saat memohon dengan sangat itu, ibu dan anak yang mencoba berebut handphone dari Sam, lalu kemudian keduanya terjungkal, memberi kesempatan pada Anju menemukan batang besi yang dipukulkan pada tangan yang memegang handphone, tapi juga sekaligus memukul belakang bahunya Sam.

Sang pelaku pembuat video nahas nasibnya di tangan sang korban. Sam dipastikan mati dan segera dibungkus karung goni untuk dikubur secepatnya di dekat rumah, yang disaksikan Anu, gadis bungsu yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Ia melihat dengan seksama aksi ibu dan kakaknya sedang melakukan sesuatu dari jendela.

Saat malam kejadian, yang jadi kepala keluarga sedang tak ada di rumah. Di saat pagi sang ayah pulang ke rumah, melihat lantai masih belepotan tanah, bukan darah. Dikatakannya, boleh jadi Sam mati karena luka dalam. Semua anggota keluarga, terutama si anak gadis terus dilanda takut, sambil menangis pada ayahnya, yang ternyata ayah pungutnya, “Aku tak bermaksud membunuhnya, Ayah”. Rasa bersalah sebagai semacam ketakutan akut, yang harus dibuang, kata sang ayah. Karena ketakutan adalah bukti terakhir dalam penyelidikan pihak kepolisian untuk mengumpulkan bukti-bukti tuduhan.

Dibuatlah rekayasa cerita yang begitu pintar karena sang ayah belajar dari cerita-cerita film, agar semua anggota keluarga berjuang dalam dan untuk kebohongan. Film ini menyuguhkan sudut pandang manakah yang lebih amoral antara berusaha sekuat tenaga, meski segala macam cara untuk dan demi keutuhan keluarganya, atau aksi merekam video yang kalau diunggah di internet akan membawa malang dan kehancuran psikologis bagi si gadis.

Dilema etis ini membawa penonton pada perenungan filosofis yang mendalam mengenai moralitas situasional. Ketika negara melalui instrumen hukumnya gagal memberikan rasa aman dan perlindungan yang adil bagi korban kejahatan seksual, pertahanan mandiri keluarga menjadi benteng pertahanan terakhir yang sah, meski harus ditempuh melalui jalan yang abu-abu secara hukum.

Saat cerita sebenarnya diketahui ibunya Sam yang seorang inspektur polisi itu, menjadilah mengerti tentang bagaimana menjadi ayah bagi seorang gadis. Sesudah dengan cara kepolisian dengan menyiksa terdakwa, memukul-mukul sang ayah sampai babak belur, menampar-nampar sang ibu, menyambak rambut si anak gadis, sampai mencengkeram sekuat tenaga wajah si gadis masih bocah, sampai si bocah sangat-sangat ketakutan karena aksi tanpa perasaan polisi sangar Gaitonde, yang memang punya dendam pada ayah si gadis bocah.

Ayahnya Sam tak tega anak (bocah) disiksa. Ia harus diselamatkan dari aksi kekerasan, dan tak pantas anak dijadikan saksi. Ia membujuk istrinya supaya menghentikan aksi si polisi sangar terhadap si gadis bocah. Tapi itulah cara polisi yang dianut sang istri, untuk supaya “pengakuan tanpa bukti adalah bukti yang paling kuat”. Itu yang akan jadi bukti tuduhan.

Namun praktik kekerasan dalam interogasi kepolisian yang sering diangkat dalam sinema investigatif mencerminkan realitas pahit pelanggaran hak asasi manusia di ruang-ruang penyidikan. Dalam kriminologi modern, penyiksaan kerap kali melahirkan pengakuan palsu yang justru merusak integritas keadilan itu sendiri, menegaskan bahwa prosedur yang cacat hukum hanya akan melahirkan kebenaran yang semu.

Tapi satu keluarga bersikukuh “aku telah mengatakan sejujurnya” sampai Anu, si gadis bocah itu, yang karena ketakutan akhirnya buka mulut. Si bocah menunjukkan kuburan yang pernah dilihatnya. Kemudian saat adegan babak akhir ketika dibongkar sebuah kuburan, pihak kepolisian rupanya tak menemukan mayat Sam.

Di saat bebas dari tuduhan, setidaknya untuk bebas sementara, istrinya bertanya saat di rumah, “Kapan kau memindahkan mayatnya?” Sang ayah berkata, “Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Biarlah ini jadi rahasiaku sendiri sampai dibawa mati. Tak ada salah dan benar dalam hal ini,” jelasnya pada istri. 

Intinya film ini menyuguhkan soal sikap bagaimana seorang lelaki, seorang suami, seorang ayah dalam tatanan memelihara sebuah keluarga, apapun caranya. Di babak paling akhir, sang ayah menjelaskan kepada ibu-ayahnya Sam, “Aku juga meminta maaf. Kuharap aku sedermawan kalian. Tapi aku hanya tamatan kelas empat SD. Aku punya seorang istri, dua orang puteri, dan itulah dunia kecilku. Aku tak pernah berpikir lebih dari itu. Tapi suatu hari, duniaku melihat tamu tak diundang masuk. Dia ingin mengusik dunia kami. Kami berusaha menghentikannya. Kami memohon padanya. Tapi, dia tak mendengar. Lalu entah bagaimana sebuah tragedi terjadi.”

“Keluargaku adalah yang terpenting bagiku,” adalah poin utama yang disampaikan Vijay, sebagai pokok narasi film Drishyam. Kalimat penutup yang terucap dari bibir seorang kepala keluarga berlatar belakang pendidikan minim ini bukan sekadar bentuk pembelaan diri yang klise, melainkan sebuah pernyataan eksistensial yang merangkum seluruh bangunan moral, keringat, air mata, serta pertaruhan nurani yang telah ia tempuh.

Dalam semesta Drishyam, kalimat tersebut bertransformasi menjadi jangkar etis sekaligus titik balik yang membedah makna terdalam dari cinta familial. Bagi Vijay sebagai lelaki biasa yang hanya mengecap pendidikan hingga bangku kelas empat sekolah dasar, dunia tidaklah seluas bentangan geopolitik atau serumit teori hukum yang dipahami para penegak keadilan di ruang sidang. Dunianya sangat sederhana, namun sekaligus sakral: sebuah rumah kecil yang dinaungi atap kesederhanaan, diisi oleh seorang istri yang setia mendampingi, dan dua orang putri tercinta yang menjadi tumpuan hari-hari tua.

Ketika tatanan dunia kecil yang damai itu tiba-tiba diusik oleh kehadiran "tamu tak diundang" yang membawa ancaman kehancuran psikologis dan martabat kehormatan anak gadisnya, naluri paling dasar seorang manusia tergerak untuk melindungi. Vijay tidak sedang membela kejahatan, dan ia pun tidak sedang membenarkan pelanggaran hukum yang ia rekayasa sedemikian rupa melalui kecerdikan yang ia serap dari hobi menonton film. Sebaliknya, ia sedang berdiri di garis perbatasan paling akhir antara kewarasan dan keputusasaan, di mana ketika negara melalui instrumen hukumnya gagal memberikan rasa aman yang utuh, maka keluarga harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, ketika ia mengutarakan kalimat tersebut di hadapan orang tua korban yang notabene memiliki kekuasaan dan jabatan tinggi di kepolisian, tersimpan sebuah kejujuran yang menohok nurani. Ada permohonan maaf atas tragedi yang tak pernah ia kehendaki, namun di saat yang bersamaan, terselip pula keteguhan prinsip yang tak tergoyahkan. Kalimat itu menegaskan bahwa di tengah dunia yang kerap kali dingin, nir-empati, dan korup, benteng pertahanan terakhir bagi seorang manusia bukanlah undang-undang yang kaku atau kekuasaan yang sewenang-wenang, melainkan pelukan hangat dan perlindungan mutlak bagi orang-orang tercinta di dalam rumah.

Film yang bukan sekadar film cerita seru (thriller) tentang pelarian dari hukum, melainkan sebuah risalah moral tentang batas-batas kesabaran manusia, perlindungan terhadap martabat keluarga, dan kompleksitas nurani di tengah sistem sosial yang kerap kali timpang. Film ini meninggalkan kita pada sebuah refleksi abadi di dunia yang seringkali dingin dan nir-empati, cinta keluarga adalah benteng paling tangguh, sekaligus labirin paling sunyi tempat seseorang merajut keselamatan dengan pertaruhan jiwa dan raga. (Sal)

Perspektif

Scroll