Surat dari Praha: Menelusuri Jejak Eksil dan Memori Bangsa Indonesia

Sebuah film yang tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan...

Surat dari Praha: Menelusuri Jejak Eksil dan Memori Bangsa Indonesia

25 Jul 2026
551 x Dilihat
Share :

Surat dari Praha: Menelusuri Jejak Eksil dan Memori Bangsa Indonesia

Sebuah film yang tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan yang lama terkubur oleh sejarah. Film yang semacam ini mengajak kita sebagai penontonnya bukan sekadar menikmati alur ceritanya, melainkan juga hendak mempertanyakan kembali bagaimana sebuah bangsa mengingat masa lalunya. Di Indonesia, salah satu film yang mencoba menjalankan fungsi itu adalah Surat dari Praha.

Membicarakan film ini, barangkali terlintas sebuah ungkapan: "Tak selesai film Lastri, Surat dari Praha pun jadi." Sebelum Surat dari Praha diproduksi, publik memang telah lebih dahulu mendengar rencana Eros Djarot untuk menggarap Lastri. Sejak awal, film tersebut menuai kontroversi karena dianggap mengangkat isu yang sangat sensitif, yakni tragedi politik 1965 beserta berbagai dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat membuat proyek itu akhirnya tidak pernah benar-benar terwujud. 

Dalam situasi itulah kemudian hadir Surat dari Praha. Pertanyaan yang sempat muncul di kalangan penikmat film Indonesia adalah mengapa film yang sama-sama bersinggungan dengan sejarah 1965 justru dapat diselesaikan oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko. Tentu jawabannya tidak sesederhana persoalan keberanian atau kompromi politik. Yang membedakan keduanya justru terletak pada pendekatan naratif. Jika Lastri sejak awal dipersepsikan berbicara langsung mengenai tragedi politik 1965, maka Surat dari Praha memilih jalan yang lebih personal. Politik hadir bukan sebagai pusat cerita, melainkan sebagai bayangan yang membentuk kehidupan para tokohnya.

Film ini menghadirkan tokoh Sulastri Kusumaningrum (Lastri) yang dipertemukan dengan kisah hidup Mahdi Jayasri, seorang eksil Indonesia yang telah puluhan tahun menetap di Praha. Di tengah perjalanan mereka, hadir pula Kemala Dahayu Larasati, yang menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kemudian. Hubungan ketiganya berkembang menjadi kisah tentang cinta, penyesalan, kehilangan, dan kerinduan yang dipisahkan oleh ruang, waktu, sekaligus perubahan rezim politik.

Pada lapisan pertama, Surat dari Praha memang tampak sebagai drama romantis. Namun semakin dalam kisahnya berjalan, penonton menyadari bahwa yang sesungguhnya sedang dibicarakan bukan hanya hubungan antarmanusia, melainkan hubungan antara manusia dengan sejarahnya sendiri. Sejarah, dalam film ini, bukan sekadar latar peristiwa, melainkan tokoh yang diam-diam menentukan nasib setiap orang.

Di sinilah kekuatan utama film ini. Politik tidak tampil melalui pidato-pidato panjang ataupun adegan kekerasan yang eksplisit, melainkan melalui sunyi yang dipikul oleh mereka yang hidup dalam pengasingan. Ada kerinduan yang tidak pernah selesai kepada tanah air, kepada keluarga, bahkan kepada bahasa yang telah lama tidak lagi digunakan setiap hari.

Judul film ini tentu mengundang pertanyaan: mengapa Praha? Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Praha lebih dikenal sebagai ibu kota Republik Ceko dengan kekayaan arsitektur dan sejarah Eropa Tengah. Namun dalam sejarah hubungan Indonesia dengan dunia internasional, kota ini memiliki makna yang jauh lebih penting.

Kita mengetahui sejak akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an, Presiden Soekarno pernah menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif namun menjalin hubungan erat dengan negara-negara Blok Timur. Kemudian itu membawa ratusan mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa untuk belajar di berbagai negara sosialis, termasuk Cekoslowakia, Uni Soviet, Polandia, Jerman Timur, Bulgaria, Hungaria, dan Yugoslavia. Praha menjadi salah satu kota tujuan utama karena memiliki sejumlah universitas teknik, seni, kedokteran, dan ilmu sosial yang cukup maju pada zamannya. Banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di sana dalam kerangka kerja sama pendidikan antarnegara.

Namun kemudian perubahan politik tanah air yang terjadi setelah 1965 mengubah seluruh kehidupan mereka. Setelah Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan secara bertahap dari Presiden Soekarno, pemerintah Indonesia melakukan penyaringan terhadap warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. Sebagian mahasiswa, diplomat, seniman, wartawan, dan pegawai pemerintah yang dianggap memiliki kedekatan dengan organisasi kiri atau dinilai tidak mendukung pemerintahan mengalami pencabutan paspor, tidak dapat memperpanjang dokumen kewarganegaraan, atau kehilangan kesempatan untuk kembali ke Indonesia. 

Banyak di antara mereka kemudian hidup sebagai eksil selama puluhan tahun. Fakta sejarah ini telah banyak didokumentasikan oleh penelitian akademik serta arsip lembaga seperti International Institute of Social History (IISH) di Belanda dan berbagai kajian mengenai diaspora politik Indonesia.

Mahdi Jayasri dalam Surat dari Praha merupakan representasi fiksi dari kelompok eksil tersebut. Tokoh ini bukan gambaran satu orang tertentu, melainkan cermin dari pengalaman banyak warga Indonesia yang terjebak oleh perubahan politik yang terjadi begitu cepat di tanah air.

Sejarah memang sering ditulis dalam bahasa statistik. Cukup mencatatkan berapa banyak korban, berapa banyak tahanan politik, dan berapa banyak orang yang diasingkan. Namun angka-angka itu hampir tidak selalu mampu menggambarkan bagaimana rasanya kehilangan rumah tanpa pernah berpindah tempat. Itulah yang dialami banyak eksil Indonesia. Mereka berangkat sebagai mahasiswa yang memperoleh kesempatan belajar ke luar negeri. Sebagian besar tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan akademik itu akan berubah menjadi pengasingan seumur hidup. 

Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyelesaikan pendidikan, bekerja, membangun keluarga, bahkan menjadi warga negara di negeri baru. Akan tetapi, di dalam batin mereka tetap tersimpan pertanyaan apakah seseorang masih dapat disebut memiliki tanah air apabila tanah airnya sendiri menolak kehadirannya?

Pertanyaan semacam inilah yang secara perlahan dibangun oleh Surat dari Praha. Film tersebut tidak berusaha menyelesaikan perdebatan politik mengenai 1965, melainkan mengajak penonton melihat sisi yang sering terlupakan, yakni kehidupan sehari-hari mereka yang harus membayar mahal akibat perubahan rezim.

Ada adegan-adegan sederhana yang meninggalkan kesan mendalam tentang kerinduan kepada makanan Indonesia, kepada bahasa ibu, kepada keluarga yang tidak sempat ditemui lagi, bahkan kepada makam orang tua yang tidak pernah dapat diziarahi. Semua itu memperlihatkan bahwa pengasingan bukan hanya persoalan geografis, melainkan juga kehilangan ruang emosional.

Dalam salah satu bagian yang paling menyentuh, tokoh Mahdi digambarkan hanya menerima kabar singkat mengenai kematian kedua orang tuanya. Pesan yang datang tidak panjang, hanya beberapa kata: "Ibu meninggal." Lalu di waktu lain: “Ayah meninggal.”

Kalimat yang sangat sederhana itu menyimpan luka yang hampir mustahil diukur. Tidak ada kesempatan untuk berpamitan, tidak ada pemakaman yang dapat dihadiri, bahkan tidak ada pelukan terakhir kepada keluarga. Politik telah memotong hubungan paling mendasar antara seorang anak dan orang tuanya.

Berbeda dengan buku sejarah yang cenderung menyajikan kronologi peristiwa, film memiliki kemampuan menghadirkan dimensi emosional yang tidak tercatat dalam arsip negara. Penonton tidak hanya mengetahui bahwa pernah ada eksil Indonesia, tetapi juga dapat merasakan bagaimana sunyinya hidup dalam pengasingan.

Karena itulah Surat dari Praha menjadi penting dalam perkembangan sinema Indonesia. Film ini tidak menawarkan jawaban tunggal mengenai sejarah 1965. Sebaliknya, ia mengajak penonton untuk membuka ruang dialog mengenai masa lalu yang selama puluhan tahun dipenuhi trauma, perdebatan, dan berbagai versi narasi.

Pilihan Angga Dwimas Sasongko untuk membingkai tema besar tersebut melalui kisah cinta membuat persoalan sejarah terasa lebih dekat dengan pengalaman manusia. Politik tidak lagi menjadi sekadar pertarungan ideologi, melainkan hadir sebagai kekuatan yang mampu menentukan nasib keluarga, persahabatan, dan masa depan seseorang.

Surat dari Praha tidak hanya menjadi film tentang masa lalu, melainkan sebagai cermin yang mengingatkan bahwa setiap kebijakan politik pada akhirnya selalu bermuara pada kehidupan manusia biasa. Dan seringkali, merekalah yang harus memikul beban sejarah paling lama.

Perang Dingin dan Jalan Panjang Menjadi Seorang Eksil Indonesia 

Memahami Surat dari Praha tidak cukup hanya dengan mengikuti kisah cinta para tokohnya. Film ini memperoleh kedalaman maknanya karena bertumpu pada sebuah bab sejarah Indonesia yang panjang dan rumit. Pengasingan yang dialami Mahdi Jayasri bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari dinamika politik nasional dan internasional pada masa Perang Dingin, ketika dunia terbelah ke dalam dua blok besar antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.

Dalam konteks itulah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, berusaha menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif. Meski tidak secara resmi memihak salah satu blok, hubungan Indonesia dengan negara-negara sosialis berkembang cukup erat, terutama pada akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Kerja sama itu meliputi bidang ekonomi, militer, kebudayaan, hingga pendidikan.

Ratusan bahkan ribuan mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan belajar di berbagai negara Eropa Timur. Mereka tersebar di Moskwa, Leningrad, Praha, Berlin Timur, Warsawa, Budapest, Sofia, dan Beograd. Sebagian besar berasal dari berbagai latar belakang politik, agama, maupun daerah. Ada yang belajar teknik, kedokteran, sastra, seni, ekonomi, hingga ilmu-ilmu sosial. Mereka berangkat dengan harapan untuk menimba ilmu, lalu pulang untuk membangun Indonesia yang baru merdeka. Tidak seorang pun membayangkan bahwa perjalanan akademik itu kelak berubah menjadi pengasingan yang berlangsung puluhan tahun.

Pergantian kekuasaan setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 menjadi titik balik yang menentukan nasib banyak warga negara Indonesia di luar negeri. Pemerintahan Orde Baru melakukan perubahan besar dalam orientasi politik luar negeri sekaligus menjalankan kebijakan antikomunisme yang sangat ketat. Dalam proses tersebut, sebagian mahasiswa, diplomat, seniman, wartawan, serta pegawai negara yang berada di luar negeri tidak lagi dapat memperpanjang paspor mereka. Ada yang dicabut kewarganegaraannya, ada yang dinyatakan tidak dapat kembali ke Indonesia, dan ada pula yang memilih tetap tinggal karena khawatir akan mengalami penahanan apabila pulang.

Mereka kemudian dikenal sebagai eksil Indonesia. Istilah "eksil" sendiri berbeda dengan imigran biasa. Mereka bukan meninggalkan tanah air karena ingin mencari kehidupan baru, melainkan karena perubahan politik membuat mereka kehilangan kesempatan untuk kembali. Banyak di antara mereka tidak pernah menjalani proses pengadilan ataupun memperoleh putusan hukum yang menyatakan mereka bersalah atas suatu tindak pidana. Mereka menjadi korban dari situasi politik yang berubah sangat cepat.

Pengalaman setiap eksil tentu berbeda-beda. Tidak semua memiliki latar belakang politik yang sama, dan tidak semuanya terhubung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena itu, melihat mereka sebagai satu kelompok yang seragam justru menyederhanakan kenyataan sejarah yang jauh lebih kompleks.

Jika mencermati tulisan-tulisan mengenai periode 1945–1965 mungkin kita akan membaca berbagai peristiwa besar yang dapat ditarik ke dalam satu rangkaian sebab-akibat yang sederhana. Padahal, menurut banyak penelitian sejarah, hubungan antarperistiwa tersebut tidak selalu bersifat langsung. Misalnya, dalam narasi yang berkembang di masyarakat, kadang muncul anggapan bahwa berbagai peristiwa seperti Perjanjian Renville, Madiun 1948, pemberontakan DI/TII, hingga Gerakan 30 September 1965 merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan secara linear. Kenyataannya, para sejarawan memandang masing-masing peristiwa memiliki latar belakang, aktor, serta dinamika politik yang berbeda.

Misalnya Perjanjian Renville yang ditandatangani pada Januari 1948 memang dianggap merugikan posisi Republik Indonesia karena wilayah kekuasaan republik menjadi semakin sempit. Namun perjanjian itu lahir dalam situasi diplomasi internasional yang sangat sulit setelah agresi militer Belanda. Banyak tokoh republik menerima perjanjian tersebut sebagai pilihan yang pahit untuk mempertahankan eksistensi negara yang baru berdiri.

Beberapa bulan setelahnya terjadi Peristiwa Madiun 1948, yang hingga kini masih menjadi bahan kajian sejarah. Sebagian sejarawan melihatnya sebagai pemberontakan yang dipimpin unsur-unsur PKI, sementara kajian lain menekankan kompleksitas konflik politik, militer, dan ideologi pada masa revolusi. Perbedaan tafsir tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih.

Demikian pula dengan DI/TII yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Gerakan ini lahir dari gagasan mendirikan Negara Islam Indonesia dan memiliki akar persoalan yang berbeda dari konflik antara pemerintah dengan PKI. Walaupun berlangsung pada masa yang hampir berdekatan, kedua peristiwa tersebut tidak dapat dipahami sebagai satu rangkaian sebab-akibat yang sederhana.

Demikian nama Tan Malaka pun sering muncul dalam pembahasan sejarah revolusi Indonesia. Sebagai salah satu tokoh pergerakan yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pemikiran kiri di Indonesia. Namun konflik politik yang melibatkan Tan Malaka terjadi dalam konteks revolusi kemerdekaan dan berbeda dengan dinamika yang kemudian berkembang pada era Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru.

Memahami sejarah Indonesia memerlukan kehati-hatian. Jika terlalu menyederhanakan hubungan antarperistiwa justru dapat mengaburkan kenyataan yang sesungguhnya. Pada peristiwa 1965 yang hingga kini tetap menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade Orde Baru, narasi resmi negara mendominasi ruang publik melalui buku pelajaran, media massa, museum, hingga film wajib yang diputar setiap tahun.

Setelah memasuki era Reformasi 1998, baru kemudian ruang akademik menjadi lebih terbuka. Berbagai penelitian dari sejarawan Indonesia maupun luar negeri menghadirkan perspektif yang lebih beragam mengenai latar belakang Gerakan 30 September, tentang pembunuhan massal setelahnya, dan dampak sosial-politik yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Lembaga seperti Komnas HAM menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang berat dalam berbagai tindakan terhadap orang-orang yang dituduh terkait PKI. Hasil penelitian akademik dari sejumlah universitas dan lembaga internasional memperlihatkan bahwa korban tidak hanya berasal dari anggota PKI, tetapi juga keluarga mereka, simpatisan, orang-orang yang dituduh tanpa proses hukum, bahkan mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas politik.

Perbedaan pandangan mengenai penyebab maupun skala peristiwa tersebut masih terus menjadi bahan diskusi ilmiah. Namun satu hal yang semakin memperoleh pengakuan luas adalah besarnya dampak kemanusiaan yang ditinggalkan oleh tragedi itu. Di balik angka-angka statistik terdapat keluarga yang tercerai-berai, anak-anak yang kehilangan orang tua, orang tua yang tidak pernah lagi melihat anaknya, serta ribuan warga negara yang menjalani hidup di negeri asing tanpa kepastian apakah mereka masih memiliki tempat untuk pulang.

Di sinilah Surat dari Praha menemukan relevansinya. Film ini tentu tidak sedang mengadili siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sejarah Indonesia. Ia juga tidak menawarkan pembacaan politik yang tunggal. Sebaliknya, film ini mengajak penontonnya agar dapat melihat tentang bagaimana keputusan-keputusan politik pada tingkat negara dapat mengubah jalan hidup seseorang secara permanen.

Mahdi Jayasri menjadi simbol dari generasi yang kehilangan kesempatan untuk kembali. Ia hidup, bekerja, menua, bahkan membangun kehidupannya di Praha. Namun jauh di dalam dirinya tetap tersimpan sebuah ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi, yakni kerinduan kepada Indonesia.

Kerinduan itu bukan hanya kepada sebuah wilayah geografis. Itu adalah kerinduan terhadap apa yang lebih dan kurangnya bangsa sebagai rahim hidupnya, terhadap bahasa yang pertama kali dipelajarinya, atau tentang aroma tanah setelah hujan, suara azan di kampung halaman, percakapan sederhana dengan tetangga, makanan yang dahulu dianggap biasa, hingga makam orang tua yang tidak pernah sempat diziarahi. Dalam pengasingan itu, betapa ia mencintai tanah airnya, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk hidup dan berjuang di dalamnya.

Di sinilah film Surat dari Praha melampaui dirinya sebagai karya sinema. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang negara, ideologi, atau perebutan kekuasaan. Sejarah juga terdiri atas jutaan kisah kecil yang hidup di dalam hati manusianya dengan segala kisahnya. Kisah tentang kehilangan, kesetiaan, penantian, dan harapan yang tetap terang menderang meskipun waktu terus berjalan.

Rekonsiliasi, Diaspora, dan Arti Sebuah Tanah Air

Surat dari Praha bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Film ini juga mengajukan pertanyaan yang masih relevan bagi Indonesia hari ini tentang bagaimana sebuah bangsa memperlakukan warganya yang pernah terlempar oleh sejarah. Pertanyaan itu tentu tidak sederhana, sebab menyentuh persoalan identitas, kewarganegaraan, keadilan, hak asasi manusia, sekaligus ingatan kolektif bangsa.

Di sinilah film sebagai karya seni menemukan perannya. Berbeda dengan dokumen negara atau buku sejarah yang berusaha menjelaskan fakta dan kronologi, film memiliki kemampuan menghadirkan sebuah pengalaman batin. Ia memperlihatkan bagaimana sejarah yang besar dan abstrak menjelma menjadi kesedihan seorang anak yang kehilangan orang tuanya, seorang kekasih yang tak pernah sempat bertemu kembali, atau seorang warga negara yang tidak lagi memiliki kepastian tentang tanah airnya.

Surat dari Praha tidak memaksa penontonnya menerima satu tafsir sejarah tertentu. Sebaliknya, film ini mengundang empati. Empati bukan berarti membenarkan semua tindakan pada masa lalu, melainkan kesediaan untuk melihat manusia sebagai manusia, apa pun posisi politik yang pernah melekat padanya.

Di berbagai negara yang pernah mengalami konflik politik, perang saudara, maupun pemerintahan otoriter, seni sering menjadi jembatan awal menuju rekonsiliasi. Sastra, teater, musik, dan film memungkinkan masyarakat membicarakan luka yang selama bertahun-tahun sulit diungkapkan secara terbuka.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan tersebut. Afrika Selatan, misalnya, membentuk Truth and Reconciliation Commission (TRC) setelah berakhirnya rezim apartheid. Komisi tersebut tidak bertujuan menghapus kesalahan masa lalu, tetapi membuka ruang bagi korban dan pelaku untuk memberikan kesaksian sehingga masyarakat dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Di Amerika Latin, negara-negara seperti Argentina dan Chili juga menjalani proses panjang untuk mengungkap pelanggaran hak asasi manusia pada masa pemerintahan militer. Pengungkapan arsip, penelitian sejarah, pembangunan museum, hingga produksi film dokumenter menjadi bagian dari upaya membangun ingatan bersama.

Indonesia memiliki jalan sejarah yang berbeda. Hingga kini, rekonsiliasi mengenai tragedi 1965 masih menjadi perdebatan di ruang publik. Berbagai pemerintahan telah mengambil langkah yang berbeda-beda, mulai dari penelitian akademik, dialog masyarakat sipil, hingga pengakuan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Namun penyelesaian secara hukum maupun politik masih menyisakan banyak pertanyaan.

Dalam konteks inilah Surat dari Praha menawarkan pendekatan yang berbeda. Film ini tidak berbicara melalui ruang sidang, melainkan melalui ruang keluarga. Bukan melalui pidato politik, tetapi melalui percakapan yang lirih. Yang ingin dibangun bukan kemenangan suatu ideologi, melainkan kesadaran bahwa di balik setiap konflik politik selalu ada manusia yang harus menjalani akibatnya.

Tokoh Mahdi Jayasri merupakan gambaran fiksi, tetapi pengalaman yang diwakilinya nyata. Ia mewakili ribuan orang Indonesia yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka di negeri asing karena perubahan politik di tanah air. Mereka bekerja sebagai dosen, peneliti, teknisi, seniman, penerjemah, musisi, hingga buruh biasa. Sebagian membangun keluarga dengan warga negara setempat, sebagian tetap hidup sendiri. Ada yang akhirnya memperoleh kewarganegaraan baru, ada pula yang selama bertahun-tahun hidup tanpa status kewarganegaraan yang jelas.

Banyak di antara mereka ada yang tetap menjaga hubungan budaya dengan Indonesia. Mereka masih menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memasak makanan Nusantara, memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak mereka, bahkan menjadi pengajar gamelan, tari tradisional, atau bahasa Indonesia di berbagai universitas Eropa.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak selalu berhenti ketika status administrasi berubah. Kewarganegaraan memang merupakan konsep hukum, tetapi rasa memiliki terhadap tanah air merupakan pengalaman budaya dan emosional yang jauh lebih dalam. Seseorang dapat berganti paspor, tetapi kenangan masa kecil, bahasa ibu, cerita keluarga, dan kebudayaan yang membentuk dirinya tidak serta-merta hilang.

Mungkin kita bisa belajar dari pengalaman Tiongkok dalam memperlakukan diaspora. Memang, kebijakan mengenai kewarganegaraan masyarakat Tionghoa di luar negeri mengalami perubahan sepanjang sejarah. Pada masa Dinasti Qing terdapat berbagai kebijakan yang berbeda terhadap warga yang tinggal di luar negeri, sementara pada awal abad ke-20 pemerintah Tiongkok mulai mengembangkan konsep kewarganegaraan yang lebih luas bagi diaspora Tionghoa.

Tetapi yang lebih penting daripada contoh historis tersebut adalah pelajaran ketika banyak negara modern berusaha menjaga hubungan dengan warga atau keturunan warganya yang tinggal di luar negeri.

India, misalnya, mengembangkan berbagai skema bagi diaspora India melalui kartu Overseas Citizen of India (OCI), yang memberikan sejumlah kemudahan meskipun bukan kewarganegaraan ganda penuh. Irlandia memiliki hubungan yang sangat erat dengan diaspora keturunannya di berbagai belahan dunia. Korea Selatan dan Armenia juga membangun kebijakan yang memperkuat hubungan budaya, ekonomi, dan pendidikan dengan warga keturunannya di luar negeri.

Indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir semakin memberi perhatian kepada diaspora. Pemerintah secara berkala melibatkan diaspora Indonesia dalam diplomasi kebudayaan, investasi, pendidikan, penelitian, hingga pengembangan teknologi. Diaspora Indonesia Global (Indonesian Diaspora Network Global) menjadi salah satu wadah yang mempertemukan warga Indonesia dan keturunannya di berbagai negara untuk tetap berkontribusi bagi tanah air. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan diaspora tidak lagi dipahami semata-mata dari sudut administrasi kependudukan. Diaspora juga dipandang sebagai aset sosial, budaya, intelektual, dan ekonomi.

Tentu saja, pembicaraan mengenai eksil Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa sejarah 1965 juga meninggalkan luka bagi banyak kelompok lain di tanah air. Ada keluarga korban pembunuhan, korban kekerasan politik, anggota TNI dan Polri yang gugur, masyarakat sipil yang terjebak dalam konflik, hingga mereka yang kehilangan anggota keluarganya akibat berbagai bentuk kekerasan pada masa itu.

Karena itulah, rekonsiliasi tidak dapat dibangun di atas penghapusan sejarah ataupun pengingkaran terhadap penderitaan salah satu pihak. Rekonsiliasi justru memerlukan keberanian untuk mengakui bahwa penderitaan dialami oleh banyak manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Film Surat dari Praha tidak meminta penonton melupakan sejarah. Film ini juga tidak mengajak untuk menghapus perbedaan pandangan mengenai komunisme, Orde Baru, ataupun dinamika politik Indonesia. Yang ditawarkan adalah sesuatu yang mendasar agar kita dapat melihat setiap manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat.

Ketika Mahdi Jayasri yang digambarkan dalam film, telah menerima kenyataan hidupnya di Praha, penonton menyadari bahwa waktu memang dapat mengajarkan seseorang berdamai dengan masa lalunya. Namun berdamai bukan berarti melupakan. Ingatan tetap tinggal, hanya cara memandangnya yang berubah.

Kita dapat membaca satu gagasan yang terus mengalir sepanjang Surat dari Praha bahea manusia mungkin dapat dipisahkan dari tanah airnya, tetapi tidak mudah dipisahkan dari asal-usulnya. Negara dapat berubah, pemerintahan dapat berganti, bahkan status kewarganegaraan dapat berbeda. Namun bahasa yang pertama kali dipelajari, lagu-lagu masa kecil, aroma masakan ibu, cerita kampung halaman, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan keluarga tetap melekat sebagai bagian dari identitas seseorang.

Di sinilah makna diaspora menjadi lebih luas daripada sekadar perpindahan penduduk. Diaspora adalah kisah tentang bagaimana manusia membawa tanah airnya ke mana pun ia pergi. Dan bagi seorang Mahdi Jayasri, Indonesia bukan hanya sebuah wilayah di peta. Indonesia adalah ingatan yang hidup di dalam dirinya. Ia hadir dalam setiap kenangan tentang keluarga, cinta, dan masa muda yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan mungkin, itulah yang ingin disampaikan Surat dari Praha bahwa sejarah bukan sekadar deretan tanggal, pergantian rezim, atau konflik ideologi. Sejarah adalah kehidupan manusia yang terus berjalan, bahkan ketika lembar-lembar buku sejarah telah lama ditutup.

Catatan Penutup: Refleksi tentang Ingatan dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Surat dari Praha mungkin tidak dapat memberikan jawaban yang tegas atas berbagai pertanyaan sejarah yang diangkatnya. Sebab film ini tidak berusaha menjadi buku sejarah, apalagi menjadi hakim yang memutuskan siapa yang sepenuhnya benar dan siapa yang sepenuhnya salah. Kekuatan film ini terletak pada kesediaannya membiarkan penonton merenung, lalu mengisi sendiri ruang-ruang sunyi yang ditinggalkan oleh sejarah.

Dalam konteks itu, film menjadi medium yang mampu menjembatani jarak antara fakta sejarah dan pengalaman manusia. Sejarah memang disusun melalui dokumen, arsip, kesaksian, serta penelitian ilmiah. Namun, pengalaman kehilangan, kerinduan, rasa bersalah, dan harapan menjadi lebih mudah dipahami melalui karya seni. Film menghadirkan wajah-wajah manusia di balik angka statistik, memperlihatkan bahwa setiap kebijakan politik selalu menyentuh kehidupan orang-orang biasa.

Sejarah Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan periode 1945 hingga 1966, memang merupakan salah satu bab yang paling kompleks. Sejak Revolusi Kemerdekaan, Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, Agresi Militer Belanda, Peristiwa Madiun 1948, Demokrasi Terpimpin, Gerakan 30 September 1965, hingga lahirnya Orde Baru adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan, tetapi tidak dapat dipahami melalui penjelasan yang sederhana. Setiap peristiwa memiliki konteks politik, sosial, ekonomi, dan internasional yang berbeda.

Karena itu, memahami sejarah memerlukan sikap intelektual yang terbuka. Sejarah bukan sekadar kumpulan cerita yang diwariskan turun-temurun, melainkan disiplin ilmu yang terus berkembang seiring ditemukannya arsip baru, penelitian baru, dan sudut pandang baru. Perbedaan interpretasi adalah sesuatu yang wajar dalam kajian sejarah, selama didasarkan pada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara mengingat dan membenarkan. Mengingat sejarah bukan berarti membenarkan semua tindakan yang pernah terjadi. Sebaliknya, melupakan sejarah juga bukan jalan menuju rekonsiliasi. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu melihat masa lalunya secara jujur, mengakui luka yang pernah terjadi, sekaligus belajar agar luka yang sama tidak kembali terulang.

Rekonsiliasi adalah tanggung jawab bersama. Rekonsiliasi mungkin sering dipahami sebagai penyelesaian politik atau hukum. Padahal, rekonsiliasi juga merupakan proses sosial dan budaya yang jauh lebih panjang. Sebenarnya tidak hanya menyangkut keputusan pemerintah, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat bersedia membuka ruang dialog, mendengarkan pengalaman orang lain, dan menerima bahwa sejarah bangsa ini dibentuk oleh banyak pengalaman yang berbeda.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah Indonesia semakin berkembang adalah hal yang menggembirakan. Penelitian akademik, penerbitan arsip, diskusi publik, film dokumenter, hingga karya sastra telah membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat berbagai sisi dari peristiwa-peristiwa besar yang pernah terjadi. Langkah-langkah tersebut bukan untuk menghapus narasi yang telah ada, melainkan untuk memperkaya pemahaman agar sejarah tidak berhenti menjadi cerita satu arah.

Bagi generasi muda, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan memilah informasi yang dapat dipercaya. Di era digital, berbagai narasi sejarah beredar dengan sangat cepat melalui media sosial, video pendek, maupun forum daring. Sebagian didasarkan pada penelitian yang kuat, tetapi tidak sedikit pula yang dibangun di atas spekulasi, potongan informasi, atau teori konspirasi. Karena itu, membaca sejarah memerlukan sikap kritis, membandingkan berbagai sumber, serta memberi ruang bagi temuan-temuan ilmiah yang terus berkembang.

Dan salah satu pesan paling menyentuh dari Surat dari Praha adalah bahwa kepulangan tidak selalu berarti kembali secara fisik ke tempat asal. Ada orang-orang yang tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Indonesia, tetapi sepanjang hidupnya tetap merasa sebagai bagian dari bangsa ini. Sebaliknya, ada pula yang tinggal di Indonesia, tetapi perlahan kehilangan keterhubungan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Lalu kita dapat melihat Mahdi Jayasri sebagai simbol tentang kerinduan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia telah membangun kehidupan di Praha, memiliki pekerjaan, sahabat, dan rutinitas baru. Namun, di balik semua itu, ia tetap membawa Indonesia di dalam ingatannya. Tanah air hadir dalam bahasa yang ia gunakan, dalam lagu-lagu yang ia kenang, dalam cerita masa kecil yang terus ia simpan, dan dalam nama-nama orang yang tidak pernah berhasil ia lupakan.

Pengalaman semacam itu mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh batas wilayah atau administrasi kewarganegaraan. Bangsa juga dibentuk oleh ingatan, kebudayaan, bahasa, dan rasa memiliki yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah dunia yang semakin terhubung, diaspora Indonesia justru dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya, ilmu pengetahuan, dan pengalaman Indonesia kepada masyarakat internasional. Mereka bukan sekadar kelompok yang tinggal di luar negeri, melainkan bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan dunia.

Tulisan ini sejak awal berangkat dari sebuah film dan babak akhirnya membawa kita kepada pertanyaan apa yang seharusnya menjadi titik temu ketika sejarah memperlihatkan begitu banyak perbedaan pandangan? Barangkali jawabannya adalah kemanusiaan. Ideologi, sistem politik, dan pemerintahan akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun martabat manusia tetap menjadi nilai yang tidak boleh dikorbankan. Di balik setiap konflik politik selalu ada keluarga yang kehilangan orang yang dicintai, anak-anak yang tumbuh tanpa orang tua, orang tua yang menunggu anaknya pulang, dan individu-individu yang harus menjalani hidup dengan beban sejarah yang tidak selalu mereka pilih sendiri.

Komunisme, nasionalisme, liberalisme, Islamisme, maupun berbagai ideologi lainnya merupakan bagian dari sejarah pemikiran manusia. Semuanya dapat dipelajari secara kritis dalam ruang akademik dan sejarah. Akan tetapi, ketika sebuah ideologi dijadikan alasan untuk menghilangkan martabat manusia, di situlah kemanusiaan harus kembali ditempatkan sebagai nilai yang paling utama.

Mungkin bagi generasi yang lahir jauh setelah 1965, kisah-kisah seperti dalam Surat dari Praha terasa begitu jauh. Tetapi justru karena jarak waktu itulah generasi sekarang memiliki kesempatan untuk melihat sejarah dengan kepala yang lebih dingin dan hati yang lebih terbuka. Mereka tidak lagi dibebani oleh pertarungan politik masa lalu, melainkan memiliki peluang untuk belajar darinya.

Sejarah tidak dapat diubah. Yang dapat diubah adalah cara kita memahaminya. Kita mungkin tidak akan pernah mencapai kesepakatan mutlak mengenai semua peristiwa dalam sejarah Indonesia. Akan selalu ada perbedaan tafsir, sudut pandang, dan penekanan. Namun bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang menghapus perbedaan itu, melainkan bangsa yang mampu berdialog di atas perbedaan dengan tetap menghormati fakta, ilmu pengetahuan, dan martabat manusia.

Di situlah Surat dari Praha menemukan makna terdalamnya. Bukan sekadar kisah cinta yang dipisahkan oleh jarak. Bukan pula sekadar film tentang eksil politik. Film ini adalah pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai selama masih ada manusia yang mengingatnya. Sebagaimana surat yang dikirim dari kota tua Praha kepada tanah air yang telah lama ditinggalkan, bangsa Indonesia pun terus mengirimkan surat kepada dirinya sendiri. Surat yang berisi harapan agar masa lalu dipahami dengan jujur, masa kini dijalani dengan bijaksana, dan masa depan dibangun di atas keberanian untuk merawat kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. (Sal)

Perspektif

Scroll