Setelah menonton bagian kedua Little Forest: Winter/Spring, saya menemukan sudut pandang yang berbeda tentang pertanian, kehidupan desa, dan cara masyarakat Jepang membangun hubungan yang begitu dekat dengan alam. Film ini bukan sekadar menghadirkan pemandangan pedesaan yang indah atau makanan yang menggugah selera, melainkan memperlihatkan bagaimana manusia belajar berdamai dengan musim, tanah, dan dirinya sendiri.
Di tengah gelombang modernisasi global yang menuntut serba cepat, karya sutradara Junichi Mori yang diangkat dari manga karya Daisuke Igarashi ini menjadi antitesis visual yang berharga kalau kita lewatkan. Film ini mengajak kita merenungkan kembali esensi eksistensial manusia sebagai makhluk yang sejatinya tak pernah bisa dipisahkan dari tanah kehidupannya.
Sedikit demi sedikit saya mulai mengenal berbagai istilah dalam dunia pertanian Jepang, sekaligus memahami bagaimana hasil panen diolah menjadi makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan sejarah dan kebijaksanaan turun-temurun. Tokoh Ichiko yang diperankan oleh Ai Hashimoto yang cantik itu, kita dapat melihat keseharian yang sederhana namun penuh makna tentang kehidupan seorang kembang desa di Jepang.
Bagaimana ia begitu sibuk membuat Hatto (sup pangsit gandum), Natto Mochi (kue beras dengan fermentasi kedelai), Nishime—semur khas Jepang yang dimasak perlahan hingga bumbu meresap—serta Oyaki, pangsit atau roti isi tradisional yang menjadi makanan masyarakat pegunungan.
Menu-menu tradisional ini mencerminkan apa yang dalam kebudayaan Jepang dikenal sebagai konsep Shun, yaitu kesadaran mendalam untuk hanya mengonsumsi bahan makanan yang berada pada puncak musim terbaiknya, sebuah prinsip yang kini mulai diadopsi oleh gerakan pangan global berbasis keberlanjutan.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat desa memanfaatkan setiap hasil panen tanpa menyia-nyaikan apa pun. Lobak dibekukan secara alami oleh udara musim dingin agar menghasilkan cita rasa yang berbeda. Kacang merah diolah menjadi pasta manis yang menjadi bahan berbagai kudapan tradisional. Kubis, lobak, hingga buah kesemek dikeringkan sebagai persediaan makanan untuk menghadapi musim yang panjang.
Praktis, teknik-teknik lokal ini merupakan wujud nyata dari konsep Mottainai, sebuah filosofi Buddhis kuno Jepang yang menolak tindakan membuang-buang atau menyia-nyiakan sumber daya alam yang telah menyokong kehidupan. Di balik proses yang tampak sederhana itu tersimpan pengetahuan lokal yang diwariskan selama berabad-abad, lahir dari pengalaman hidup bersama perubahan musim.
Di sinilah makna slow living terasa begitu nyata. Kehidupan desa bukan berarti hidup tanpa pekerjaan atau tanpa tekanan. Justru sebaliknya, setiap hari diisi oleh pekerjaan yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan kedisiplinan. Gerakan hidup lambat ini bukanlah bentuk pelarian dari realitas, melainkan sebuah respons kritis terhadap fenomena hustle culture di perkotaan yang kerap mereduksi nilai manusia hanya sebatas angka produktivitas. Di desa fiktif Komori ini, mereka makan dari apa yang mereka tanam sendiri, lalu menanam kembali untuk musim berikutnya. Hubungan manusia dengan alam berlangsung dalam siklus yang nyaris tanpa putus.
Film ini memperlihatkan seluruh proses bertani, mulai dari pembenihan, penanaman bibit, penyiangan gulma—yang dalam istilah Sunda dikenal sebagai ngaramet—hingga masa panen atau dibuat, kemudian dilanjutkan dengan proses pengirikan padi. Menariknya, ritual ngaramet di Nusantara memiliki frekuensi spiritual yang sama dengan etos kerja petani di pegunungan Iwate, Jepang. Keduanya memandang tanah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan ruang sakral yang menghidupkan. Semua tahapan itu dikerjakan perlahan, mengikuti irama alam, bukan dikejar oleh target produksi semata.
Bahkan suara langkah kaki para petani di sawah, desir angin, hingga bunyi alat pertanian menjadi bagian dari narasi yang membuat penonton seolah ikut berada di tengah sawah dan ladang. Harmoni auditori ini membawa kesadaran ekologis bahwa setiap detail di alam memiliki ritmenya sendiri yang harus dihormati.
Namun bukan berarti kehidupan seperti itu tidak pernah digambarkan sebagai kehidupan yang sempurna. Ichiko tetap mengalami tekanan batin. Ada hari-hari ketika rasa lelah, sepi, dan kecewa datang tanpa diundang. Kompleksitas emosi ini mempertegas bahwa pedesaan bukanlah surga utopia yang steril dari konflik batiniah. Saat pikirannya penuh, ia memilih memotong kayu. Aktivitas fisik itu bukan sekadar pekerjaan rumah, melainkan menjadi cara sederhana untuk mengembalikan ketenangan. Seolah-olah setiap ayunan kapak turut memecah beban yang selama ini dipikulnya. Melalui tindakan repetitif tersebut, Ichiko melakukan semacam meditasi aktif, menyalurkan kecemasan menjadi energi yang membumi.
Kita mengetahui dari film pertama bahwa Ichiko pulang ke kampung halamannya karena merasa gagal menjadi bagian dari kehidupan kota. Kepulangannya bukan kemenangan, tetapi juga bukan kekalahan. Ia datang membawa luka, lalu perlahan belajar bahwa tidak semua pencarian harus berakhir di tempat yang ramai. Fenomena kepulangan Ichiko ini sangat relevan dengan riset sosiologis kontemporer mengenai tren U-turn migration di Jepang, di mana generasi muda mulai meninggalkan megapolitan seperti Tokyo demi menghidupkan kembali daerah-daerah rural yang mengalami depopulasi.
Kadang-kadang seseorang harus kembali ke tanah tempat ia dibesarkan untuk menemukan kembali makna hidup yang sempat hilang. Meski memang mengolah tanah pertanian bukanlah pekerjaan yang romantis sebagaimana sering dibayangkan orang kota. Alam selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji kesabaran manusia. Cuaca dapat berubah sewaktu-waktu, musim bisa bergeser, hasil panen tidak selalu sesuai harapan, dan serangan hama dapat menghancurkan kerja keras selama berbulan-bulan hanya dalam hitungan hari.
Realitas getir ini berkelindan dengan laporan organisasi pangan dunia (FAO) yang terus menyoroti kerentanan sektor agraris terhadap anomali iklim global saat ini, mempertegas bahwa menjadi petani adalah salah satu bentuk ketahanan mental tertinggi.
Film ini memperlihatkan salah satu tantangan tersebut melalui kemunculan kamemushi, istilah di Jepang untuk serangga kepik yang populasinya dapat meledak pada waktu tertentu. Ketika jumlahnya meningkat secara drastis, serangga ini dapat merusak berbagai tanaman pertanian dan bahkan memasuki rumah-rumah warga dalam jumlah yang sangat banyak. Kehadiran hama pengganggu yang berbau menyengat ini meruntuhkan romantisasi estetis tentang desa yang melulu tenang dan indah.
Fenomena seperti ini mengingatkan bahwa kehidupan petani selalu bergantung pada keseimbangan alam yang tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan manusia. Manusia dipaksa untuk tunduk, beradaptasi, dan merendahkan hati di hadapan hukum-hukum alam yang tak terbantahkan.
Di balik seluruh kisahnya, Little Forest sesungguhnya tidak sedang mengajarkan cara memasak ataupun teknik bertani semata. Film ini sedang memperlihatkan hubungan paling dasar antara manusia dan kehidupannya. Bahwa makanan memiliki perjalanan panjang sebelum tiba di meja makan. Bahwa setiap butir padi menyimpan tenaga, waktu, dan kesabaran. Bahwa setiap musim selalu membawa pelajaran yang berbeda.
Narasi ini secara tajam menyentil masyarakat modern yang kerap mengalami keterputusan hubungan (disconnection) dengan asal-usul apa yang mereka konsumsi sehari-hari.
Barangkali inilah alasan mengapa film ini terasa begitu menenangkan. Ia tidak menawarkan kehidupan yang sempurna, melainkan kehidupan yang dijalani apa adanya. Ada kegagalan, ada kesepian, ada rasa kehilangan, tetapi semuanya diterima sebagai bagian dari pergantian musim. Jiwa Ichiko yang awalnya rapuh dan terombang-ambing oleh kerasnya laju kehidupan kota, secara bertahap mengalami proses rekonsiliasi justru ketika jemarinya bersentuhan langsung dengan dinginnya lumpur sawah dan bekuan es musim dingin.
Little Forest: Winter/Spring mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali tumbuh bukan dari memiliki lebih banyak, melainkan dari kemampuan menghargai apa yang sudah ada di sekitar kita. Di era di mana manusia diukur dari kecepatan dan kepemilikan materi, film ini mengetuk kesadaran kita untuk kembali melambat, mendengarkan desir angin, dan menghormati proses.
Sebagaimana tanah yang harus terus dirawat agar tetap subur, demikian pula hati manusia membutuhkan waktu, kesabaran, dan keheningan agar mampu kembali menumbuhkan harapan. Mungkin karena itulah desa tidak sekadar menjadi tempat tinggal bagi Ichiko, tetapi juga menjadi ruang tempat ia perlahan menyembuhkan dirinya sendiri. Melalui tanah, ia tidak hanya menanam padi, tetapi sedang menyemai kembali kepingan-kepingan jiwanya yang sempat patah oleh kehidupan urban kota. (Sal)