Yang Tersisa Hanya Cinta: Catatan tentang Pernikahan, Pengorbanan, dan Harapan

Ada film yang selesai begitu lampu bioskop menyala kembali. Ceritanya berhenti di layar, lalu...

Yang Tersisa Hanya Cinta: Catatan tentang Pernikahan, Pengorbanan, dan Harapan

29 Jun 2026
172 x Dilihat
Share :

Yang Tersisa Hanya Cinta: Catatan tentang Pernikahan, Pengorbanan, dan Harapan

Ada film yang selesai begitu lampu bioskop menyala kembali. Ceritanya berhenti di layar, lalu perlahan menguap bersama ingatan penonton yang melangkah keluar. Namun, ada pula film yang justru baru benar-benar dimulai setelah layar digulung atau tombol power dimatikan kalau menontonnya di rumah. Film jenis ini menolak untuk pergi sebab meninggalkan jejak pertanyaan bagi diri sendiri, mengusik ketenangan pikiran, bahkan memaksa kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

Bagi saya, Yang Tersisa Hanya Cinta masuk ke dalam kelompok kedua. Film drama Indonesia yang dibintangi oleh Rey Mbayang dan Dinda Hauw ini sama sekali tidak menjual kisah cinta picisan yang serba manis. Alih-alih menyuguhkan romantisasi, film ini terasa sangat relevan karena berani menghadirkan wajah pernikahan yang begitu dekat dengan kenyataan—sebuah potret yang dipenuhi keterbatasan, kelelahan fisik dan mental, pertengkaran kecil yang membesar, hingga harapan yang nyaris habis. Kisah Melati dan Jati menjelma menjadi cermin bagi banyak keluarga di Indonesia yang hari ini masih bergulat dengan peliknya persoalan ekonomi, rapuhnya komunikasi, dan pertaruhan harga diri.

Secara naratif, film ini seolah merangkum seluruh spektrum problema rumah tangga kelas pekerja atau kelas menengah ke dalam satu ruang cerita yang padat, namun tetap terasa bernyawa. Konflik bergulir dengan getir, mengajak penonton menyaksikan bagaimana sang suami harus menganggur karena usianya dianggap telah melewati batas produktif perusahaan saat mencari pekerjaan baru. Di sisi lain, sang istri yang mulai kehilangan kesabaran akibat beban domestik yang menumpuk hingga temannya menawarkan laki-laki lain untuk mengganti suami. Sebab tak sanggup menghadapi segala problemanya, istri terus-menerus menuntut cerai, menodong agar surat permohonan cerai segera ditanda tangan oleh suaminya. 

Karena suami yang menganggur dan istri harus bekerja bahkan orang lain sudah libur untuk menyambut hari lebaran, termasuk biaya pengobatan ibunya, harus merenovasi rumahnya, jeratan pinjaman online datang menghimpit, menciptakan teror psikologis yang kian mencekik. Di saat keputusan hendak bercerai, tapi masih ada seorang ibu yang semakin menua dan membutuhkan perawatan penuh kasih dari anak-anaknya di tengah keterbatasan ruang dan biaya. 

Belum lagi realitas-realitas kecil yang menampar, seperti bensin motor yang habis di tengah jalan saat dompet sedang kosong. Rentetan kepahitan ini bahkan melukai generasi di bawahnya ketika sang adik enggan menikah hanya karena trauma melihat kakaknya yang terus-menerus bertengkar. Semua kerumitan ini berkelindan, menciptakan labirin persoalan yang terasa sangat akrab dengan apa yang sering kita dengar atau alami sendiri sehari-hari.

Yang Tersisa Hanya Cinta seperti sengaja mengumpulkan serpihan-serpihan badai yang selama ini bersembunyi di balik dinding banyak rumah tangga kita. Menariknya, dalam film ini, sutradara hampir tidak menyisakan ruang bagi sosok kaya raya yang bisa menyelesaikan segala masalah secara instan dengan uang. Tidak ada keajaiban fiktif yang datang mengetuk pintu. Yang tersisa di layar hanyalah manusia-manusia biasa yang rapuh, yang sedang tertatih-tatih mengerahkan sisa energi mereka demi bisa bertahan hidup satu hari lagi.

Barangkali di situlah letak kekuatan film ini. Tidak menawarkan sebuah gambaran kehidupan yang sempurna, tetapi menghadirkan kenyataan yang sering kita jumpai di sekitar kita. Persoalan ekonomi seperti yang kita ketahui telah menjadi salah satu sumber konflik terbesar dalam rumah tangga Indonesia. Bahkan, Kementerian Agama dalam berbagai program bimbingan perkawinan kini menempatkan literasi keuangan sebagai materi penting karena banyak konflik keluarga berawal dari ketidaksiapan mengelola ekonomi rumah tangga. 

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, kemampuan mengatur keuangan keluarga sama pentingnya dengan kesiapan mental dan spiritual dalam membangun pernikahan. Data nasional mencatat persoalan itu bukan sekadar cerita dalam film. Sepanjang 2025, tercatat 438.168 perkara perceraian di Indonesia. Penyebab terbesar bukan semata-mata hadirnya orang ketiga, melainkan perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus, serta faktor ekonomi berada di urutan berikutnya sebagai pemicu utama keretakan rumah tangga. Bertengkar pun sering karena persoalan ekonomi, maka dengan demikian ekonomi sesungguhnya persoalan utama.

Di berbagai daerah, tekanan ekonomi bahkan semakin diperberat oleh fenomena pinjaman online dan judi online. Keduanya tidak hanya menguras kondisi finansial keluarga, tetapi juga menghancurkan kepercayaan antara suami dan istri. Sejumlah Pengadilan Agama dan Kementerian Agama daerah mencatat bahwa pinjaman online kini menjadi salah satu faktor yang semakin sering muncul dalam perkara perceraian. 

Maka siapa yang ingin menikah tapi hidup masih dalam kekurangan sudahkah siap mendengar kalimat yang akan terasa lebih tajam daripada pisau, seperti “Kamu sumber masalah… Kamu gagal menjadi pemimpin keluarga… Kamu gagal membuat aku bahagia.”

Kalimat-kalimat semacam itu tidak hanya melukai harga diri seorang suami, juga perlahan mengikis kepercayaan diri seseorang yang sebenarnya sedang berjuang melawan keadaan. Tidak semua pengangguran adalah pemalas. Tidak semua kegagalan ekonomi lahir dari kemalasan. Ada yang kalah oleh usia, ada yang kalah oleh persaingan, ada pula yang kalah oleh keadaan yang tidak pernah benar-benar berpihak kepadanya. Tetapi kelelahan seorang istri pun tidak bisa diabaikan. Ketika seluruh beban ekonomi harus dipikul sendiri, rasa lelah perlahan berubah menjadi kemarahan. Kemarahan berubah menjadi kekecewaan. Dan kekecewaan yang terus dipendam akhirnya berubah menjadi keinginan untuk mengakhiri semuanya.

Di titik itulah rumah tangga sering kehilangan kemampuan paling sederhana, yaitu saling mendengarkan.

Di tengah ribut-ribut, orang sering ngomong hal-hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar mereka maksud. Emosi bikin lidah jalan lebih cepat daripada hati. Yang awalnya cuma ingin didengar dengan sepenuh perhatian, malah mejadi saling menyalahkan. Yang awalnya berharap dipahami justru berakhir saling menyakiti.

Di film itu, kata "cerai" muncul bukan karena cinta benar-benar habis. Kata itu muncul sebagai puncak dari rasa lelah, kecewa, dan putus asa yang kian menumpuk dan tak mendapat saluran. Lalu ketika semua jalan terasa mentok, perceraian terlihat seperti sebuah pintu keluar yang paling gampang dibayangkan.

Padahal, dalam hidup nyata, perceraian hampir tidak pernah sesederhana itu. Bukan cuma mengakhiri hubungan suami istri, tapi juga ikut mengubah hidup anak-anak, orang tua, bahkan keluarga besar yang selama ini ikut menopang rumah tangga itu.

Data dari Pengadilan Agama menunjukkan bahwa perkara perceraian masih mendominasi perkara perdata agama yang ditangani setiap tahun. Di balik angka-angka itu ada jutaan cerita yang tidak selesai cuma dengan putusan hakim. Sering membawa anak pada kehilangan hangatnya keluarga, ada orang tua yang harus mulai lagi dari nol, dan ada luka batin yang butuh waktu bertahun-tahun untuk disembuhkan.

Karena itu, film Yang Tersisa Hanya Cinta seperti mengingatkan kita bahwa kata "cerai" bukan kalimat yang pantas dijadikan ancaman setiap kali bertengkar. Sebab itu keputusan hukum sekaligus keputusan hidup, dan konsekuensinya panjang. 

Tentu saja, karena ini film, akhirnya semuanya ditutup dengan happy ending. Sang suami akhirnya mengakui semua kekurangan dan ketidakmampuannya, dia akhirnya tidak lagi menutup-nutupi kenyataan bahwa dirinya memang sedang gagal memenuhi harapan sebagai kepala keluarga. Namun sisi lain, sang istri menjadi tidak lagi ngotot meminta cerai. Karena mungkin mulai melihat bahwa di balik kelemahan suaminya masih ada kejujuran, tanggung jawab, dan keinginan untuk berubah.

Akhir seperti itu mungkin terasa sederhana dan seringkali jauh dari persoalan nyata hidup rumah tangga yang akhirnya harus datang ke Pengadilan Agama. Bahkan, sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu ideal. Tapi justru di situlah pesan yang mau disampaikan sebab film harus membawa sebuah pesan. Seperti tentang mengakui kesalahan sering menjadi awal dari sebuah rekonsiliasi. Tidak ada hubungan yang bisa membaik kalau masing-masing cuma sibuk membuktikan dirinya paling benar.

Psikolog keluarga juga sudah lama menekankan bahwa komunikasi yang sehat bukan berarti pasangan tidak pernah bertengkar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sebuah konflik dapat diselesaikan. Konflik yang dikelola dengan empati justru bisa membawa hubungan semakin kuat dan dalam, sementara konflik yang penuh penghinaan, hukuman, dan saling merendahkan malah membawa retak lebih cepat dan tak mudah diperbaiki.

Mungkin pelajarannya, saat bertengkar dalam rumah tangga, jangan gampang berkata cerai. Jangan main-main sama kata cerai. Soalnya, itu bisa jadi tanda menyerah atas masalah yang sebenarnya berawal dari salah paham dan ketidaksempurnaan. 

Bahkan sebenarnya hampir tidak ada keluarga yang benar-benar bebas dari masalah. Ada yang diuji karena kurang uang, ada yang diuji karena sakit, ada yang diuji karena kehilangan pekerjaan, dan ada juga yang diuji karena mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan. Bentuk ujiannya boleh berbeda-beda, tetapi intinya sama: apakah cinta masih punya ruang buat bertahan saat keadaan sudah nggak berpihak?

Barangkali, rumah tangga memang tidak dibangun oleh dua orang yang sudah sempurna. Rumah tangga dibangun oleh dua orang yang mau belajar menjadi lebih baik setiap harinya. Kesempurnaan bukan syarat untuk mencintai. Sebaliknya, cinta justru pelan-pelan mengajarkan manusia untuk menerima ketidaksempurnaan pasangannya.

Film ini juga tidak sedang berkata bahwa semua rumah tangga harus dipertahankan dalam keadaan apa pun. Ada kondisi tertentu ketika perpisahan memang menjadi jalan terbaik, apalagi kalau sudah ada kekerasan atau ancaman terhadap keselamatan salah satu pihak. Tapi, untuk begitu banyak masalah yang lahir dari ego, gengsi, dan komunikasi yang buruk, selalu masih ada ruang untuk duduk bersama sebelum benar-benar memutuskan berpisah.

Ya memang dalam keluarga bukan tempat untuk mencari manusia yang tanpa cela. Keluarga adalah tempat di mana dua manusia yang sama-sama rapuh saling dapat menopang supaya tidak jatuh sendirian. Dan mungkin, saat semuanya sudah habis dimakan keadaan, ketika harta menipis, pekerjaan hilang, usia bertambah, atau harapan terasa semakin jauh, yang benar-benar tersisa memang cuma satu: cinta. Bukan cinta yang cuma indah di kata-kata, tapi cinta yang memilih tetap tinggal, tetap memaafkan, dan tetap berjuang, meski hidup tidak pernah benar-benar mudah.

Semua orang berharap menjalani kehidupan yang baik. Memiliki pekerjaan yang mapan, keluarga yang harmonis, anak-anak yang sehat, rumah yang nyaman, serta hari-hari yang tenang tanpa pertengkaran. Tidak ada seorang pun yang sejak awal bercita-cita ingin hidup dalam kekurangan, apalagi menyaksikan rumah tangganya berada di ambang perpisahan.

Namun kehidupan tidak pernah disusun menurut daftar keinginan manusia. Ia bergerak dengan caranya sendiri. Kadang memberi kelimpahan, kadang menghadirkan kehilangan. Hari ini seseorang masih memiliki pekerjaan, esok ia menerima kabar pemutusan hubungan kerja. Hari ini keluarga masih dapat tertawa bersama, beberapa bulan kemudian mereka harus belajar bertahan menghadapi sakit, utang, atau krisis ekonomi.

Film Yang Tersisa Hanya Cinta sesungguhnya sedang mengajak penontonnya melihat kenyataan yang paling sederhana tentang rumah tangga bukanlah panggung kesempurnaan, melainkan ruang belajar yang tidak pernah selesai. Setiap hari, suami dan istri sedang belajar memahami satu sama lain. Tidak selalu berhasil, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk mencoba kembali.

Di era sekarang, tantangan keluarga juga semakin kompleks. Perubahan dunia kerja berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi memang membuka banyak peluang, tetapi pada saat yang sama juga menghilangkan banyak jenis pekerjaan lama. Persaingan menjadi semakin ketat, sementara biaya hidup terus meningkat. Tekanan ekonomi kemudian merambat menjadi tekanan psikologis, dan tanpa disadari ikut memasuki ruang makan, kamar tidur, hingga percakapan sehari-hari di dalam rumah.

Di tengah situasi seperti itu, media sosial seringkali menghadirkan ilusi tentang keluarga yang tampak selalu bahagia. Linimasa dipenuhi foto liburan, rumah baru, kendaraan baru, dan senyum yang tampak sempurna. Padahal, setiap keluarga menyimpan cerita yang tidak pernah dipublikasikan. Tidak semua tawa yang terlihat di layar telepon benar-benar lahir dari hati yang tenang.

Barangkali karena itulah film ini terasa dekat dengan banyak penonton. Ia tidak menjual mimpi tentang keluarga tanpa masalah. Ia justru menunjukkan bahwa kehidupan sering dipenuhi tagihan yang jatuh tempo, pekerjaan yang belum didapat, orang tua yang semakin renta, anak-anak yang membutuhkan perhatian, dan pasangan yang sama-sama lelah. Semua itu adalah kenyataan yang dialami jutaan keluarga.

Lalu, apa yang sebenarnya menjaga sebuah keluarga tetap berdiri? Jawabannya mungkin bukan semata-mata uang, meskipun uang jelas diperlukan. Bukan pula gengsi atau status sosial. Yang menjaga keluarga tetap utuh adalah kesediaan untuk tetap saling percaya ketika keadaan sedang rapuh. Sebab kepercayaan adalah modal yang jauh lebih mahal daripada harta benda. 

Semua orang ya berharap meraih kesempurnaan. Tetapi ini dunia, ini Bumi Manusia, tempat segala ketidaksempurnaan harus dihadapi dengan cara yang paling manusiawi. Kesempurnaan hanya ada di surga, sementara kita masih hidup di bumi yang mengajarkan arti sabar, ikhlas, memaafkan, dan bertahan. Dan, sejujurnya, kita pun tidak ingin tergesa-gesa menuju ke sana, karena setiap kehidupan memiliki waktunya sendiri.

Mungkin itulah sebabnya judul film ini terasa begitu sederhana sekaligus begitu dalam: Yang Tersisa Hanya Cinta.

Sebab pada akhirnya, pekerjaan dapat hilang, harta dapat habis, rumah bisa dijual, kendaraan bisa disita, masa muda akan berlalu, wajah perlahan menua, anak-anak tumbuh dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri, dan bahkan tubuh yang selama ini kita banggakan suatu hari akan melemah dimakan usia.

Tetapi jika di tengah semua kehilangan itu masih ada dua tangan yang tetap saling menggenggam, masih ada dua hati yang memilih bertahan, dan masih ada doa yang diam-diam dipanjatkan satu sama lain, barangkali keluarga itu belum benar-benar kalah. Karena masih tersedia cinta dan cinta yang sejati bukanlah cinta yang hanya hadir ketika hidup sedang mudah. Cinta yang sejati adalah yang tetap memilih tinggal ketika segala alasan untuk pergi terasa jauh lebih banyak.

Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesar yang hendak ditinggalkan film ini kepada kita. Bahwa kebahagiaan rumah tangga bukanlah tentang hidup tanpa masalah, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap berjalan bersama, meski jalan itu penuh tanjakan. Sebab kehidupan tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang sempurna. Kehidupan hanya meminta kita tetap menjadi manusia—yang mampu mengakui kekurangan, memaafkan kesalahan, dan menjaga cinta agar tidak kalah oleh ego. 

Sebab ketika semua yang kita banggakan perlahan luruh dimakan waktu, ketika usia dan keadaan mengambil satu demi satu yang kita miliki, barangkali memang hanya satu yang benar-benar layak dipertahankan hingga akhir cerita hidup kita, yaitu cinta menjadi segala alasan kita. (Sal)

Perspektif

Scroll